Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Banyak yang menghendaki Anies Baswedan segera mati secara politik. Namun ternyata Gubernur DKI Jakarta 2012-2017 dan calon presiden 2024 itu tak mati-mati.
Menjelang Pemilihan Presiden 2024, pemerintah yang saat itu dikendalikan Presiden Joko Widodo diduga mengondisikan agar Anies mati secara politik. Antara lain melalui kriminalisasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi balap mobil listrik.
Tapi Anies ternyata sakti mandraguna. Bersama Muhaimin Iskandar, ia bisa melenggang ke Pilpres 2024, meskipun akhirnya dikalahkan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang secara terang-terangan didukung Jokowi. Namun, berhasil majunya Anies ke gelanggang pilpres sudah merupakan kemenangan tersendiri setelah ia dijegal sedemikian rupa oleh penguasa.
Pilpres 2024 usai. Cak Imin langsung direkrut oleh Prabowo sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Namun, Anies dibiarkan menjadi “gelandangan politik”, setelah tiga partai politik yang menyokongnya di Pilpres 2024 bergabung dengan pemerintah, yakni Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Anies pun tanpa jabatan apa pun di pemerintahan.
Sembilan bulan berlalu, logikanya Anies sudah mati secara politik. Tapi ternyata tidak. Ia masih “bernapas”. Bahkan masih bisa memainkan dadu politiknya.
Dalam rapat kerja nasional organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat, Ahad (13/7/2025), Anies didaulat memberikan sambutan. Kesempatan langka itu ia manfaatkan untuk menyerang pemerintah.
Katanya, sudah cukup lama Presiden RI absen di fora internasional, termasuk Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang selalu diwakili Menteri Luar Negeri. Hal itu dinilai Anies merugikan posisi Indonesia di dunia internasional. Indonesia dipandang sebelah mata.
Sontak, serangan politik Anies itu berbalas. Bukan hanya oleh relawan yang selama ini mendukung Jokowi, yakni Projo alias Pro Jokowi, melainkan juga pemerintahan Prabowo.
Wakil Ketua Umum Projo Freddy Damanik membantah Jokowi tak pernah hadir dalam fora internasional. Meski mengaku lupa menyebut momentum kehadiran Jokowi dalam Sidang Umum PBB, tapi Damanik tegas menyatakan wong Solo itu selalu hadir dalam
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, G20, G7, APEC, dan Organisasi Konferensi Islam (OKI).
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pun merespons pernyataan Anies. Katanya, kalaupun Presiden RI absen dalam fora internasional, termasuk Prabowo, itu ada alasannya.
Bantahan terhadap pernyataan Anies tak begitu penting. Yang penting, tak kurang dari seorang Mensesneg mengomentari statemen Anies. Artinya, bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu masih punya magnet politik yang cukup kuat. Anies masih punya daya getar.
Kalau tidak punya magnet dan daya getar politik, bagaimana mungkin seorang Mensesneg sampai mengomentari pernyataan Anies di forum yang tak begitu penting?
Pilpres 2029 masih lama. Tapi Prabowo dan Gibran sudah pasti hendak maju lagi, baik bersama-sama sebagai partner kembali, atau pun sendiri-sendiri sebagai rival. Sebab itu, potensi kemunculan Anies di Pilpres 2029 harus diantisipasi.
Anies harus dibunuh secara politik, baik secara perlahan atau pun cepat. Sebab, Anies bisa menjadi lawan yang tak tertandingi, terutama jika prestasi Prabowo-Gibran biasa-biasa saja. Apalagi kalau nyungsep.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
























