By Paman BED
Ada satu kesalahan besar yang terus berulang dalam diskusi ekonomi di negeri ini: terlalu sibuk membahas kurs, tetapi lupa membangun dapurnya.
Setiap rupiah melemah, kita ribut soal dolar. Setiap dolar naik, kita sibuk mencari kambing hitam.
Ada yang menyalahkan The Fed. Ada yang menyalahkan geopolitik global. Ada yang menyalahkan perang dagang. Ada pula yang sibuk mengutak-atik sektor moneter agar pasar terlihat tenang.
Padahal masalah terbesar kita sering kali jauh lebih sederhana: kita terlalu sedikit menghasilkan barang bernilai tambah.
Kita menjual bahan mentah, lalu membeli kembali barang jadinya dengan harga berkali-kali lipat.
Kita ekspor nikel, tetapi membeli baterai. Kita kirim hasil laut mentah, tetapi membeli makanan olahan impor. Kita menjual hasil kebun, tetapi negara lain yang menikmati keuntungan industri turunannya.
Mereka menjual teknologi. Kita menjual tanah dan keringat.
Akibatnya, setiap dolar menguat, kita ikut limbung. Struktur ekonomi kita belum cukup kokoh untuk menopang dirinya sendiri.
Itulah sebabnya solusi jangka panjang untuk menjaga rupiah sesungguhnya bukan hanya intervensi pasar valas, menaikkan suku bunga, atau menerbitkan global bond. Semua itu mungkin membantu menenangkan pasar untuk sementara, tetapi tidak otomatis membuat fondasi ekonomi menjadi kuat.
Padahal, tanpa intervensi Bank Indonesia (seperti menaikkan suku bunga atau triple intervention saat krisis), sektor riil bisa mati duluan akibat inflasi yang meroket atau biaya impor bahan baku yang melonjak sebelum sempat “naik kelas”. Sektor moneter adalah stabilizer, sedangkan sektor riil adalah engine. Keduanya harus jalan bersamaan.
Sebab mata uang yang sehat pada akhirnya tidak lahir dari pidato optimistis atau seminar ekonomi di hotel berbintang. Ia lahir dari rakyat yang produktif dan industri yang benar-benar hidup.
Dan dunia sebenarnya sudah memberi contoh yang sangat jelas.
Lihat Korea Selatan dan Taiwan.
Mereka tidak menjadi kuat karena terlalu banyak berbicara soal nasionalisme ekonomi di podium seminar. Mereka menjadi kuat karena membangun industri rakyat secara disiplin, detail, dan konsisten selama puluhan tahun.
Mereka memulai dari industri kecil. Dari bengkel sederhana. Dari UMKM keluarga. Dari koperasi produksi. Dari industri tekstil, elektronik rumahan, komponen kecil, hingga akhirnya menembus rantai pasok global.
Negara-negara itu memahami satu hal penting: kekuatan mata uang tidak ditentukan oleh seberapa keras pemerintah berbicara di pasar keuangan, tetapi oleh seberapa produktif rakyatnya menghasilkan nilai tambah.
Masalah Kita: Terlalu Banyak Seminar, Terlalu Sedikit Eksekusi
Masalahnya, sektor riil tidak akan bangkit hanya dengan slogan hilirisasi atau jargon transformasi ekonomi.
Ia membutuhkan pekerjaan yang panjang, detail, dan kadang membosankan. Tetapi justru di situlah revolusi ekonomi yang sesungguhnya lahir.
Kita tidak bisa hanya menyuruh petani singkong mendadak menjadi pengusaha industri tanpa kendaraan, teknologi, modal kerja, dan kepastian pasar yang jelas.
Konkritnya, setelah jasa kebijakan sektor moneter untuk stabilisasi moneter, dibutuhkan kolaborasi cantik antara raksasa hilirisasi dengan hilirisasi UMKM dimana standarisasi dengan bimbingan pemerintah, UMKM dapat menjadi partner memberikan nilai tambah produk dengan berbagai produk pendukung agar produk kita bernilai tambah dibanding sebelumnya sebelum diekspor.
Peran UMKM menjadi strategis karena nilai jual ekspor bertambah dan UMKM menjadi mesin pertumbuhan ekonominya.
Transformasi ekonomi rakyat membutuhkan cetak biru yang benar-benar menyentuh lapangan.
Dan setidaknya ada empat fondasi besar yang harus dibangun secara serius.
1. Revolusi Teknologi Pertanian dan Pascapanen
Transformasi harus dimulai dari hulu.
Petani singkong tidak akan pernah naik kelas jika produktivitas lahannya tetap rendah dan hasil panennya dijual dalam bentuk mentah.
Pemerintah, perguruan tinggi, dan industri harus benar-benar turun ke lapangan:
memperkenalkan varietas unggul,
membantu teknik tanam presisi,
memperbaiki irigasi,
hingga memastikan petani memahami standar industri.
Masalah besar kita selama ini bukan hanya produksi, tetapi juga kehilangan nilai tambah setelah panen.
Singkong segar cepat rusak. Ikan cepat membusuk. Kelapa dijual mentah. Hasil kebun berhenti di tengkulak.
Padahal jika ada teknologi sederhana seperti mesin pengering, alat pencacah, gudang pendingin, dan fasilitas pengolahan desa, nilai ekonominya bisa melonjak berkali-kali lipat.
Petani jangan terus didorong menjadi penjual bahan mentah. Mereka harus naik kelas menjadi bagian dari rantai industri.
2. Modal Kerja yang Tidak Mencekik Rakyat
Sektor riil sering kali mati bukan karena rakyat malas bekerja, tetapi karena kehabisan “darah”: modal kerja.
Banyak petani dan UMKM sebenarnya produktif, tetapi terjebak dalam skema pembiayaan yang memberatkan.
Mereka diminta agunan. Dikejar cicilan. Tetapi harga hasil panennya justru dimainkan oleh pasar.
Di sinilah negara harus hadir dengan skema pembiayaan yang lebih cerdas.
Sistem resi gudang, misalnya, bisa membuat petani tidak dipaksa menjual saat harga jatuh.
Koperasi produktif juga harus diperkuat menjadi penghubung antara petani, industri, dan perbankan.
Karena ekonomi rakyat tidak bisa dibangun hanya dengan pidato tentang UMKM, sementara akses modalnya tetap dikuasai oleh pola lama yang birokratis dan menakutkan.
3. Membangun Standar Industri, Bukan Belas Kasihan
Pasar global tidak membeli rasa kasihan. Mereka membeli kepastian.
Industri besar hanya mau menyerap produk rakyat jika kualitasnya konsisten, volumenya stabil, harganya kompetitif, dan pengirimannya tepat waktu.
Artinya sektor riil rakyat harus naik kelas:
Dari produksi eceran menjadi produksi terintegrasi, dari usaha tradisional menjadi industri modern, dari pola musiman menjadi rantai pasok berkelanjutan.
Karena itu, sertifikasi mutu, efisiensi logistik, digitalisasi distribusi, dan konsolidasi koperasi menjadi sangat penting.
Petani tidak boleh terus dibiarkan berjalan sendiri-sendiri seperti perahu kecil melawan ombak besar pasar global.
Mereka harus dibangun menjadi armada ekonomi bersama.
4. Kepastian Hukum untuk Industri Rakyat
Ini bagian yang paling sering dilupakan.
Tidak ada investor yang mau membangun industri rakyat jika aturan berubah-ubah dan kepastian hukumnya lemah.
Lahan pertanian produktif tidak boleh setiap saat berubah menjadi kawasan beton hanya karena permainan tata ruang.
Koperasi jangan dipersulit izinnya. UMKM jangan dipalak birokrasi. Industri rakyat jangan dibiarkan kalah oleh kartel distribusi.
Ekonomi tidak hanya tumbuh dari modal dan teknologi, tetapi juga dari rasa aman untuk bekerja dan berusaha.
Saatnya Berhenti Terlalu Kagum pada Grafik
Bayangkan jika desa-desa penghasil singkong memiliki pabrik tepung modern sendiri. Bayangkan jika hasil laut pesisir diolah menjadi produk makanan ekspor bernilai tinggi.
Bayangkan jika kelapa, kopi, rumput laut, dan hasil bumi lainnya diproses di dalam negeri oleh industri rakyat yang kuat.
Maka yang tumbuh bukan hanya angka ekspor di atas kertas.
Tetapi juga: lapangan kerja, devisa riil, konsumsi domestik, dan daya tahan rupiah yang lahir dari otot ekonomi sendiri.
Karena mata uang yang kuat pada akhirnya tidak lahir dari rasa takut kepada dolar.
Ia lahir dari sawah yang produktif. Dari pabrik kecil yang hidup. Dari gudang logistik yang bekerja. Dari koperasi yang sehat. Dari UMKM yang naik kelas. Dan dari rakyat yang benar-benar diberi kesempatan menjadi pelaku industri, bukan sekadar penonton pembangunan.
Rupiah akan benar-benar sehat ketika rakyatnya mampu mengubah bahan mentah menjadi nilai tambah dengan dukungan teknologi, modal, dan kepastian hukum.
Sebab pada akhirnya, kedaulatan ekonomi tidak lahir dari seminar.
Ia lahir dari sektor riil yang hidup.
Kesimpulan
Penguatan rupiah dalam jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter, intervensi pasar, atau arus modal asing yang sifatnya sementara. Stabilitas sejati hanya dapat dibangun melalui sektor riil yang produktif, berbasis nilai tambah, dan ditopang oleh industri rakyat yang kuat.
Korea Selatan dan Taiwan menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi lahir dari keberhasilan membangun UMKM, manufaktur, koperasi, dan rantai pasok domestik yang terintegrasi. Indonesia memiliki sumber daya besar, tetapi membutuhkan keberanian untuk beralih dari ekonomi bahan mentah menuju ekonomi industri bernilai tambah.
Saran
Pemerintah perlu menggeser fokus pembangunan dari sekadar menjaga stabilitas jangka pendek menuju pembangunan produktivitas jangka panjang melalui: modernisasi pertanian dan pascapanen, penguatan pembiayaan sektor riil, pembangunan industri berbasis desa dan koperasi, penyederhanaan regulasi, serta perlindungan hukum bagi industri rakyat.
Karena pada akhirnya, mata uang yang kuat bukan ditopang oleh ketakutan pasar, tetapi oleh rakyat yang produktif dan ekonomi domestik yang benar-benar bekerja.
Referensi
bloombergtechnoz.com
bi.go.id
oecd.org
adb.org
kemenkopukm.go.id
By Paman BED



















