• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

Jangan Risau Berjuang Sendiri Jika Melawan Kedzaliman

Ali Syarief by Ali Syarief
February 3, 2026
in Cross Cultural, Feature, Tokoh/Figur
0
Jangan Risau Berjuang Sendiri Jika Melawan Kedzaliman
Share on FacebookShare on Twitter

Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang aman. Ia ditulis oleh orang-orang yang, pada satu titik paling sunyi dalam hidupnya, memilih berdiri sendirian melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya: kekuasaan, kebiasaan, ketakutan kolektif, dan kedzaliman yang telah dianggap wajar.

Hampir tidak ada perubahan besar dalam peradaban manusia yang dimulai dari kerumunan. Ia selalu berawal dari satu suara yang berbeda, satu sikap yang menolak tunduk, satu nurani yang menolak diam. Kesendirian, dalam konteks perjuangan melawan kedzaliman, bukanlah aib. Ia justru sering menjadi tanda bahwa seseorang sedang berada di jalur yang benar.

Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya nyaris tanpa siapa-siapa. Di tengah masyarakat Quraisy yang mapan dengan sistem ekonomi, sosial, dan religius yang menguntungkan elite, risalah tauhid dianggap ancaman. Ia dicemooh, difitnah, diboikot, bahkan direncanakan untuk dibunuh. Pada fase awal, mayoritas justru berada di pihak penindas. Namun waktu membuktikan: kebenaran tidak memerlukan persetujuan massa untuk tetap benar. Ia hanya membutuhkan konsistensi.

Lebih jauh ke belakang, Nabi Ibrahim AS berdiri sendirian melawan ayahnya, rajanya, dan seluruh masyarakatnya. Ia mempertanyakan sesuatu yang selama ini diterima tanpa kritik: penyembahan berhala. Akibatnya bukan dialog akademik, melainkan hukuman bakar. Ibrahim tidak menang secara politik saat itu, tetapi ia menang secara moral. Dan kemenangan moral sering kali menjadi fondasi bagi kemenangan sejarah.

Kesendirian para pejuang bukanlah karena mereka anti-sosial, melainkan karena masyarakat sering kali lebih mencintai kenyamanan daripada keadilan. Kedzaliman jarang berdiri sendiri; ia selalu didukung oleh sistem, oleh kepentingan, oleh ketakutan kolektif. Karena itu, orang yang melawannya hampir pasti tampak minoritas di awal.

Imam Ruhollah Khomeini adalah contoh modern dari pola yang sama. Di saat Shah Iran memegang kekuasaan penuh dengan dukungan militer dan Barat, Khomeini hidup dalam pengasingan. Ia tidak memiliki tank, tidak punya partai besar, bahkan tidak punya media massa. Yang ia miliki hanyalah kata-kata dan keyakinan. Namun dari kaset-kaset khutbah yang diselundupkan, lahirlah sebuah revolusi. Kekuasaan yang tampak kokoh runtuh oleh gagasan yang tampak sepele. Kedzaliman sering kalah bukan oleh senjata, melainkan oleh keberanian berpikir.

Nelson Mandela juga menjalani kesendirian yang panjang dan kejam. Dua puluh tujuh tahun penjara bukan sekadar hukuman fisik, tetapi upaya sistematis untuk mematahkan keyakinan. Ia dicap teroris, pengacau, ancaman stabilitas. Bahkan negara-negara yang kemudian memujinya pernah menganggapnya musuh. Namun Mandela membuktikan bahwa melawan kedzaliman tidak harus melahirkan kebencian baru. Ketika ia keluar dari penjara, ia tidak membawa dendam, tetapi visi rekonsiliasi. Ia menang bukan hanya karena mengalahkan apartheid, tetapi karena menolak menjadi cermin dari penindasnya.

Eva Perón—Evita—menunjukkan bahwa kesendirian juga dialami oleh mereka yang memilih berpihak kepada kaum lemah di tengah kekuasaan. Ia bukan jenderal, bukan ideolog besar, bukan aristokrat. Ia perempuan dari latar belakang sederhana yang berani berdiri di sisi buruh dan orang miskin Argentina. Akibatnya, ia dibenci elite, difitnah, dan dilecehkan. Namun cintanya kepada rakyat tidak memerlukan legitimasi oligarki. Ia mungkin sendirian di lingkar kekuasaan, tetapi tidak sendirian di hati mereka yang tertindas.

Mahatma Gandhi, dengan tubuh ringkih dan strategi tanpa kekerasan, menantang Imperium Inggris yang menguasai setengah dunia. Ia berkali-kali dipenjara, diejek, bahkan tidak selalu didukung oleh bangsanya sendiri. Namun ia memahami sesuatu yang sering dilupakan penguasa: kekuasaan bertahan karena kepatuhan, dan kepatuhan bisa ditarik kembali. Dalam kesendirian moralnya, Gandhi mengajarkan bahwa keberanian menahan diri kadang lebih revolusioner daripada keberanian menyerang.

Martin Luther King Jr. mengalami hal serupa. Ia berbicara tentang kesetaraan di negara yang secara sistematis memproduksi diskriminasi. Ia disadap, diancam, dicap pembuat onar. Ia dibunuh sebelum melihat sepenuhnya hasil perjuangannya. Tetapi kematiannya justru menelanjangi wajah asli kedzaliman: takut pada suara yang jujur.

Benang merah dari semua tokoh ini jelas: mereka tidak menunggu mayoritas untuk bertindak. Mereka tidak menunggu situasi aman. Mereka bergerak justru ketika situasi tidak aman, ketika berdiri sendirian berarti kehilangan kenyamanan, reputasi, bahkan nyawa. Mereka paham bahwa sejarah tidak pernah netral; ia berpihak kepada mereka yang berani mengambil risiko moral.

Di sinilah letak kekeliruan terbesar masyarakat modern: mengira bahwa kebenaran selalu datang bersama angka, survei, atau dukungan mayoritas. Padahal, mayoritas sering kali hanyalah refleksi dari rasa takut yang terorganisir. Ketika kedzaliman menjadi sistemik, diam menjadi norma, dan keberanian menjadi anomali.

Maka jangan heran jika orang yang melawan kedzaliman sering disebut radikal, pembenci, perusak stabilitas, atau pengganggu harmoni. Label adalah senjata paling murah bagi kekuasaan. Ia tidak memerlukan argumen, cukup repetisi. Namun sejarah selalu memiliki kebiasaan yang sama: ia membongkar label-label itu di kemudian hari, meski sering terlambat untuk menyelamatkan korbannya.

Berjuang sendirian bukan berarti anti-dialog. Ia berarti menolak berkompromi dengan kebohongan. Ia berarti bersedia membayar harga kejujuran di saat harga itu terlalu mahal bagi kebanyakan orang. Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi tokoh sejarah, tetapi setiap zaman membutuhkan orang-orang yang bersedia berkata “tidak” ketika mayoritas berkata “ya” demi kenyamanan.

Karena itu, jika hari ini seseorang memilih melawan kedzaliman—dalam bentuk apa pun—dan merasa sendirian, jangan risau. Kesendirian itu bukan pertanda kegagalan. Ia sering kali adalah fase awal dari perubahan. Yang patut dirisaukan justru sebaliknya: berada dalam kerumunan yang salah, bersorak untuk sesuatu yang kelak akan disesali.

Sejarah tidak selalu adil kepada para pejuang pada masanya. Tetapi ia hampir selalu jujur pada akhirnya. Dan di hadapan kejujuran sejarah itulah, kedzaliman—sekuat apa pun—selalu tampak kecil.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Whoose Kereta Cepat Produk China Dipamerkan Indonesia dengan Biaya Sendiri Yg Mahal

Next Post

Overdosis Pernyataan Hukum: Ketika Narasi Panggung Mengalahkan Logika KUHAP

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Next Post
Overdosis Pernyataan Hukum: Ketika Narasi Panggung Mengalahkan Logika KUHAP

Overdosis Pernyataan Hukum: Ketika Narasi Panggung Mengalahkan Logika KUHAP

Jangan Senang Dulu – Itu Gula-Gula Prabowo

Prabowo dan Politik yang Belajar Berdamai dengan Ingatannya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...