Fusilatnews – Di lapangan demonstrasi, pemandangan itu seperti adegan perang: Brimob bersenjata lengkap dengan tameng, barakuda siap menabrak, water cannon siap menyemprot, gas air mata siap diterbangkan. Semua peralatan diterjunkan dengan satu tujuan terselubung: menundukkan kerumunan. Namun, yang terjadi justru paradoks yang memilukan—kematian dan luka-luka muncul dari kedua belah pihak, polisi dan demonstran, sementara TNI berdiri tenang, tangan kosong, tanpa senjata. Demonstran tetap tertib, tetapi aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber kekacauan.
Ini bukan hanya soal kegagalan di lapangan, tetapi absolutnya komando dan kebijakan yang salah arah. Pasukan anti-demo yang seharusnya menertibkan kerumunan, malah menjadi mesin agresi. Setiap tameng, setiap semprotan water cannon, setiap ledakan gas air mata bukan sekadar alat, tetapi simbol dominasi yang berlebihan—dominasi yang mematikan dan kontraproduktif.
Sementara itu, TNI hadir tanpa perlengkapan tempur, hanya dengan disiplin dan kontrol diri. Mereka mampu menjaga situasi tetap kondusif, menunjukkan satu prinsip sederhana tapi sering diabaikan: kekuatan sejati bukan pada senjata, tetapi pada kepemimpinan, strategi, dan kebijakan yang tepat.
Pertanyaannya jelas: siapa yang memutuskan taktik di lapangan? Apakah ada pedoman penggunaan kekerasan yang proporsional? Ketika jawaban atas pertanyaan ini lemah atau ambigu, setiap peralatan canggih menjadi bumerang. Polisi yang seharusnya melindungi, justru menimbulkan korban; demonstran yang tertib pun menjadi korban dari logika kekerasan itu sendiri.
Kematian dan luka-luka bukan sekadar “risiko lapangan”. Itu adalah hasil nyata dari kebijakan yang gagal dan komando yang lemah. Kontras antara polisi bersenjata lengkap dan TNI tangan kosong menjadi cermin keras: agresi berlebihan bukan tanda kekuatan, tetapi tanda kebodohan dan kekeliruan kebijakan.
Absurditas ini harus menjadi pelajaran bagi setiap pembuat kebijakan: ketika dominasi dan peralatan dijadikan jawaban utama, manusia selalu menjadi korban. Kekuasaan yang tidak diarahkan dengan bijak bukan melindungi, tapi menghancurkan—bahkan ketika alat tempur selengkap apapun ada di tangan mereka.

























