Fusilatnews – Netanyahu menyatakan kepada “Mike”—yang merujuk pada Mike Johnson, Ketua DPR Amerika Serikat dan salah satu figur politik paling vokal dalam mendukung Israel—bahwa perang yang sedang dijalankan Israel hari ini ia samakan dengan “Perang Makabe”. Rujukan ini bukan sekadar sejarah, melainkan upaya membingkai konflik modern sebagai kelanjutan dari pemberontakan Yahudi abad ke-2 SM melawan Kekaisaran Seleukia, yang dalam ingatan kolektif Yahudi dipahami sebagai perjuangan suci demi kelangsungan iman dan identitas.
Dengan analogi tersebut, Netanyahu menempatkan perang saat ini sebagai pertarungan eksistensial antara hidup dan mati, bukan konflik politik yang memiliki konteks kolonial, hukum internasional, dan relasi kekuasaan yang timpang. Posisi Israel dipresentasikan sebagai pihak yang “bertahan hidup”, meskipun secara nyata ia adalah negara dengan keunggulan militer mutlak dan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Pidato ini kemudian melangkah lebih jauh dengan mengklaim bahwa perang tersebut bukan hanya perang Israel, melainkan “perang peradaban”. Netanyahu menegaskan bahwa peradaban modern—yang ia sebut berakar pada tradisi Yudeo-Kristen—tidak akan pernah ada tanpa Yudaisme. Dari klaim ini, ia menarik garis lurus menuju lahirnya lembaga akademik, Amerika Serikat, dan apa yang ia definisikan sebagai peradaban kebebasan.
Melalui konstruksi ideologis tersebut, operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, bahkan ancaman terhadap Iran, dibingkai sebagai misi global untuk melindungi peradaban dari “kaum barbar”. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan musuh secara menyeluruh dan tidak manusiawi, meniadakan perbedaan antara kombatan dan warga sipil, serta menghapus kompleksitas sejarah dan penderitaan rakyat Palestina.
Peristiwa 7 Oktober dijadikan fondasi moral untuk narasi ini: satu peristiwa kekerasan dijadikan legitimasi bagi kekerasan lanjutan yang diklaim bersifat preventif dan absolut. Netanyahu bahkan memperluas ancaman tersebut ke komunitas Yahudi di Amerika Serikat dan negara-negara lain, sehingga konflik regional dikonstruksikan sebagai perang global antara “kita” dan “mereka”.
Pidato ini ditutup dengan klaim kemenangan total: jika Israel menang di satu tempat, maka peradaban diklaim akan menang di seluruh dunia. Klaim ini menegaskan logika biner yang berbahaya—bahwa siapa pun yang mempertanyakan perang, secara implisit ditempatkan di luar peradaban itu sendiri.
























