By Paman BED
Cermin yang Tak Pernah Usang
Pada tahun 1977, di Aula Taman Ismail Marzuki, Mochtar Lubis menyampaikan pidato yang hingga kini terasa seperti tamparan intelektual. Dalam esainya Manusia Indonesia, ia menyebut enam karakter utama manusia Indonesia: munafik, enggan bertanggung jawab, bermental feodal, percaya takhayul, berjiwa seni, dan berwatak lemah.
Provokatif? Ya.
Namun waktu belum juga berhasil membantahnya.
Hampir setengah abad berlalu. Gedung-gedung menjulang, jalan tol membentang, teknologi mempercepat citra, dan media sosial memadatkan kesan. Tetapi satu pertanyaan tetap menggantung di udara:
Apakah kita telah meninggalkan watak yang dikritik itu, atau sekadar mengganti kostumnya?
Religius di Statistik, Retak di Substansi
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan mayoritas rakyat Indonesia mengidentifikasi diri sebagai religius (BPS, 2023). Rumah ibadah berdiri megah. Perayaan keagamaan semarak. Dakwah menjelma konten viral lintas platform.
Namun Al-Qur’an memberi peringatan keras:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff: 2–3)
Rasulullah ﷺ menegaskan:
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanah ia khianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Munafik di sini bukan sekadar label teologis, melainkan penyakit moral: jarak antara kata dan perbuatan.
Dan jarak itu, hari ini, sering dipoles dengan sangat rapi.
Pejabat Superstar dan Panggung Digital
Kita hidup di era pejabat “superstar”. Ia tampil cerdas, santun, dan religius. Media sosialnya penuh pesan moral, keharmonisan keluarga, serta kunjungan simbolik ke rakyat kecil. Ia membangun rumah ibadah megah—bahkan menjadikannya ikon kota dan destinasi wisata religi.
Publik bangga.
Netizen memuja.
Namun sejarah dan data penegakan hukum menghadirkan ironi. Laporan tahunan Komisi Pemberantasan Korupsi dan catatan Indonesia Corruption Watch menunjukkan praktik korupsi tetap berulang (KPK, 2022; ICW, 2023). Sebagian pelaku sebelumnya dikenal santun, inspiratif, bahkan religius.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu… padahal ia adalah penentang yang paling keras.”
(QS. Al-Baqarah: 204)
Riya tidak selalu hadir dalam bentuk ibadah ritual. Ia bisa menjelma proyek, peresmian, bahkan kebijakan—semuanya dibungkus simbol religius.
Masalahnya bukan pada membangun rumah ibadah.
Masalahnya adalah ketika simbol dijadikan tameng moral.
Motivator yang Runtuh
Publik juga pernah mengidolakan figur motivator nasional. Seminar penuh. Buku laris. Ia berbicara tentang keluarga sakinah, manajemen hati, dan kesuksesan spiritual.
Ia tampak komplet.
Namun waktu membuka lapisan lain: konflik domestik, tuduhan kezaliman dalam rumah tangga, dan runtuhnya citra keluarga harmonis yang selama ini dijual ke publik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
(HR. Tirmidzi)
Integritas publik tak mungkin kokoh jika akhlak domestik rapuh.
Citra bisa dikelola oleh tim kreatif.
Tetapi karakter diuji di ruang yang tak berkamera.
Sejarah dan Kejujuran Kolektif
Bangsa yang besar berani menatap masa lalunya. Kajian ulang tragedi 1965 oleh John Roosa serta laporan Komnas HAM tentang Mei 1998 memperlihatkan betapa rumit dan kelamnya sejarah kita.
Namun sejarah kerap dipoles. Narasi dipilih sesuai kepentingan kekuasaan.
Yang tak nyaman disisihkan, yang aman dipelihara.
Padahal Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia mengambil pelajaran dari umat terdahulu—bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memperbaiki.
Ketika sejarah hanya dijadikan alat legitimasi, kita kehilangan guru paling jujur.
Anak Itu dan Mercusuar Pendidikan
Di tengah pidato tentang kemajuan pendidikan dan sekolah gratis berstandar nasional, datang satu kabar yang membuat dada sesak.
Seorang anak SD mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli alat tulis.
Sederhana.
Singkat.
Tragis.
Pada saat yang sama, proyek pendidikan mercusuar dibanggakan. Gedung megah diresmikan. Pita digunting. Kamera menyorot. Media sosial dipenuhi ucapan selamat.
Kita membanggakan infrastruktur pendidikan,
tetapi lupa memastikan satu anak memiliki pensil.
Al-Qur’an menegur:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)
Ayat ini bukan tentang ritual.
Ia tentang kepekaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mercusuar tidak salah.
Sekolah unggulan tidak keliru.
Yang keliru adalah ketika simbol kemajuan menutup mata terhadap celah keputusasaan paling dasar.
Seorang anak yang kehilangan harapan adalah kegagalan moral yang tak bisa ditutup dengan seremoni.
Feodalisme Modern dan Diam Kolektif
Franz Magnis-Suseno dalam Etika Jawa menjelaskan budaya feodal yang melahirkan kepatuhan semu. Hari ini, feodalisme berubah rupa: bukan lagi keraton, melainkan jejaring kuasa, algoritma, dan akses.
Kita mengkritik di ruang privat.
Memuji di ruang publik.
Diam karena takut kehilangan kedekatan.
Diam yang berulang, lama-lama menjadi budaya.
Kesimpulan: Antara Panggung dan Nurani
Kemunafikan bukan takdir bangsa.
Ia adalah kebiasaan yang dibiarkan.
Ia tumbuh ketika:
pencitraan lebih dihargai daripada kejujuran,
simbol lebih dipuja daripada substansi,
statistik lebih dibanggakan daripada nasib satu anak kecil.
Bangunan bisa berdiri dalam dua tahun.
Citra bisa dibangun dalam dua bulan.
Tetapi karakter dibentuk seumur hidup.
Dan karakter itulah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Saran: Jalan yang Tidak Instan
Kembalikan agama pada akhlak, bukan pada ornamen visual.
Perkuat transparansi dan akuntabilitas publik agar amanah tak mudah dikhianati.
Utamakan kebijakan yang menyentuh lapisan paling bawah, bukan sekadar proyek prestisius.
Bangun budaya kritik yang sehat tanpa takut kehilangan akses kekuasaan.
Mulai dari diri sendiri, perubahan sosial selalu berawal dari reformasi personal.
Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Maka pertanyaan paling jujur bukan lagi:
“Apakah bangsa ini munafik?”
Melainkan:
“Sudahkah saya selaras antara kata dan perbuatan?”
Wallāhu a‘lam.
Daftar Referensi * Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Keagamaan Indonesia. * Komisi Pemberantasan Korupsi. (2022). Laporan Tahunan KPK. * Indonesia Corruption Watch. (2023). Catatan Akhir Tahun Korupsi Indonesia 2023. * Komnas HAM. (2003). Laporan Penyelidikan Pelanggaran HAM Berat Mei 1998. * Mochtar Lubis. (1977). Manusia Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. * Franz Magnis-Suseno. (1997). Etika Jawa. Gramedia. * John Roosa. (2006). Pretext for Mass Murder. University of Wisconsin Press. * Robert W. Hefner. (2000). Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton University Press.
By Paman BED




















