• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Diam: Jalan Menuju Distopia

fusilat by fusilat
July 21, 2025
in Feature
0
Diam: Jalan Menuju Distopia
Share on FacebookShare on Twitter

~ Nazaruddin ~

Dalam derasnya arus informasi, riuhnya media sosial, dan kebisingan politik yang tak kunjung reda, kita justru semakin sering menjumpai satu sikap yang sunyi: diam. Ia terlihat sederhana, bahkan kerap disebut sebagai kebijaksanaan. Namun dalam lanskap sosial-politik yang timpang, diam bukanlah kebajikan netral. Ia bisa jadi isyarat ketundukan, ketakutan yang dilembagakan, atau lebih jauh: hasil dari rekayasa sistemik menuju pembungkaman kolektif. Dalam masyarakat yang menuju distopia—yakni tatanan yang dipenuhi kontrol total, pembatasan berpikir, dan penghapusan kebebasan—diam adalah suara yang hilang, atau tepatnya, suara yang dipadamkan.

Michel Foucault menyatakan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja dengan kekerasan, tetapi melalui kontrol wacana: menentukan apa yang bisa dikatakan dan apa yang harus didiamkan. Ketika masyarakat berhenti berbicara—bukan karena tak tahu, melainkan karena takut atau terbiasa diam—maka kekuasaan bekerja dengan sunyi, namun efektif. Diam bukanlah kekosongan, tetapi sikap yang telah dilatih untuk tidak menggugat, tidak bersuara, dan tidak menyentuh apa yang dianggap tabu. Dalam situasi ini, diam menjadi semacam partisipasi pasif yang secara tidak sadar memperkuat status quo yang menindas.

Gambaran ini tidak asing dalam fiksi-fiksi distopia seperti 1984 karya George Orwell atau Brave New World karya Aldous Huxley. Dalam dua novel tersebut, masyarakat diajarkan untuk diam, tidak berpikir kritis, dan menerima kebohongan sebagai kebenaran. Rezim tidak perlu membungkam karena rakyat telah membungkam dirinya sendiri. Ini adalah bentuk penjinakan yang sangat halus: masyarakat dibuat jinak oleh rutinitas, disibukkan oleh hal-hal remeh, dan dilatih untuk tidak terganggu oleh penderitaan orang lain.

Fenomena ini menemukan gaungnya dalam realitas Indonesia hari ini. Tidak sedikit yang memilih diam karena trauma masa lalu, takut distigma sebagai “radikal” atau “anti-NKRI”, atau karena tidak percaya lagi bahwa suara bisa mengubah keadaan. Diam menjadi strategi bertahan hidup sekaligus pertanda mundurnya keberanian kolektif. Masyarakat dibiasakan untuk tidak reaktif, tidak kritis, dan akhirnya tidak peduli.

Islam memandang diam yang pasif dan tak melahirkan amal sebagai tanda lemahnya iman. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa diam terhadap keburukan bukanlah sikap spiritual yang netral, melainkan indikasi surutnya ruh iman. Diam membuka jalan bagi normalisasi dosa dan kekeliruan, melemahkan nalar kolektif, dan merusak keberanian moral umat.

Maka, dalam masyarakat distopia, diam bukan lagi bentuk keheningan yang menenangkan. Ia adalah kebisuan yang mematikan. Ia adalah bentuk lain dari kepatuhan tanpa kesadaran. Karena itu, tantangan zaman ini bukan hanya melawan suara-suara kebohongan, tetapi juga menghidupkan kembali keberanian untuk bersuara, untuk tidak diam. Sebab hanya dengan itu, kita bisa menghindari keterjerembaban ke dalam dunia yang kehilangan nurani—sebuah dunia distopia yang tenang, tapi tanpa jiwa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tata Duduk dalam Budaya Jepang: Cermin Hirarki dan Etiket Sosial

Next Post

Tragedi di Pernikahan Anak Dedi Mulyadi: 30 Korban Tercatat

fusilat

fusilat

Related Posts

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Feature

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Next Post
Tragedi di Pernikahan Anak Dedi Mulyadi:  30 Korban Tercatat

Tragedi di Pernikahan Anak Dedi Mulyadi: 30 Korban Tercatat

Ketika yang Disebut “Bau Tanah” – Kini Membentuk Barisan

Ketika yang Disebut “Bau Tanah” - Kini Membentuk Barisan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

by Karyudi Sutajah Putra
April 22, 2026
0

Jakarta - Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda,...

Read more
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...