• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Ketika Kompetensi Kalah oleh Koneksi: Benang Merah Pejabat Inkompeten

fusilat by fusilat
September 18, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Publik kerap disuguhi tontonan ironis: individu dengan latar belakang tak relevan, rekam jejak minim, bahkan kompetensi dan pendidikannya diragukan, justru bisa menduduki kursi strategis pemerintahan. Jika dulu pejabat dungu dianggap anomali, kini fenomena itu seolah menjelma standar baru.

Akar persoalannya jelas bukan tunggal. Ia lahir dari politik transaksional, budaya balas budi, serta hilangnya meritokrasi. Sebuah lingkaran setan yang mengawinkan kekuasaan, loyalitas, dan kepentingan kelompok.


Politik Transaksional dan Budaya Balas Budi

Jabatan publik sering kali dijadikan komoditas politik untuk membayar jasa kelompok yang berjasa memenangkan kontestasi. Loyalitas dan kedekatan lebih diutamakan ketimbang kapasitas.

Contohnya mudah ditemukan. Menteri Koperasi dan UKM—alih-alih sosok dengan rekam jejak ekonomi kerakyatan—justru diisi mantan relawan politik. Bagaimana ia bisa memahami problem teknis koperasi dan UMKM, yang notabene tulang punggung ekonomi rakyat?

Begitu pula Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, lebih dikenal lewat gaya hidup glamor ketimbang visi strategis. Anak buahnya sendiri menyebut kerja sang menteri sebatas jalan-jalan dan promosi tanpa arah. Menteri Kehutanan pun ditunjuk bukan karena rekam jejak pengelolaan hutan, melainkan karena kedekatannya dengan keluarga mantan presiden.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman akrab dengan lingkaran taipan properti, tapi kementeriannya disebut “belum kerja apa-apa” oleh wakilnya sendiri. Menteri Desa tak kunjung membuat terobosan berarti, padahal ketimpangan desa-kota makin melebar. Menteri Sosial duduk di kursi karena statusnya sebagai Sekjen ormas besar, bukan kapasitas pribadi. Sedangkan Menteri Hukum dan HAM lebih dikenal karena pernyataan kontroversialnya.


Minim Transparansi, Hilangnya Meritokrasi

Di banyak negara, pejabat publik diuji lewat rekam jejak, asesmen, hingga uji publik. Di Indonesia, penunjukan lebih sering hasil lobi, hadiah bagi kerabat, relawan, atau kolega bisnis.

Akibatnya, kementerian dipimpin orang yang masuk tanpa bekal memadai. Rakyat pun harus menanggung risiko kebijakan yang asal-asalan.

Lihat misalnya Menteri Dalam Negeri, yang lebih sibuk membuat kebijakan kontroversial—seperti menyerahkan empat pulau milik Aceh kepada Sumatra Utara dan menekan daerah untuk menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan—ketimbang memperkuat tata kelola pemerintahan daerah. Menteri ESDM bolak-balik disorot karena kebijakan energi yang inkonsisten, sarat tarik-menarik kepentingan tambang. Sementara Menteri ATR/BPN lebih rajin melontarkan pernyataan kontroversial daripada menunjukkan pemahaman mendalam atas tupoksinya.

Belum lagi soal Wakil Menteri yang jumlahnya kian membengkak. Apa fungsi mereka selain menambah beban APBN?


Akuntabilitas yang Menguap

Fenomena pejabat inkompeten menegaskan lemahnya akuntabilitas. Kritik publik dan media kerap dianggap angin lalu. DPR yang seharusnya menjalankan fungsi pengawasan justru tenggelam dalam diam. Publik seolah harus menunggu perlawanan besar-besaran—seperti di Nepal—baru kritiknya digubris.


Menolak Normalisasi Inkompetensi

Penunjukan pejabat inkompeten bukan sekadar isu teknis. Ia adalah gejala penyakit sistemik dalam pemerintahan. Dampaknya konkret: kebijakan setengah matang, program gagal sasaran, anggaran rawan dikorupsi, hingga runtuhnya kepercayaan publik.

Indonesia tidak boleh membiarkan jabatan publik menjadi hadiah untuk kroni, kerabat, atau relawan politik. Prinsip akuntabilitas, transparansi, dan meritokrasi harus kembali ditegakkan.

Bangsa ini tidak punya kemewahan untuk dipimpin pejabat yang hanya bermodalkan koneksi. Jabatan publik adalah amanah rakyat—bukan kursi kosong yang dipanaskan oleh mereka yang bahkan tak paham apa yang sedang mereka kerjakan.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bertahun-tahun Kuliah di Singapore dan Australia – Pulang Disetempel Grade 12

Next Post

Siapa Dirimu?

fusilat

fusilat

Related Posts

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi
Economy

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

June 6, 2026
Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?
Birokrasi

Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

June 6, 2026
Maling Berkedok Gizi Terbukti!
Crime

Plot Twist Pencopotan Kepala BGN

June 6, 2026
Next Post
Siapa Dirimu?

Siapa Dirimu?

Gibran Itu Cacat Produksi - Harus Dikembalikan Ke Penjualnya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

June 6, 2026
Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

June 6, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

June 6, 2026
Maling Berkedok Gizi Terbukti!

Plot Twist Pencopotan Kepala BGN

June 6, 2026
Dari MOTAH 65 ke Jepang: Ketika Pengelolaan Sampah Masih Terjebak Cara Primitif

Dari MOTAH 65 ke Jepang: Ketika Pengelolaan Sampah Masih Terjebak Cara Primitif

June 5, 2026
Ketika Orang Jepang Menanam Bakau, Kita Menanam Vila

Ketika Orang Jepang Menanam Bakau, Kita Menanam Vila

June 5, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

Rupiah Menuju Rp22.000: Pemerintah Kehilangan Narasi, Rakyat Menanggung Konsekuensi

June 6, 2026
Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

Sony Siap Bongkar Nama Jokowi dan Nanik S Deyang dalam Kasus Korupsi BGN?

June 6, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...