• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

CLOSURE POLITIK PLATONIK

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
September 5, 2025
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Politik platonik adalah politik yang berangkat dari gagasan, idealisme, atau retorika—bukan dari materialitas kekuasaan itu sendiri. Ia adalah wilayah “cinta platonik” dalam politik: gagasan besar yang tidak pernah sepenuhnya menyentuh realitas, tetapi terus memberi ilusi kedekatan dengan yang nyata. Normalnya, politik platonik menemukan closure—titik penutupannya—di kotak suara atau di lembaga politik: parlemen, pengadilan, atau sidang-sidang resmi negara. Namun sejarah Indonesia berulang kali menunjukkan bahwa closure politik platonik lebih sering terjadi di jalanan. Jalanan menjadi arena koreksi ketika lembaga politik kehilangan fungsinya, ketika institusi negara tak lagi mampu menyelesaikan kontradiksi.

Di Indonesia, closure politik platonik sering berwujud amok: ledakan kolektif rakyat dan mahasiswa yang marah, frustrasi, dan kehilangan saluran representasi. Amok bukan sekadar unjuk rasa. Ia adalah koreksi yang brutal, penuh darah dan air mata, tapi sekaligus menjadi panggung perebutan elite.

Amok dan Elite

Tahun 1966, 1974, 1978, 1998, adalah momen dalam sejarah politik Indonesia yang menunjukkan closure politik platonik melalui amok.

1966: Mahasiswa bergerak dengan jargon “Tritura”—tiga tuntutan rakyat: bubarkan PKI, turunkan harga, dan rombak kabinet. Jalanan Jakarta menjadi pusat benturan. Tapi pada akhirnya, amok ini adalah panggung perebutan antara Soekarno dan Soeharto. Mahasiswa, intelektual, bahkan rakyat yang memenuhi jalan, hanyalah instrumen yang memberi legitimasi pada peralihan kekuasaan. Setelah Soeharto menang, aspirasi mahasiswa pun dilupakan.

1974: Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Mahasiswa mengusung isu kedaulatan ekonomi, menolak modal asing Jepang. Jalanan Jakarta kembali terbakar. Tetapi substansi Malari segera dipinggirkan, karena sesungguhnya amok ini adalah hasil benturan elite antara kelompok teknokrat Orde Baru yang pro-Jepang dan kelompok nasionalis-militer yang resisten. Setelah darah tumpah, Soeharto menertibkan politik dengan lebih keras.

1978: Mahasiswa kembali bergerak menolak Soeharto yang terus memperpanjang kekuasaan. Kampus dikepung tentara, mahasiswa digebuki. Tetapi lagi-lagi, amok ini bukanlah tentang mahasiswa semata: ia adalah refleksi pertarungan dalam tubuh militer dan elite politik tentang bagaimana mengelola stabilitas Orde Baru. Setelah mahasiswa dipukul mundur, Soeharto mengukuhkan hegemoninya.

1998: Reformasi. Mahasiswa turun ke jalan dengan tuntutan reformasi total: turunkan harga, bersihkan KKN, turunkan Soeharto. Puluhan mahasiswa mati, ratusan luka, ribuan rakyat menderita. Namun di balik itu semua, pertarungan elite berlangsung sengit: militer terbelah, pengusaha berupaya menyelamatkan diri, teknokrat mencari pijakan baru. Soeharto jatuh, Habibie naik, dan sistem politik berganti wajah. Tetapi setelah itu, demokrasi kita dengan cepat diserap oleh logika oligarki. Aspirasi mahasiswa yang berdarah-darah hanya sebagian kecil terwujud.

Amok 2025: Pertarungan Prabowo vs Jokowi?

Kini, tahun 2025, amok kembali hadir. Kerusuhan yang merebak sejak akhir Agustus adalah tanda bahwa closure politik platonik sedang berlangsung. Publik percaya bahwa hubungan Prabowo-Jokowi adalah hubungan platonik: penuh retorika kesetiaan, tapi terbelah oleh visi yang bertolak belakang.

Jokowi, dengan seluruh jejaring oligarkis dan kleptokratisnya, melambangkan kontinuitas dari rezim uang. Sementara Prabowo, meski penuh kontradiksi, masih membawa citra sebagai politisi yang tidak pernah berhenti berteriak tentang pemberantasan korupsi. Publik melihat jurang antara keduanya begitu dalam: seperti bumi dan langit. Maka muncul keyakinan bahwa cepat atau lambat, retakan itu akan pecah. Pertanyaan publik kini: apakah pecahnya retakan itu adalah momen hari ini, ketika rakyat dan mahasiswa bersatu menuntut perubahan?

Closure atau Ilusi?

Closure politik platonik 2025 bisa mengambil dua bentuk:

Pertama, closure yang hanya menguntungkan salah satu pihak elite. Jika Prabowo berhasil menjauh dari Jokowi dengan memanfaatkan amok, maka ia akan keluar sebagai pemenang. Tetapi sebagaimana pola historis, setelah ia menang, rakyat yang turun ke jalan akan dilupakan. Aspirasi mahasiswa yang menumpahkan darah hanya akan menjadi catatan kaki.

Kedua, closure yang menjadi momentum kebangkitan publik. Ini adalah skenario langka: di mana amok bukan hanya instrumen elite, tetapi benar-benar menghasilkan distribusi kekuasaan baru yang memberi ruang lebih besar bagi masyarakat sipil, mahasiswa, dan rakyat untuk mengontrol jalannya pemerintahan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Agar Amok 2025 tidak sekadar menguntungkan satu pihak elite, perlu ada langkah-langkah strategis:

  1. Institusionalisasi Aspirasi: Gerakan mahasiswa dan rakyat harus segera membangun kanal politik yang berkelanjutan. Tanpa itu, energi amok akan menguap begitu saja.

  2. Membangun Narasi Publik: Jangan biarkan narasi dikuasai oleh elite. Aspirasi rakyat harus dijaga dalam wacana, ditulis, diingatkan, dipublikasikan, agar tidak bisa dihapus setelah kekuasaan berganti.

  3. Aliansi Sosial yang Luas: Mahasiswa, buruh, petani, intelektual, dan masyarakat sipil harus bersatu. Bukan untuk menjadi instrumen elite, tetapi untuk menuntut reformasi institusional: penegakan hukum, pembatasan kekuasaan presiden, pemberantasan korupsi yang sistemik.

  4. Kemandirian Gerakan: Gerakan rakyat harus berani mandiri, tidak menempel kepada satu figur elite. Hanya dengan begitu closure kali ini bisa berbeda dari sejarah sebelumnya.

Penutup: Antara Jalanan dan Lembaga

Closure politik platonik di Indonesia jarang terjadi di kotak suara atau di lembaga politik. Sejarah menegaskan: ia selalu diakhiri dengan amok berdarah di jalanan. 1966, 1974, 1978, 1998, semuanya mengulang pola yang sama.

Pertanyaan terbesar kini: apakah 2025 akan sekadar mengulang pola itu? Ataukah kali ini rakyat mampu memastikan bahwa darah dan air mata tidak hanya menjadi modal bagi kemenangan elite, melainkan juga pijakan untuk perubahan yang nyata?

Closure politik platonik bisa berakhir dengan siapa menang, tetapi bisa juga berakhir dengan siapa berdaulat. Jika sejarah hendak ditulis ulang, maka saat inilah waktunya.===

Cimahi, 5 September 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bayangan Jokowi di Balik Kasus Nadiem Makarim

Next Post

Gudang Penuh, Gabah Bisa Busuk: Ujian Serius untuk Bulog

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?
News

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus
Birokrasi

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Next Post
REBUTAN GABAH

Gudang Penuh, Gabah Bisa Busuk: Ujian Serius untuk Bulog

Yaqut Qoumas, Menteri Agama yang Menistakan Amanah Haji

Maulid Nabi dan Pandemik Korupsi di Indonesia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...