Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Kalau harus memilih, pilih berteman dengan bekas preman atau bekas kiai?
Kalau saya memilih bekas preman daripada bekas kiai. Sebab, bekas preman berarti dia bukan preman lagi. Bila preman berkonotasi jahat, berarti setelah menjadi bekas preman dia tidak jahat lagi.
Sebaliknya bekas kiai. Bekas kiai berarti dia bukan kiai lagi. Bila kiai berkonotasi baik, berarti setelah menjadi bekas kiai, dia tidak baik lagi.
Lalu, Rosario de Marshal, yang kini sedang membetot perhatian publik, dia bekas preman ataukah masih menjadi preman?
Jika sudah menjadi bekas preman, tentu tak ada alasan bagi siapa pun untuk alergi kepada orang kuat yang mendapat julukan Hercules itu. Sebaliknya, jika masih menjadi preman, tentu patut kita timbang-timbang. Meskipun kata preman itu sendiri maknanya netral.
Diketahui, kata preman berasal dari kata dalam bahasa Inggris, “freeman” yang berarti manusia bebas.
Ihwal penyebab Hercules membetot perhatian publik, adalah, pertama karena ia bertamu ke kediaman Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, beberapa hari lalu. Usai bertemu Presiden ke-7 RI itu, Hercules memberikan testimoni semacam legitimasi bahwa ijazah sarjana Jokowi yang sedang dipersoalkan itu adalah asli, bukan palsu.
Kunjungan Hercules ke kediaman pribadi Jokowi itu memantik polemik publik. Misalnya, bagaimana bisa bekas presiden berteman dengan bekas preman atau bahkan seorang preman?
Kedua, saat sejumlah prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berseragam lengkap berfoto bersama lelaki asal Dili, Timor Leste, dulu Timor Timur, itu. Foto bersama ini pun menuai kritik dari publik. Misalnya, bagaimana bisa prajurit Kopassus mengidolakan bekas preman atau bahkan preman? Saat berfoto bersama, para prajurit itu berseragam lengkap pula.
Komandan Kopassus Mayor Jenderal TNI Djon Afriandi akhirnya minta maaf kepada publik dan juga keluarga besar Kopassus atas kelakuan oknum-oknum anak buahnya itu. Terhadap mereka pun akan dilakukan pembinaan khusus.
Bukan Orang Sembarangan
Rosario de Marshal itu sendiri bukanlah orang sembarangan. Meskipun tubuhnya kerempeng, dia mampu memanggul karung seberat 100 kilogram, misalnya. Itulah yang membuat para prajurit Kopassus di Timor Timur tahun 1975 lalu kagum, sehingga komandannya memberikan julukan Hercules kepadanya.
Hercules itu sendiri sebenarnya nama tokoh legendaris dalam mitologi Yunani. Nama itu kemudian digunakan Amerika Serikat untuk menamai pesawat buatannya yang juga dijual ke Indonesia.
Ya, Lockheed C-130 Hercules adalah nama pesawat angkut militer bermesin empat turboprop yang serbaguna. Selain digunakan untuk mengangkut pasukan dan kargo, Hercules juga memiliki varian lain.
Varian tersebut di antaranya AC-130 untuk pesawat tempur, pencarian dan penyelamatan, pengisian bahan bakar udara, hingga pemadam kebakaran. Ada lebih dari 40 varian pesawat ini, termasuk versi sipil yang disebut Lockheed L-100.
Bersahabat dengan Prabowo
Saat Kopassus bertempur di Timor Timur melawan Fretilin dan milisi lainnya tahun 1975 di bawah komandan Prabowo Subianto, Hercules banyak membantu logistik. Bahkan Hercules disebut-sebut pernah menyelamatkan nyawa perwira yang kelak menjadi Presiden RI itu. Sejak itu, persahabatan Hercules dan Prabowo terjalin erat.
Hercules adalah tokoh pro-integrasi Timor Timur ke Indonesia. Sayangnya, dalam jajak pendapat tahun 1999, kubu pro-integrasi kalah melawan kubu pro-kemerdekaan yang dimotori Ramos Horta dan Xanana Gusmao. Timor Timur pun lepas dari pangkuan Indonesia dan berubah nama menjadi Timor Leste.
Saat ikut gerilya di hutan-hutan di Timor Timur, Hercules disebut mengalami kecelakaan Helikopter yang menyebabkan sebelah tangannya patah, dan sebelah matanya pun buta.
Oleh Kopassus, Hercules dibawa ke Jakarta tahun 1987 dengan tujuan bekerja di bidang elektronik. Namun, Hercules lebih memilih berjualan rokok di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Sering dipalak preman, Hercules pun melawan. Ia bahkan mempersenjatai diri dengan sebilah samurai. Saat mandi pun samurai itu dibawa guna melindungi diri.
Waktu terus berlalu. Kondisi berbalik. Hercules yang semula sering dipalak preman, kini giliran menjadi preman. Bersama ratusan pemuda asal Timor Timur lainnya, Hercules menguasai wilayah Tanah Abang.
Namun, Hercules bukan tak pernah terkalahkan. Pada 1997, misalnya, kelompoknya bentrok dengan gabungan kelompok Betawi dan Madura di Tanah Abang. Kelompok Hercules kalah. Empat anak buahnya mati sia-sia.
Hercules kemudian menyingkir ke Indramayu, Jawa Barat. Di kampung halaman istrinya itu, ia sambil mengendalikan bisnis keamanannya di Jakarta.
Sampai akhirnya Hercules kembali ke Jakarta dan kemudian mendirikan ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya tahun 2011 di mana Prabowo Subianto tercatat sebagai Ketua Dewan Pembina.
Di sinilah kedekatan psikologis prajurit Kopassus dengan Hercules menemukan relevansinya. Sebab, Kopassus banyak dibantu Hercules saat melakukan gerilya di Timor Timur tahun 1975-an. Masuk akal bila kemudian ada prajurit Kopassus yang berfoto bersama Hercules. Itu aksi spontan saja.
Namun, belakangan GRIB Jaya terlibat kisruh dengan kelompok lainnya, sebut saja Pemuda Pancasila (PP). Oknum-oknum kedua ormas ini bentrok di Blora, Jawa Tengah, dan Bandung, Jawa Barat, misalnya.
Hercules selaku Ketua Umum GRIB Jaya kemudian bertemu Ketua Umum PP Japto Soerjosoemarno. Masalah kedua ormas ini pun dianggap selesai.
Oknum-oknum GRIB Jaya kemudian berulah lagi di Depok, Jawa Barat. Mereka membakar mobil patroli polisi saat hendak menangkap seorang anggota ormas itu yang menjadi tersangka suatu kasus. Kini, oknum-oknum itu telah ditahan.
Setelah menuai polemik, Prabowo Subianto kemudian menyatakan keluar dari GRIB Jaya. Surat pernyataan keluar itu bertarikh akhir Januari 2022.
Di Pilpres 2014 dan 2019, GRIB Jaya mendukung Prabowo. Namun calon presiden itu kalah. Di Pilpres 2024, GRIB Jaya kembali mendukung Prabowo dan kali ini menang.
Mengapa Alergi?
Mengapa publik seperti alergi terhadap Hercules? Mungkin mereka menganggap Hercules sebagai preman. Atau bekas preman yang kelihatannya masih menakutkan.
Padahal, di negeri ini sudah banyak preman. Bahkan preman berdasi. Preman kerah putih atau white collar freeman. Indonesia pun kadang disebut sebagai negeri preman.
Hercules dan Japto menjadi pemimpin informal yang tumbuh di lapangan berdasarkan seleksi alam. Tanpa seleksi administrasi. Siapa yang kuat, dialah yang menang. Yang berlaku hukum rimba: homo homini lupus.
Sementara preman berdasi tumbuh subur di lingkungan eksekutif, legislatif, yudikatif, partai politik dan dunia usaha.
Jika korban yang ditimbulkan akibat aksi preman biasa hanya nyawa dan harta benda yang tak seberapa, korban yang ditimbulkan akibat aksi preman berdasi bisa nyawa dan harta benda ratusan triliun rupiah. Kasus korupsi tata kelola timah dan makelar kasus di Mahkamah Agung, misalnya.
Mereka yang korupsi di eksekutif, legislatif, yudikatif, parpol dan dunia usaha adalah preman yang lebih berbahaya. Mereka membegal kebijakan dan merampok anggaran negara. Kemiskinan dan pengangguran yang bisa berujung pada kematian dan kriminalitas pun timbul karenanya.
Jadi, masuk akal jika kemudian tak sedikit elite pemimpin yang bersahabat dengan Hercules atau Japto yang dikonotasikan sebagai bekas preman atau bahkan preman. Termasuk Jokowi dan Prabowo. Jenis mencari jenis, kata pepatah Tiongkok.
Pun, berlaku hukum pasar “supply and demand”. Ada penawaran karena ada permintaan.
Banyak pengusaha, pejabat atau elite politik membutuhkan jasa preman untuk pengamanan aset. Misalnya untuk menjaga tanah kosong atau objek sengketa. Jika dijaga petugas resmi dari Polri atau TNI, bisa saja melanggar aturan. Akhirnya preman tampil ke depan.
Ada Sisi Baiknya
Ormas-ormas yang mengakomodasi preman seperti GRIB Jaya dan PP juga ada sisi baiknya. Bagi preman sendiri, ormas itu dapat mencarikan pekerjaan informal ketika mereka tak bisa bekerja di sektor formal.
Bagi pemerintah, akan lebih mudah melakukan pembinaan terhadap preman jika mereka ikut ormas. Mereka juga lebih mudah dikontrol. Ini analog dengan keberadaan lokalisasi bagi Pekerja Seks Komersial (PSK). Mereka lebih mudah dibina dan dikontrol jika berada di lokalisasi daripada di jalanan.
Sebab itu, kalau memang ada perilaku negatif atau bahkan pelanggaran pidana yang dilakukan oknum anggota ormas, jangan ormasnya yang dibubarkan, tapi cukuplah oknum anggota bersangkutan yang diambil tindakan.
Jika ada tikus di lumbung padi, jangan lumbungnya yang dibakar, tapi cukup tikusnya yang ditangkap.
Janganlah terlalu takut dan alergi kepada preman biasa. Tapi takut dan alergilah kepada preman berdasi. White collar freeman.


























