Oleh: Entang Sastraatmadja
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesahajaan berarti kesederhanaan. Kesahajaan petani adalah wujud nyata kehidupan sederhana yang penuh ketekunan. Dari wawasan, sikap, hingga tindakan, kesederhanaan ini tampak jelas.
Mayoritas petani di negeri ini hidup sebagai gurem atau buruh, dengan lahan sempit bahkan tanpa lahan sama sekali. Mereka bukanlah “farmers” bergelimang fasilitas, melainkan “peasants” yang hidup jauh dari kemewahan. Tidak ada mobil Alphard, televisi 75 inci, atau jam tangan miliaran rupiah. Pakaian jas lengkap dengan dasi? Hampir tak pernah. Hidup mereka bukan soal glamor, tapi bagaimana menyambung nyawa keluarga agar esok masih bisa menatap matahari.
Petani tidak tahu apa itu korupsi bansos, karena hak mereka justru sering dirampas oleh pejabat serakah. Mereka lebih sibuk menanam, merawat, dan menjaga hasil bumi, sambil bertanya-tanya mengapa anggota DPR berjoged ria di Senayan atau menerima tunjangan fantastis tanpa memberi hasil nyata bagi rakyat.
Petani adalah pahlawan yang nyaris tak terlihat. Berkat jerih payah mereka, perut bangsa ini tetap terisi nasi. Bayangkan jika mereka mogok, siapa yang memberi makan rakyat? Namun, setelah 80 tahun merdeka, sebagian besar petani masih hidup dalam kemiskinan, sengsara, dan keterbelakangan. Kebijakan yang menjanjikan perubahan sering berhenti di wacana, belum pernah sepenuhnya menyentuh kehidupan nyata mereka.
Meski hidup serba kekurangan, petani tetap bersahaja. Mereka jarang mengeluh, tidak menuntut menjadi penerima manfaat pembangunan, dan selalu memelihara integritas. Mereka sadar: menjadi pejabat bukanlah jalan meraih harta atau kepuasan pribadi. Jika mereka menjadi wakil rakyat, pejabat, atau penyidik KPK, pasti menegakkan amanah dengan teguh, tanpa kompromi pada korupsi atau suap.
Kesahajaan petani seharusnya menjadi cermin bagi para pejabat negara. Hidup bersahaja, menjaga amanah, menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi—itulah teladan yang tak ternilai. Petani mencintai kesederhanaan lebih dari keserakahan; mereka menegakkan persaudaraan lebih dari ambisi pribadi.
Semoga keteladanan petani menjadi pelajaran bagi semua pejabat yang jauh dari kesahajaan, agar pembangunan bangsa tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi dirasakan oleh seluruh rakyat.
(Penulis, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastraatmadja






















