Ditengan Menurunnya harga minyak pada tingkat global, tidak serta merta harga BBM di Indonesia ikutan turun dengan cepat namun sebaliknya jika harga minyak dunia pada tingkat global naik pemerintah dengan cepat menyesuaikan dengan harga minyak global
Jakarta – Fusilatnews – Menanggapi turunnya harga minyak dunia Pemerintah nampak sangat lamban dalam bereaksi , tentu beda saat harga minyak dunia meroket. Karena pemerintah harus melakukan evaluasi atau apalah terkait menurunkan harga jual BBM RON 90 atau Pertalite
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan, pemerintah baru akan mengkaji harga pertalite jika harga minyak dunia menyentuh level 65 dolar AS per barel.
“Kalau masih di angka 70 dolar AS, belum. Harga keekonomiannya masih di atas harga jual sekarang. Tapi kalau mungkin sentuh 65 dolar AS per barel, kita coba hitung lagi kemungkinan peluang perubahan harganya,” ujar Tutuka saat di JCC, Jakarta, Selasa (21/3).
Tutuka menjelaskan dalam menentukan harga jual pertalite, pemerintah memiliki formula harga BBM yang diatur di dalam Keputusan Menteri. Dalam formula tersebut selain komponen harga minyak mentah juga ada margin badan usaha, biaya distribusi, dan pengangkutan serta pengolahan.
Tutuka juga menjelaskan dengan fluktuasi harga minyak mentah saat ini, masih sulit memprediksi stabilitas harga. Untuk itu, agar tidak berimbas pada APBN, pemerintah masih akan mempertahankan harga jual ini.
“Kita hitung semua, kita antisipasi juga. Tapi kami menduga kalau angkanya sudah 65 dolar baru kita bisa melakukan penyesuaian,” ujar Tutuka.
Perlu diketahui berdasarkan laporan terakhir Reuters, Harga minyak dunia turun lebih dari 4% ke level terendah selama tiga bulan pada hari Selasa (21/3/2003) setelah laporan inflasi AS dan kegagalan bank AS baru-baru ini memicu kekhawatiran krisis keuangan baru yang dapat mengurangi permintaan minyak di masa depan.
Brent berjangka turun $3,32, atau 4,1%, menjadi $77,45 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun $3,47, atau 4,6%, menjadi $71,33.
Itu adalah penutupan terendah untuk kedua tolok ukur sejak 9 Desember tahun lalu dan persentase penurunan satu hari terbesar sejak awal Januari. Selain itu, kedua kontrak secara teknis jatuh ke wilayah oversold untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan

























