FusilatNews – Dalam internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri adalah sosok yang dianggap sebagai pemersatu. Ia bukan hanya pemimpin partai, tetapi juga simbol yang tak tersentuh oleh kritik internal. Doktrin “Megawati Can Do No Wrong” telah menjadi semiotika internal yang membentuk persepsi kader dan loyalisnya. Namun, skandal yang menimpa Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menjadi ujian terbesar bagi Megawati dalam mempertahankan otoritas politiknya.
Ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Hasto, reaksi Megawati dan PDIP menarik untuk dicermati. Alih-alih menunjukkan langkah politik yang tegas, instruksi Megawati kepada kader untuk tidak mengikuti retret partai justru diabaikan. Ini menandakan bahwa pengaruhnya mulai melemah atau ada faksi internal yang mulai berani mengambil posisi berbeda.
Instruksi lain yang meminta kadernya diam dan tidak mengomentari kasus Hasto menunjukkan bahwa PDIP lebih memilih strategi bertahan dibandingkan menghadapi isu secara terbuka. Partai yang selama ini dikenal vokal dalam berbagai isu justru menghindari perdebatan publik dalam kasus yang menimpa salah satu pimpinannya. Sikap ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk pengamat politik, yang menilai langkah tersebut bertentangan dengan prinsip keterbukaan dan akuntabilitas yang seharusnya dijunjung tinggi oleh partai politik.
Di sisi lain, pernyataan bahwa PDIP akan menggeruduk gedung KPK tampak lebih sebagai jargon politik ketimbang sebuah aksi nyata. Tidak ada gerakan signifikan yang menunjukkan perlawanan atau tekanan terhadap KPK. Ini mengindikasikan bahwa PDIP sebenarnya tidak memiliki strategi politik yang jelas dalam menghadapi skandal ini, atau mungkin mereka menyadari bahwa perlawanan frontal terhadap KPK hanya akan merugikan posisi partai di mata publik.
Skandal Hasto memperlihatkan bahwa dominasi Megawati dalam PDIP tidak lagi sekuat dulu. Kader yang mulai berani menentang instruksinya, sikap diam yang justru semakin memperburuk citra partai, serta kegagalan untuk menjalankan ancaman politik secara nyata, semuanya menandakan adanya krisis kepemimpinan dalam PDIP. Ujian ini akan menjadi penentu apakah Megawati masih bisa mempertahankan mitos “Can Do No Wrong” atau apakah ini awal dari melemahnya dominasi politiknya dalam partai yang ia bangun selama puluhan tahun.


























