OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA
Pasokan beras di ritel modern mengalami kekosongan setelah terungkap kasus pelanggaran mutu hingga oplosan pada sejumlah merek. Sementara itu, penggilingan beras skala kecil justru kebanjiran pesanan untuk menyalurkan ke pasar tradisional. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah masyarakat kini lebih memilih berbelanja di pasar tradisional daripada ritel modern?
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menilai hal ini sebagai hukum pasar. Menurutnya, harga beras di pasar tradisional relatif lebih murah dengan kualitas yang diklaim bagus. Namun, untuk memahami preferensi konsumen, diperlukan analisis lebih mendalam.
Preferensi Konsumen Beras
Penelitian menunjukkan bahwa konsumen memiliki preferensi berbeda dalam memilih tempat berbelanja. Sebagian lebih memilih pasar tradisional karena harga kompetitif, kualitas terjamin, dan interaksi langsung dengan penjual. Di Kota Makassar, misalnya, konsumen pasar tradisional rata-rata berusia 38 tahun, berjenis kelamin perempuan, lulusan SMA, ibu rumah tangga, dengan pendapatan sekitar Rp 2,77 juta per bulan.
Di sisi lain, ritel modern disukai oleh sebagian konsumen karena kenyamanan berbelanja, variasi produk, dan kondisi fisik pasar yang lebih baik. Beberapa konsumen juga menilai kualitas beras di ritel modern lebih terjamin karena standar yang ketat.
Harga dan Biaya Operasional
Harga beras di ritel modern cenderung lebih mahal karena biaya operasional yang tinggi. Sementara itu, harga beras di pasar tradisional lebih kompetitif, meski kadang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Fenomena perbedaan harga ini bisa dipahami sebagai bentuk kompensasi atau subsidi silang antara pasar tradisional dan modern.
Kenaikan harga beras menjadi perhatian serius. Pada Februari 2024, harga beras mencapai Rp 18.000 per kilogram, rekor tertinggi dalam sejarah perberasan Indonesia. Faktor penyebabnya meliputi biaya agroinput, biaya petani, sewa lahan, dan tenaga kerja.
Upaya Pemerintah
Untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan, pemerintah mengimplementasikan berbagai strategi:
- Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP): Menargetkan penyaluran 1,5 juta ton beras pada 2025.
- Gerakan Pangan Murah: Memberikan akses beras terjangkau sesuai HET.
- Bantuan Pangan: Distribusi beras 10 kg kepada 22 juta penerima manfaat.
- Peningkatan Produksi Pangan Domestik: Mengurangi ketergantungan pada impor.
- Perum Bulog: Menyerap panen petani dan menyalurkan beras melalui SPHP dengan stok dari Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berharap menjaga stabilitas harga beras dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Fenomena kekosongan pasokan ritel modern sekaligus lonjakan pasar tradisional menunjukkan bahwa preferensi konsumen sangat dipengaruhi oleh harga, kualitas, kenyamanan, dan kepercayaan. Dalam kondisi seperti ini, pasar tradisional justru tampil sebagai pemenang di tengah tantangan ritel modern.
(PENULIS, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA
























