Jakarta – Fusilatnews – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN ) Erick Thohir dalam komentarnya tentang laporan publikasi Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang Tingkat Kepuasan terhadap Kinerja Presiden Joko Widodo, Selasa (22/1). mengatakan Kondisi perekonomian Indonesia saat ini dan kedepan sempurna. Salah satu penyebabnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang sangat diinginkan oleh negara lain, terutama negara-negara di Eropa.
“Kalau kita lihat, kondisi Indonesia ini sempurna. Kita punya nikel, kita punya kelapa sawit, dan kita juga punya gula, untuk etanol, atau (bisa juga) jagung untuk etanol,” kata Menteri BUMN Erick Thohir
Pemerintah terus menjaga agar kekeliruan Indonesia pada saat era ledakan komoditas (commodity booming) tidak terulang lagi. Indonesia tidak akan lagi membiarkan bahan mentah menjadi komoditas perdagangan utama di pasar internasional. Kebijakan tersebut hanya membuat peningkatan nilai, pertumbuhan ekonomi, hingga penciptaan tenaga kerjamya terjadi di negara lain.
Erick mengingatkan kembali, perubahan kebijakan pemerintah terkait perdagangan bahan mentah Indonesia baru terjadi pada pemerintah Joko Widodo periode 2017-2018. Saat itulah, Indonesia mulai memberlakukan hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA). Kebijakan ini terus dilakukan hingga saat ini, meskipun Indonesia harus menghadapi gugatan Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“Pada policy yang baru, Pak Jokowi, pada 2017-2018, mulai memberlakukan hilirisasi SDA. Walaupun saat ini kita sedang menghadapi gugatan di WTO, bisa untuk nikel, atau nanti Bauksit, atau kelapa sawit,” ucap pria kelahiran Jakarta tersebut.
Erick pun menegaskan, pemerintah telah mengetahui langkah Uni Eropa yang sengaja sudah mengeluarkan Green Industrial Plan. Itu berarti Uni Eropa menutup pasar Eropa secara pelan-pelan.
“Jadi mereka maunya, market kita harus dibuka, tetapi market mereka harus ditutup, dengan alasan karena memang Eropa sedang mengarah ke resesi,” kata Erick.
Saat ini ekspor Indonesia terus meningkat sehingga surplus perdagangan Indonesia besar sekali, hingga 51 miliar dolar AS.
“Ini yang paling ditakutkan oleh negara-negara pesaing kita. Karena sampai 2045, kita diperkirakan akan masuk ke negara Top 4 atau Top 5 dunia. Mereka sudah melihat itu semua. Makanya, mereka seakan-akan ingin memperlambat. Ya, Indonesia jangan cepat kaya lah. Ini yang saya rasa, Pak Jokowi mendorong hilirisasi dilanjutkan. Pak Jokowi akan mendorong lagi Gula nanti. Bagaimana bisa nggak kita swasembada gula pada 2030. Bisa nggak Gula jadi etanol,” papar Erick.
Pentingnya dukungan perbankan untuk suksesnya hilirisasi Industri domestik khususnya produk pertambangan untuk meningkatkan kapasitas hilirisasi dan meningkatkan ekspor produk bernilai tambah tinggi. Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara menegaskan komitmennya mendukung hilirisasi industri di dalam negeri. Himbara siap mendukung hilirisasi, termasuk hilirisasi industri yang berbasis ekstraksi sumber daya alam.
Himbara terdiri atas PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau Bank Mandiri, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BNI, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau Bank BTN.
Selanjutnya pengembangan proyek gasifikasi batu bara yang dilakukan beberapa BUMN, yaitu PT Pertamina (Persero), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), dan Air Products & Chemicals Inc. (APCI). Proyek tersebut dapat mengurangi subsidi gas alam cair (LPG) sebesar Rp 7 triliun per tahun dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News





















