Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Konyol! Itulah yang terjadi dengan presiden kita, Prabowo Subianto. Ia merasa bangga setelah bernegosiasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, karena “berhasil” menurunkan tarif resiprokal dari 32% menjadi 19%.
Prabowo pun memuji Trump sebagai negosiator yang keras memperjuangkan kepentingan negaranya. Pujian itu dilontafkan Prabowo setelah dirinya dipuji Trump sebagai pemimpin hebat yang dihormati rakyatnya.
Padahal, berhasilnya Prabowo itu semu alias dalam tanda kutip. Sebab, Trump baru akan memberlakukan tarif 32% untuk Indonesia per 1 Agustus nanti. Angka 19% yang berhasil disepakati, atau turun 13% sesungguhnya pun masih sangat tinggi, karena sebelumnya hanya 5-10%.
Tidak itu saja. Di pihak lain, Indonesia juga harus membebaskan bea masuk alias tarif 0% semua produk asal AS. Padahal sebelumnya dikenai 5-10%.
Tidak itu saja pula. Indonesia harus membeli energi dari AS senilai US$15 miliar atau Rp244,074 triliun (kurs Rp16.271 per dolar AS), mengimpor produk pertanian AS senilai US$4,5 miliar atau Rp73 triliun, dan membeli 50 pesawat Boeing dari AS.
Selain itu, untuk pertama kalinya, para peternak, petani, dan nelayan AS akan memiliki akses lengkap dan penuh ke pasar Indonesia.
Lalu, apa yang dibanggakan Prabowo dari negosiasinya dengan Trump yang sesungguhnya kalah telak? Kebanggaan itu sesungguhnya kekonyolan. Betapa tidak?
Para peternak, petani dan nelayan Indonesia akan terdesak oleh hasil produksi dari profesi yang sama dari AS.
Indonesia harus membeli produk energi dari AS senilai Rp244,074 triliun dan produk pertanian dari AS senilai Rp73 triiliun. Semua itu duitnya darimana? Dari Hongkong?
Bukankah APBN kita setiap tahun selalu defisit? Apakah Indonesia akan menambah utang luar negerinya demi menyenangkan hati Trump dengan membeli produk-produk AS?
Ternyata Indonesia dan Prabowo begitu kecil di mata Trump? Lantas bagaimana mau berdaulat secara ekonomi dan kolitik kalau terus-menerus dijajah AS?
Dus, apa yang diucapkan Prabowo selama ini dengan berapi-api dan heroik ternyata sekadar omon-omon belaka. Kedaulatan Indonesia tak ada apa-apanya di mata Amerika.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)























