By Paman BED
Bayangkan jika Allah tidak menganugerahi kita rasa lapar.
Makanan selezat apa pun mungkin tak akan menarik untuk dijamah. Ia hanya akan menjadi benda biasa di hadapan kita.
Bayangkan pula jika rasa haus tak pernah kita rasakan.
Minuman segar tak akan memiliki daya tarik. Air yang mengalir, jus yang dingin, atau teh hangat di pagi hari mungkin tak berarti apa-apa.
Ternyata sesuatu yang sering kita anggap sebagai ketidaknyamanan—lapar dan haus—sesungguhnya adalah mekanisme nikmat yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Melalui rasa itulah manusia mampu merasakan karunia-Nya.
Namun Al-Qur’an mengingatkan sebuah kenyataan yang cukup menohok: manusia sering kali tidak bersyukur.
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menegaskan bahwa manusia yang sedikit yang bersyukur. Redaksi “sedikit sekali kalian bersyukur” muncul empat kali, yaitu dalam:
Surah Al-A’raf ayat 10
Surah Al-Mu’minun ayat 78
Surah As-Sajdah ayat 9
Surah Al-Mulk ayat 23
Keempat ayat tersebut menggunakan ungkapan yang sama:
قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Amat sedikit kalian bersyukur.”
Selain itu terdapat satu ayat lain dengan redaksi berbeda namun makna serupa, yaitu dalam Surah Saba ayat 13:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.”
Di sisi lain, dalam Surah Ar-Rahman terdapat sebuah pertanyaan retoris yang diulang berkali-kali:
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Pertanyaan itu muncul 31 kali.
Seolah-olah Al-Qur’an mengajukan pertanyaan yang terus berulang tentang nikmat Allah, sementara jawabannya tersirat dalam ayat lain: hanya sedikit manusia yang benar-benar bersyukur.
Jika dua angka ini direnungkan, terdapat sebuah gambaran simbolik. Pertanyaan tentang nikmat Allah muncul 31 kali, sementara pernyataan bahwa manusia sedikit bersyukur muncul lima kali. Secara sederhana, ini menggambarkan betapa melimpahnya nikmat Allah dibandingkan dengan kecilnya rasa syukur manusia.
Di sinilah puasa menemukan maknanya.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah menjelaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa.
Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Puasa adalah cara Allah menghidupkan kembali kesadaran manusia terhadap nikmat yang selama ini dianggap biasa.
Ketika lapar datang, kita mulai memahami nilai sepotong makanan.
Ketika haus terasa, kita menyadari betapa berharganya seteguk air.
Mungkin di hari-hari biasa kita makan tanpa berpikir. Air minum tersedia kapan saja. Perut kenyang menjadi hal yang dianggap wajar.
Namun ketika berpuasa, beberapa jam saja tanpa makan dan minum sudah cukup membuat kita menyadari sesuatu yang sederhana: bahwa nikmat yang paling besar sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang paling biasa.
Di luar sana masih banyak orang yang merasakan lapar bukan karena ibadah, tetapi karena keadaan. Ada yang menahan haus bukan karena puasa, tetapi karena keterbatasan.
Puasa membuat kita merasakan sekelumit dari kenyataan itu—agar hati kita belajar memahami, dan agar jiwa kita belajar bersyukur.
Dari rasa lapar lahir kesadaran.
Dari rasa haus tumbuh kerendahan hati.
Dan dari keduanya muncul rasa syukur.
Dari rasa syukur itulah tumbuh ketakwaan.
Maka lapar bukan sekadar ujian.
Haus bukan sekadar kesulitan.
Keduanya adalah cara Allah mengingatkan manusia tentang nikmat-Nya.
Dan semoga, di antara sedikit manusia yang benar-benar bersyukur itu, kita termasuk di dalamnya.
Maka, mari kita jadikan setiap teguk air di saat berbuka dan setiap suap makanan di waktu sahur, menjadi momen untuk benar benar menghadirkan rasa syukur itu di dalam hati.
By Paman BED





















