Fusilatnews – Mari kita masuk ke ruang imajinasi—ke kepala tiga mantan (dan satu calon mantan) presiden Indonesia—di mana panggung politik adalah ruang keluarga yang diperluas, dan kursi kekuasaan hanya sedikit lebih besar daripada kursi makan di ruang tamu.
Megawati mungkin duduk sambil memandangi Puan Maharani di podium DPR RI, pidato lantang sambil sesekali memukul meja tanda tegas. Di kepalanya, mungkin berbisik: “Lihat, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Saya dulu presiden, sekarang anak saya ketua DPR. Apa kata dunia? Hebat, kan?”
Sayangnya, dunia mungkin malah berkata: “Buahnya memang dekat, tapi jatuhnya ke kebun sendiri, tak pernah mau diuji tanah orang lain.”
SBY, di sisi lain, punya dua “buah hati” yang juga sudah matang dalam politik. Satu jadi menteri koordinator, satu lagi duduk di DPR. Dalam pikirannya, mungkin ada kebanggaan bercampur dengan kalkulasi politik ala jenderal: “Dulu saya pimpin pasukan, sekarang anak saya pimpin kementerian. Legacy ini, Bung!”
Tapi kalau mau jujur, ini seperti perwira yang melatih anaknya sendiri menjadi komandan di medan perang yang penuh tentara tak berani protes. Warisan kepemimpinan? Atau warisan koneksi?
Jokowi tentu tak mau ketinggalan. Anak sulungnya kini duduk manis di kursi wakil presiden. Dalam pikirannya mungkin ada rasa puas: “Dari jualan martabak hingga kursi Wapres—cerita rakyat yang menginspirasi!”
Tapi publik yang kritis mungkin melihatnya lebih sebagai dongeng politik: dari Martabak Manis ke Martabak Nepotisme.
Ketiganya mungkin merasa ini adalah bukti keberhasilan mendidik anak. Namun, di mata rakyat yang perutnya belum terisi, ini lebih seperti parade keluarga di atas panggung negara—bukan pencapaian yang lahir dari kompetisi bebas, melainkan dari tiket VIP yang diwariskan.
Nepotisme sejatinya adalah sesuatu yang memalukan—setidaknya kalau kita masih memegang prinsip meritokrasi. Tapi di Indonesia, ia justru sering dibungkus dengan kata “legacy”, “pengabdian keluarga”, atau “regenerasi kepemimpinan”. Seakan-akan negara ini adalah perusahaan keluarga, dan rakyat cuma pegawai kontrak yang tidak punya saham.
Yang ironis, ketiga tokoh ini—dengan ideologi dan gaya kepemimpinan berbeda—ternyata bersatu dalam satu hal: memastikan garis keturunan mereka punya akses istimewa ke puncak kekuasaan. Mungkin di kepala mereka, politik adalah seperti kursi ruang tamu—siapa lagi yang pantas duduk kalau bukan anak sendiri?
Maka kita yang menonton hanya bisa bertanya-tanya: apakah ini negara demokrasi, atau family business dengan gedung DPR dan Istana sebagai kantor pusatnya?
Dialog Imajiner : “Meja Makan Nepotisme”
Adegan:
Sebuah ruang makan mewah, dindingnya dihiasi foto-foto hitam-putih para presiden RI. Di meja bundar, duduklah tiga tokoh besar: Megawati, SBY, dan Jokowi. Di tengah meja ada sepiring besar kue kekuasaan, masing-masing memegang pisau, siap memotong bagian untuk anak-anak kesayangan mereka.
Megawati (menyeruput teh sambil tersenyum tipis):
“Ah… Puan itu luar biasa. Dari kecil sudah saya ajarkan bicara lantang. Sekarang lihat, dia ketua DPR. Warisan politik keluarga harus dijaga, kan?”
SBY (mengangguk, nada serius ala jenderal):
“Betul, Bu Mega. Saya juga. Ibas di DPR, AHY di kabinet. Mereka lahir dengan darah kepemimpinan. Leadership by DNA, istilahnya.”
Jokowi (tersenyum lugu, sambil memotong kue untuk Gibran):
“Hehehe… ya sama. Anak saya sekarang Wapres. Dulu jualan martabak, sekarang jualan visi-misi negara. Cepat sekali naiknya, kan?”
Megawati (menatap Jokowi):
“Ya itu hebat, Mas. Kayak fast track di bandara. Anak saya sih lewat jalur biasa, tapi tetap saja kita pastikan sampai di gerbang kekuasaan.”
SBY (tersenyum diplomatis):
“Kita ini kan hanya ingin yang terbaik untuk bangsa… eh maksud saya, untuk generasi penerus. Rakyat pasti mengerti.”
Jokowi (mengangguk):
“Betul, rakyat kan gampang lupa. Lama-lama mereka pikir ini semua murni hasil kerja keras anak-anak kita.”
Megawati (berbisik pelan):
“Kalau rakyat protes, bilang saja ini regenerasi politik. Istilahnya keren, padahal isinya ya… begitulah.”
SBY (menghela napas pura-pura prihatin):
“Yang penting, jangan sampai ada yang menyebut ini nepotisme. Itu kan kata yang… kurang enak di telinga.”
Jokowi (tertawa kecil):
“Ah, rakyat kita sudah pintar… pintar pura-pura tidak lihat.”
Narator:
Begitulah, di meja makan itu, nepotisme bukan kata kotor, melainkan menu utama. Disajikan hangat-hangat, dibagi rata untuk anak masing-masing, dan dibungkus dengan label “cinta tanah air”.
Di luar sana, rakyat menatap dari balik jendela, bertanya-tanya: Negara ini punya konstitusi, atau cuma akta keluarga?























