**Jakarta, Fusilatnews** — Polemik terkait keabsahan nasab Ba’alawi yang mengklaim sebagai keturunan Rasulullah semakin memanas. Isu ini berkembang karena adanya kelompok yang mempertanyakan keotentikan klaim tersebut.
Panasnya polemik ini tidak lepas dari perilaku beberapa oknum Alawiyyin yang dianggap negatif oleh masyarakat. Terlebih lagi, banyak penceramah di media sosial yang mengaku sebagai habaib diduga ‘memamerkan’ karamah mereka atau karamah leluhur yang dianggap di luar nalar.
Ketua RMI NU Jakarta, KH Rakhmad Zailani Kiki, menegaskan bahwa karamah adalah sesuatu yang pribadi dan tidak seharusnya diumumkan kepada publik. “Karamah itu aurat. Jadi, untuk apa dipertontonkan? Tidak semua orang yang mendengar akan memahami dengan benar. Kalau disampaikan, maksudnya apa? Justru melemahkan semangat orang untuk bekerja dan menjadi tidak produktif karena karamah itu di luar nalar, tidak bisa di-copy paste,” ujar Kiai Kiki, Selasa (10/9/2024).
Kiai Kiki meminta kepada para Alawiyyin untuk bercermin kepada para leluhur mereka yang terdahulu. Ia mencontohkan, para ulama Ba’alawi di masa lalu, seperti Habib Utsman bin Yahya, memberikan kontribusi besar dalam bidang keilmuan, termasuk mengarang 114 kitab sepanjang hidupnya. “Sekarang, tidak banyak lagi yang seperti itu karena mereka mengalami defisit intelektual. Mereka terlalu mengandalkan kisah-kisah nenek moyangnya,” tambah Kiai Kiki.
Selain itu, Kiai Kiki juga mengimbau agar polemik tentang nasab Ba’alawi segera dihentikan. Menurutnya, untuk mempererat kembali ukhuwah, yang sebaiknya dikedepankan adalah masalah sanad. Ia menjelaskan bahwa sanad merupakan geneologi intelektual yang juga bersambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar geneologi biologis.
Ia menambahkan bahwa banyak dari para habaib, termasuk yang berafiliasi dengan Ba’alawi, sering berguru kepada para ulama non-habaib. Sanad keilmuan mereka tetap bersambung hingga kepada Nabi Muhammad SAW. “Mereka memiliki catatan emas yang sampai pada Nabi Muhammad. Kalau ingin menyejukkan, maka arahkan ke sana,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kiai Kiki menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang ia terima dari seseorang yang bekerja di Perpustakaan Al-Azhar, Kairo, Mesir, terdapat dokumen silsilah sanad Ahlusunnah Waljamaah yang bersambung hingga kepada Nabi Muhammad SAW. Ia memberikan contoh, Syekh Mukhtar Atharid atau Tuan Mukhtar Bogor pernah belajar kepada Habib Utsman bin Yahya, seorang habaib.
“Habib Ali adalah murid dari Habib Utsman bin Yahya. Sanad keilmuan itu semuanya menjadi tidak terpisahkan antara habaib dan non-habaib. Yang dijunjung adalah ilmu dan ketinggian akhlak,” tutupnya.


























