Oleh: Entang Sastraatmadja – (Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)
Produksi beras di Indonesia saat ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras pada kuartal I tahun 2025 mencapai 13,95 juta ton—angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh perluasan lahan panen. Pada Maret 2025, luas panen mencapai 1,67 juta hektare, menghasilkan 8,93 juta ton gabah kering giling (GKG), naik signifikan dibandingkan Maret 2024 yang hanya 1,11 juta hektare. Namun, perlu dicatat bahwa data ini hanya mencakup sebagian waktu dalam setahun. Evaluasi tahunan tetap diperlukan agar tidak gegabah dalam membuat kesimpulan besar.
Selain luas panen, peningkatan produktivitas menjadi faktor penting. Produktivitas padi—diukur dalam ton per hektare—dipengaruhi oleh berbagai hal: varietas unggul, manajemen lahan, penggunaan pupuk dan irigasi yang tepat, pengendalian hama, serta adopsi teknologi seperti drone dan alsintan.
Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, berperan aktif dengan mendistribusikan pompa air, benih unggul, dan alat mesin pertanian (alsintan). Dukungan kebijakan seperti subsidi pupuk dan program asuransi pertanian juga turut berkontribusi.
Namun, di balik angka-angka yang tampak gemilang ini, ada jebakan yang mengintai: kenaikan produksi tidak serta merta memperbaiki kesejahteraan petani.
Lahan Menyempit, Petani Tersingkir
Konversi lahan pertanian ke industri dan perumahan terus berlangsung. Tanah sawah yang subur tergerus tanpa perencanaan tata ruang yang memihak pertanian. Petani kehilangan lahan, dan regenerasi petani pun terhambat karena sektor ini makin tidak menjanjikan secara ekonomi.
Ancaman Iklim dan Ketimpangan Teknologi
Perubahan iklim juga menjadi tantangan serius. Pola tanam terganggu, intensitas hujan tak menentu, dan musim kering semakin panjang. Sementara itu, adopsi teknologi pertanian modern belum merata. Petani kecil masih kesulitan mengakses alsintan, pupuk, dan informasi agronomi terkini.
Infrastruktur Lemah, Harga Tak Stabil
Distribusi hasil panen masih terganjal infrastruktur yang minim. Jalan rusak, saluran irigasi tua, hingga rantai distribusi yang panjang membuat petani merugi. Belum lagi fluktuasi harga gabah yang tak menentu—petani kerap dipaksa menjual murah saat panen raya karena tak ada sistem penyangga yang memadai.
Swasembada Pangan: Mimpi atau Ilusi?
Swasembada pangan bukan sekadar soal produksi tinggi. Ia harus menyentuh keadilan struktural: bagaimana petani hidup layak, bagaimana lahan pertanian dilindungi, dan bagaimana negara hadir sebagai pelindung, bukan sekadar pengklaim prestasi.
Pemerintah dan masyarakat harus menyadari bahwa mengejar angka tanpa memperbaiki sistem sama saja menanam padi di tanah retak—tak akan bertahan lama. Keberlanjutan hanya mungkin terwujud jika kesejahteraan petani menjadi prioritas, bukan hanya ketersediaan stok nasional di gudang-gudang Bulog.
Penutup: Menanam Harapan, Menuai Kedaulatan
Langkah-langkah peningkatan produksi beras harus terus dilanjutkan dengan perbaikan menyeluruh. Gunakan teknologi tepat guna, kembangkan varietas unggul, dan tingkatkan kapasitas petani melalui pelatihan. Infrastruktur harus diperkuat, dan regulasi pertanian wajib mengutamakan kedaulatan pangan nasional.
Stop euforia sesaat atas angka produksi. Kita butuh kebijakan pangan yang berpihak pada akar rumput. Produksi yang tinggi hanya bermakna jika petani ikut sejahtera. Negeri agraris sejati bukan diukur dari tonase, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan petaninya.
























