• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pewarta: Penjaga Moral Publik di Era Ketaklaziman

Ali Syarief by Ali Syarief
July 17, 2025
in Feature, Tokoh
0
Pewarta: Penjaga Moral Publik di Era Ketaklaziman
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam sambutan pelantikan Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPD PPWI) Provinsi Lampung, Prof. Dr. Syarief Makhya menyampaikan pesan yang menggugah dan patut direnungkan oleh setiap insan pers. Menurutnya, pewarta memiliki tugas bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menegakkan nilai-nilai moral di tengah masyarakat yang semakin permisif terhadap ketimpangan.

Dengan memberi contoh konkret, Prof. Syarief menyatakan:

“Seorang pejabat yang memiliki 20 mobil mewah, itu mungkin tidak melanggar hukum, tetapi secara moral bisa disebut tidak lazim.”

Ungkapan ini bukan sekadar kritik terhadap gaya hidup elite, melainkan seruan agar para pewarta berani menyuarakan yang tak bisa disentuh oleh pasal hukum: kepatutan, kesalehan sosial, dan rasa keadilan publik. Sebab hukum tidak selalu mampu membatasi kerakusan, dan di sanalah moralitas mesti berbicara—melalui pena jurnalis yang jujur dan nurani pewarta yang tajam.

Dalam konteks ini, jurnalisme sejatinya berfungsi sebagai kompas moral masyarakat. Walter Lippmann, pemikir jurnalisme asal Amerika, pernah berkata:

“There can be no higher law in journalism than to tell the truth and to shame the devil.”
(Tidak ada hukum yang lebih tinggi dalam jurnalisme selain mengatakan kebenaran dan mempermalukan kejahatan.)

Namun kebenaran bukan hanya data dan angka, tapi juga nilai dan rasa. Ketika ketidakadilan hadir dalam bentuk yang sah secara hukum tetapi melukai akal sehat, maka pewarta harus bersuara. Ia harus berani menyebut sesuatu sebagai “tidak lazim” walau dibungkus pencitraan atau legalitas yang memukau.

Mochtar Lubis, jurnalis pejuang dari Indonesia, pernah mengingatkan:

“Wartawan harus jujur, berani, dan berpihak kepada rakyat.”

Berpihak kepada rakyat bukan berarti kehilangan objektivitas, tetapi justru menempatkan keadilan sosial sebagai titik tolak kerja jurnalistik. Di tengah elite yang makin jauh dari realitas rakyat, pewarta menjadi penghubung antara suara-suara yang dibungkam dan telinga publik yang berhak tahu.

Sementara itu, AJ Liebling dari The New Yorker pernah berkata dengan sinis:

“Freedom of the press is guaranteed only to those who own one.”
(Kemerdekaan pers hanya dijamin bagi mereka yang memilikinya.)

Ini pengingat keras bahwa dalam lanskap media yang dikuasai oligarki dan kepentingan politik, suara pewarta independen menjadi sangat langka namun amat penting. Karena itu, tugas moral pewarta tidak hanya pada apa yang ditulis, tapi juga pada keberanian untuk tidak diam, ketika ketimpangan dan ketaklaziman merajalela dalam kehidupan publik.

Pesan Prof. Syarief sesungguhnya adalah panggilan nurani agar pewarta kembali pada misinya yang terdalam: sebagai penjaga akal sehat masyarakat. Dalam dunia yang kian sibuk membenarkan yang salah demi kekuasaan, pewarta harus tetap menjadi penunjuk arah. Karena bila mereka ikut diam atau hanyut dalam arus kepentingan, maka siapa lagi yang akan menyuarakan yang benar?

Mari kita ingat: keadilan tidak hanya membutuhkan hukum, tetapi juga membutuhkan suara jernih yang berani menyatakan—”Ini tidak lazim.” Dan suara itu, harus datang dari pewarta yang merdeka.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pewarta sebagai Penegak Nilai Moral di Tengah Kehidupan yang Tak Lagi Lazim

Next Post

Kini Kaesang Mengundang Bapaknya Menjadi Ketua Dewan Pembina PSI?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta
Crime

Bila Ijazah Asli;Roy CS Terancam Penjara 9 Bulan – Bila Palsu; Jokowi Terancam 10 Tahun

February 13, 2026
Next Post
Kini Kaesang Mengundang Bapaknya Menjadi Ketua Dewan Pembina PSI?

Kini Kaesang Mengundang Bapaknya Menjadi Ketua Dewan Pembina PSI?

Amuba Dusta Jokowi: Warisan Moral yang Merusak, Urgensi Evaluasi Kesehatan demi Tanggung Jawab Hukum

Jokowi dan "Agenda Politik": Ketika Mantan Presiden Merasa Takut pada Kebenaran

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...