• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Science & Cultural

Kisah Sedih Putri Raja Bali yang Wafat Sebagai Mualaf, Dibunuh Ayah Sendiri

fusilat by fusilat
April 16, 2022
in Science & Cultural
0
Kisah Sedih Putri Raja Bali yang Wafat Sebagai Mualaf, Dibunuh Ayah Sendiri

Foto: Makam Raden Ayu Siti Khotidjah (Ni Komang erviani/detikcom)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah makam keramat di komplek pemakaman Hindu Setra Agung Badung yang tak pernah sepi dari peziarah. Itulah makam Raden Ayu Siti Khotidjah. Ini kisahnya:
Menjelang bulan ramadan, makam di Jalan Batukaru Denpasar Barat yang dianggap keramat oleh sebagian umat Hindu dan Muslim ini selalu menjadi tempat ziarah dan ngalap berkah atau barokah bagi warga muslim dan non muslim.

Namun, siapa sangka, di balik kepercayaan adanya karomah di makam keramat Agung Raden Ayu Siti Khotidjah bagi sebagian warga, ada kisah sangat tragis dan memilukan yang dialami putri raja itu.

Dikisahkan dalam buku yang disusun Jro Mangku I Made Puger, Juru Kunci Makam Keramat Agung Raden Ayu Siti Khotijah. I Gusti Ngurah Gede Pemecutan, raja Pemecutan Denpasar kala itu memiliki seorang putri cantik yang sangat ia sayangi.

Dia adalah Gusti Ayu Made Rai. Kecantikan putri mahkota itu bahkan disebutkan sangat tersohor di seantero Bali. Tak sedikit karena kecantikannya, banyak pangeran atau putra dari kerajaan lain yang ingin mempersuntingnya.

Singkat cerita, saat Gusti Ayu Made Rai beranjak remaja, musibah menimpa. Gusti Ayu Made Rai mengidap penyakit kuning atau kini lebih dikenal dengan liver. Bertahun-tahun Gusti Ayu Made Rai mengidap penyakit kuning.

Meski sejumlah balian (dukun) sakti telah dipanggil untuk mengobati, namun penyakit yang dideritanya tak kunjung bisa disembuhkan. Hingga akhirnya, sang ayah (Raja Pemecutan) mengadakan tapa semedi (menyatukan Sapda, bayu, dan idep) di merajan (tempat suci istana)

“Saat tapa semedi, ayah Gusti Ayu Made Rai (I Gusti Ngurah Gede Pemecutan) mendapat pawisik (bisikan dari Yang Maha Kuasa) agar beliau memerintahkan seluruh patih kerajaan untuk mempersiapkan sayembara,” kata Jro Mangku I Made Puger.

Pengumuman sayembara itu tidak hanya dilakukan di Bali. Melainkan, sayembara juga terbuka bagi kerajaan lain di luar Bali. Ada dua titah raja saat menggelar sayembara saat itu.

Pertama, barang siapa yang dapat mengobati dan menyembuhkan penyakit putrinya, kalau dia perempuan akan diangkat menjadi anak angkat raja. Kedua, kalau dia seorang laki-laki, jika memang jodohnya maka akan dinikahkan.

“Sabda sayembara Raja Pemecutan didengar oleh ulama dari Yogyakarta. Ulama ini memiliki ilmu kebatinan tinggi dan memiliki anak didik kesayangan dari Bangkalan, Madura, bernama Pangeran Cakraningrat IV,” terang Jro Mangku Puger.

Menikah dengan Pangeran Cakraningrat IV
Ulama dari Yogyakarta itu kemudian memanggil Pangeran Cakraningrat IV untuk datang ke Yogyakarta. Setelah menghadap, sang ulama memerintahkan agar Pangeran Cakraningrat IV pergi ke tanah Bali untuk menemui Raja Pemecutan

Kemudian, atas perintah dari sang guru, Pangeran Cakraningrat IV akhirnya berangkat ke Bali dengan kawalan 40 orang prajurit. Pangeran Cakraningrat IV ternyata berhasil menyembuhkan putri raja.

Keduanya lalu menikah disaksikan seluruh keluarga besar Kerajaan Pemecutan beserta 40 orang pengawal pangeran. Berselang beberapa hari setelah menikah, Pangeran Cakraningrat IV memutuskan kembali ke Bangkalan Madura dengan mengajak serta sang istri.

Sesampainya di Madura, kedua mempelai kembali menjalani upacara pernikahan secara Islam. Gusti Ayu Made Rai pun menjadi mualaf dan mengubah namanya menjadi Raden Ayu Siti Khotijah atau Raden Ayu Pemecutan.

Beberapa tahun setelah menetap di Madura, Raden Ayu memutuskan untuk pulang ke Bali untuk menjenguk orang tua dan keluarganya. Atas izin sang suami, ia lantas berangkat dengan pengawalan 40 prajurit.

Pangeran Cakraningrat IV tidak menemani Raden Ayu ke Bali. Ia hanya memberikan bekal sebuah guci dengan uang kepeng di dalamnya, keris, dan pusaka yang diselipkan di rambut.

Setibanya di Bali, Raden Ayu disambut baik oleh sanak keluarganya. Namun kesalahpahaman sang raja membuat kisah Raden Ayu berakhir tragis.

Ketika Raden Ayu menjalankan sholat dengan mukena putih di malam hari, patih kerajaan justru mengira Raden Ayu sedang melepaskan ilmu hitam (ngeleak).

Patih segera melaporkan hal itu kepada raja. Tanpa bertanya langsung kepada Raden Ayu, sang raja langsung memerintahkan patih untuk membunuh Raden Ayu.

Oleh patih kerajaan, Raden Ayu lantas diajak ke Setra Badung. Ikut serta bersama mereka, para pengawal dan dayang dayang yang diajak dari Bangkalan Madura, beserta pengiring dari istana.

Raden Ayu rupanya sudah menduga bahwa patih kerajaan mengajaknya ke Setra Badung untuk dibunuh. Ia lantas mempersilahkan patih untuk melakukan tugas yang diberikan ayahnya, karena ia menghormati sang ayah.

Raden Ayu sempat menjelaskan bahwa ia hanya melakukan sholat, menunaikan ibadah agamanya (Islam). Ia juga meminta kepada patih agar melemparkan tusuk konde miliknya ke arah dada kirinya.

Raden Ayu pun berpesan bila tubuhnya mengeluarkan asap berbau busuk, ia meminta patih untuk menanam jenazahnya sembarangan. Sebaliknya, bila jenazahnya berbau harum, ia meminta dibuatkan tempat suci atau Keramat.

Rupanya tubuh Raden Ayu mengeluarkan bau yang sangat harum seperti bau kemenyan madu, menyebabkan seluruh kawasan Setra Badung seluas 11 hektar itu wangi.

Setelah mendengar cerita patih kerajaan, sang raja pun menyesal telah mengeluarkan perintah yang emosional. Raja lantas membuatkan tempat suci sebagai makam sang putri, serta memerintahkan kepala istana untuk menjaga makam tersebut hingga sekarang.

Sumber

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

“Sewa Gigi” untuk Makan?” Keramahtamahan Khas Kesultana Turki di Bulan Ramadhan

Next Post

PEMILU 24 BELUM DIGELAR – CAPRES2NYA HASIL PEMILU 19 REVIEW DARI SIDANG MK

fusilat

fusilat

Related Posts

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!
News

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

April 15, 2026
Petani, Sensor, dan Pasar: Ketika Pisang Tidak Lagi Sekadar Pisang (Catatan Kecil tentang Masa Depan yang Diam-Diam Sudah Datang)
Feature

Petani, Sensor, dan Pasar: Ketika Pisang Tidak Lagi Sekadar Pisang (Catatan Kecil tentang Masa Depan yang Diam-Diam Sudah Datang)

April 11, 2026
Hisab, Presisi Langit, dan Tafsir di Bumi
Feature

Hisab, Presisi Langit, dan Tafsir di Bumi

March 19, 2026
Next Post
PEMILU 24 BELUM DIGELAR – CAPRES2NYA HASIL PEMILU 19  REVIEW DARI SIDANG MK

PEMILU 24 BELUM DIGELAR – CAPRES2NYA HASIL PEMILU 19 REVIEW DARI SIDANG MK

Pas Harga Minyak Dunia Anjlok, Harga Pertamax Kok Tidak Ikut Turun?

Kenaikan Pertalite Dinilai Meningkatkan Inflasi, Memperberat Beban Rakyat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Tak pernah kita menyaksikan Jusuf Kalla seemosional...

Read more
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026
Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

April 19, 2026

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026
JK dan Keris Mpu Gandring

JK dan Keris Mpu Gandring

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist