• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Paradoks Kurban Presiden untuk Se-Nusantara – Uang Rakyat untuk Rakyat atas Nama Prabowo

fusilatnews by fusilatnews
May 28, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Paradoks Kurban Presiden untuk Se-Nusantara – Uang Rakyat untuk Rakyat atas Nama Prabowo
Share on FacebookShare on Twitter

Di setiap Hari Raya Iduladha, masyarakat Indonesia menyaksikan tradisi penyembelihan hewan kurban sebagai simbol ketakwaan, pengorbanan, dan solidaritas sosial. Namun di tengah suasana religius itu, muncul satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan secara kritis: ketika “Kurban Presiden” disalurkan ke seluruh Nusantara menggunakan dana APBN melalui mata anggaran bantuan sosial Presiden Republik Indonesia, siapakah sesungguhnya yang sedang berkurban?

Apakah Presiden sedang berkurban menggunakan hartanya sendiri? Ataukah negara sedang mendistribusikan uang rakyat kepada rakyat, namun dikemas dalam simbol personal kekuasaan atas nama Presiden?

Di titik inilah paradoks itu lahir.

Kurban dalam ajaran agama pada dasarnya merupakan ibadah personal yang bersumber dari keikhlasan dan kemampuan individu. Nilai utama kurban bukan sekadar daging yang dibagikan, melainkan pengorbanan pribadi sebagai bentuk ketundukan kepada Tuhan dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, secara moral, kurban selalu melekat pada pengorbanan milik pribadi.

Namun ketika negara mengalokasikan anggaran dari APBN untuk pengadaan hewan kurban Presiden, makna personal tersebut perlahan berubah menjadi simbol administrasi kekuasaan. Sebab APBN bukan milik Presiden. APBN adalah hasil pungutan dari rakyat melalui pajak, cukai, utang negara, hingga berbagai sumber penerimaan publik lainnya.

Artinya sederhana: uang itu bukan berasal dari kantong pribadi Presiden, melainkan dari rakyat.

Maka ketika publik mendengar istilah “Kurban Presiden untuk masyarakat,” sesungguhnya yang terjadi adalah rakyat membantu rakyat menggunakan uang rakyat sendiri, tetapi narasi simboliknya dilekatkan pada nama Presiden.

Di sinilah letak paradoks politik dan moralnya.

Negara memang memiliki kewajiban menjalankan bantuan sosial. Negara juga memiliki kewajiban menjaga ketahanan pangan, membantu masyarakat miskin, serta memperkuat solidaritas sosial. Tidak ada yang salah dengan distribusi bantuan dari APBN. Bahkan itu merupakan tugas konstitusional pemerintahan.

Tetapi persoalan muncul ketika program negara dipersonalisasi menjadi citra individu penguasa.

Dalam sistem demokrasi modern, bantuan negara idealnya hadir sebagai hak warga negara, bukan sebagai kemurahan hati penguasa. Sebab jika bantuan negara terlalu dilekatkan pada figur Presiden, maka batas antara pelayanan publik dan pencitraan politik menjadi kabur.

Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam sejarah politik Indonesia. Bantuan sosial sering kali berubah menjadi alat pembentukan loyalitas emosional. Nama pemimpin lebih menonjol daripada institusi negara itu sendiri. Seolah-olah rakyat menerima hadiah pribadi dari Presiden, padahal Presiden hanyalah mandataris yang diberi kewenangan mengelola keuangan negara.

Dalam konteks itu, “Kurban Presiden” dapat dibaca sebagai simbol relasi patronase modern: negara bekerja menggunakan uang rakyat, tetapi legitimasi moral dan popularitas politiknya terkonsentrasi pada figur pemimpin.

Padahal dalam prinsip republik, seorang Presiden bukanlah raja yang membagi-bagikan hartanya kepada rakyat. Presiden hanyalah pengelola amanah publik.

Karena itu, penggunaan istilah “atas nama Presiden” sering memunculkan pertanyaan etik. Mengapa bantuan yang bersumber dari APBN tidak cukup disebut sebagai program negara atau program pemerintah? Mengapa identitas personal penguasa harus begitu dominan dalam setiap distribusi bantuan sosial?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kondisi ekonomi rakyat masih penuh tekanan. Pajak meningkat, harga kebutuhan pokok naik, lapangan pekerjaan menyempit, sementara negara terus menambah utang. Dalam situasi demikian, rakyat sebenarnya sedang membantu dirinya sendiri melalui mekanisme APBN.

Ironisnya, di ruang publik, pengelolaan uang rakyat itu justru sering dipersepsikan sebagai kemurahan hati elite kekuasaan.

Di sinilah rakyat perlu memiliki kesadaran politik yang sehat.

Bahwa bantuan sosial bukan hadiah pribadi Presiden.
Bahwa APBN bukan dompet kekuasaan.
Bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara berasal dari keringat rakyat.

Maka ketika seekor sapi kurban dikirim ke daerah-daerah atas nama Presiden, publik sesungguhnya sedang menyaksikan satu realitas yang unik: rakyat memberi makan rakyat lain menggunakan uang rakyat sendiri, tetapi penghormatan simboliknya diarahkan kepada penguasa.

Paradoks ini mungkin dianggap wajar dalam budaya politik paternalistik, di mana pemimpin diposisikan sebagai figur “bapak” yang memberi dan rakyat menjadi pihak penerima belas kasih. Namun dalam demokrasi yang sehat, relasi seperti itu seharusnya mulai dikoreksi.

Rakyat bukan objek kemurahan hati negara.
Rakyat adalah pemilik sah negara itu sendiri.

Karena itu, jika hendak jujur secara moral dan politik, istilah yang lebih tepat mungkin bukan “Kurban Presiden untuk rakyat,” melainkan “Kurban rakyat untuk rakyat melalui negara.”

Dan Presiden, termasuk Prabowo, hanyalah pengelola mandat sementara atas uang publik tersebut.

Pada akhirnya, esensi kritik ini bukan untuk menolak bantuan sosial atau menafikan niat baik pemerintah. Kritik ini justru penting agar demokrasi tidak berubah menjadi panggung personalisasi kekuasaan yang membungkus hak rakyat sebagai hadiah penguasa.

Sebab dalam republik yang sehat, yang harus dibesarkan adalah institusi negara dan kesadaran warga negara, bukan kultus terhadap individu yang sedang berkuasa.

Kurban boleh atas nama Presiden.
Tetapi uangnya tetap uang rakyat.
Dan rakyat berhak memahami perbedaan antara pengabdian negara dan pencitraan kekuasaan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hentikan Multifungsi TNI dan Militerisasi Ruang Sipil

Next Post

PII DKI Jakarta Lantik Pengurus Baru 2026–2028, Dorong Inovasi dan Penguatan Kaderisasi Pelajar

fusilatnews

fusilatnews

Related Posts

DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau
Bencana

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan
Feature

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Next Post
PII DKI Jakarta Lantik Pengurus Baru 2026–2028, Dorong Inovasi dan Penguatan Kaderisasi Pelajar

PII DKI Jakarta Lantik Pengurus Baru 2026–2028, Dorong Inovasi dan Penguatan Kaderisasi Pelajar

Harapan Rakyat Kandas di Janji Prabowo

Harapan Rakyat Kandas di Janji Prabowo

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
Komposisi Pansel KPK Didominasi unsur Pemerintah, Menarik Perhatian Jaksa Agung

KOSMAK Desak Prabowo Copot Jaksa Agung

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...