Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Maka hanya ada satu kata: lawan!
Kredo penyair Widji Thukul (1963-1998) yang tersurat dalam puisinya, “Peringatan” (1996) ini sepertinya mengilhami masyarakat Aceh yang tergabung dalam Gerakan Aceh Melawan (GAM). Mereka berdemonstrasi di Kantor Gubernur Aceh, Senin (16/6/2025), untuk melawan keputusan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang mengalihkan empat pulau yang semula masuk wilayah Kabupaten Aceh Singkil ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Dalam aksi itu, GAM mengibarkan bendera Bulan Bintang yang menyerupai lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Keempat pulau itu memang pulau-pulau kecil. Tapi maknanya cukup besar bagi rakyat Aceh. Apalagi disebut pulau-pulau itu kaya akan gas alam.
Orang Jawa bilang, “sakdumuk bathuk, saknyari bumi, toh pati.”
Sakdumuk bathuk artinya sekadar kening. Saknyari bumi artinya satu jari atau sejengkal. Toh pati artinya bertaruh nyawa.
Maknanya, sejengkal tanah pun menyangkut harga diri seseorang, sehingga dipertahankan sampai mati.
Keempat pulau itu adalah Pulau Mangkir Besar, Pulau Mangkir Kecil, Pulau Lipan dan Pulau Panjang.
Keputusan Tito mengalihkan kepemilikan keempat pulau itu dari Aceh ke Sumut tertuang dalam Keputusan Mendagri No 300.2.2-2138/2025 tertanggal 25 April 2025.
Sengketa Aceh versus Sumut atas keempat pulau itu sesungguhnya sudah berlangsung sejak 1928. Secara geografis memang keempat pulau itu lebih dekat dengan Sumut. Tapi secara historis, keempat pulau itu sejak dulu dalam penguasaan Aceh.
Kini, ketika GAM mengibarkan bendera Bulan Bintang, berarti pemicunya adalah Tito Karnavian yang telah membuat keputusan yang merugikan rakyat Aceh. Bahkan Tito dapat ditafsirkan sebagai pihak yang mengibarkan bendera Bulan Bintang yang mirip lambang GAM itu meskipun secara tidak langsung.
Ya, jika di Papua, pulau ujung timur Indonesia ada Bintang Kejora, maka di Aceh, bagian Pulau Sumatera di ujung barat Indonesia ada Bulan Bintang.
Bintang Kejora adalah bendera Organisasi Papua Merdeka (OPM), sedangkan Bulan Bintang adalah bendera Aceh yang menyerupai lambang GAM. OPM menuntut Papua merdeka. GAM pernah menuntut Aceh merdeka. Mereka sama-sama kecewa terhadap pemerintah pusat.
Bendera Bulan Bintang sudah disahkan menjadi lambang Aceh oleh DPR Aceh lewat Qanun Nomor 13 Tahun 2013.
Bendera ini sejatinya masuk dalam poin-poin perjanjian damai antara GAM dan RI yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, Finlandia. Hanya saja, Pemerintah RI belum mengizinkan bendera itu dikibarkan.
Namun, bendera Bulan Bintang itu tiba-tiba berkibar di depan Kantor Gubernur Aceh, Senin (16/6/2025).
Lantas, mengapa Tito Karnavian mengalihkan kepemlikan empat pulau itu ke Provinsi Sumut yang kini gubernurnya adalah Bobby Nasution, menantu Presiden ke-7 RI Joko Widodo?
Ada rumor sebagai “hadiah” bagi Jokowi, yang sama-sama geng Solo sebagaimana Tito. Hadiah bagi Jokowi itu diberikan lewat menantunya, Bobby Nasution.
Bobby pun langsung mengajak Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem untuk bersama-sama mengelola empat pulau yang mereka sengketakan itu. Namun, Mualem tak menggubris. Bersama rakyat Aceh, bekas Panglima Tentara GAM itu akan terus melawan. Sampai keempat pulau itu kembali ke pangkuan Nanggroe Aceh Darussalam.
Setelah menjadi polemik, Prediden Prabowo dikabarkan mengambil alih kasus sengketa empat pulau itu. Minggu ini, Ketus Umum Partai Gerindra itu akan mengambil keputusan.
Semoga keputusan Prabowo tidak akan memicu berkibarnya bendera Bulan Bintang lebih banyak lagi. Apalagi sampai rakyat Aceh kembali menuntut merdeka, sebagaimana OPM yang kini terus melawan pemerintah Indonesia.
Alhamdulillah, akhirnya Prabowo baru saja memutuskan keempat pulau itu dikembalikan ke pemiliknya semula: Aceh. Konsekuensinya, harus ada sanksi bagi Tito Karnavian yang telah bertindak gegabah.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)























