Jakarta -Fusilatnews – Eskalasi ‘Konflik’ saling sindir antara Partai Nasional Demokran melawan Partai Demokrasi Perjuangan yang diawali oleh reaksi PDIP terhadap keputusan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden dalam pemilu presiden 2024 mendatang. Diawali oleh pernyataan Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat yang meminta Presiden untuk melakukan evaluasi terhadap dua menteri yang berasal dari Partai Nasdem yaitu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya eskalasi perang pernyataan antara elite Nasdem melawan Elite PDIP semakin memanas.
Selanjutnya disusul oleh serangan yang dilakukan oleh rekan sejawatnya Sekjen PDIP Hasto Kristyanto yang mengatakan ada laporan kerja menteri ke Presiden Joko Widodo yang tidak tepat. Sebagai pembantu Presiden, kata Hasto, menteri mestinya menguasai pelbagai hal yang diurusi kementeriannya. Menteri yang dituding adalah Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang berasal dari NasDem.
“Ada yang disampaikan Menteri Pertanian ke Presiden kan tidak tepat. Bayangkan saja, menteri itu kan pemerintahan, dalam pengertian sehari-hari, (menteri) yang menguasai hal ihwal kementerian yang dipimpinnya,” kata Hasto, Kamis, 19 Januari 2023.
Menjawab pernyataan Hasto elite Nasdem bereaksi, Wakil Ketua Umum NasDem Ahmad Ali. menegaskan, pernyataan Hasto itu hanya berdasarkan persepsinya. selnjutnya meminta PDIP tidak perlu mendesak-desak Jokowi untuk mengocok ulang menteri. karena, urusan reshuffle itu hak prerogatif Presiden.
“Jadi kita tidak usah menuding seorang menteri berdasarkan hal yang berangkat dari ketidaksukaan kita. Jadi seorang menteri memberikan data pasti punya basis,” kata Ali, Senin, ( 30/1 )
Nasdem tidak pernah mendesak Presiden untuk reshuffle saat kader PDIP melakukan tindak pidana korupsi bansos
“Bagi kita, kalau NasDem dituding seperti itu kan itu asumsi. Bagaimana dengan Kemensos yang kemarin terlibat kasus korupsi ya kan? Apakah kita ada minta reshuffle mengganti PDIP? Kan tidak,” kata Ali
Adanya reaksi dari Ketum PDIP Megawati ketika Surya Paloh mengusulkan untuk bertemu dengan Megawati dengan mengatakan “Beri kode-kode dulu,” kata Paloh saat berkunjung ke DPP Golkar yang disambut Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Rabu, 1/2
Sekjen PDIP menanggapinya “Kan NasDem udah punya capres, dan ini capresnya berbeda dengan PDI Perjuangan, karena pidato Ibu Mega kan capres PDIP dari kader, capres yang berprestasi, bukan capres yang pintar berpoles diri, kan beda, kode-kode ini kami tangkap dulu,” ujar Hasto seperti dikutip Tempo, Jumat, (3/2).
Menanggapi jawaban Hasto. Ketua DPP Partai NasDem Sugeng Suparwoto mengatakan, pertemuan 2 partai harus dibangun antara kedua belah pihak.
“Itu salah alamat Hasto itu. Nggak ada mau kasih kode ketemu. Apakah ditanya apa mungkin ketemu? Ya mungkin saja mungkin justru mau bertemu dengan siapa pun. Bukan lantas secara spesifik kita mau ketemu Mega tidak. Bahwa Partai NasDem Pak Surya juga dan kita semua saya kira harus dalam pikiran untuk membuka diri kepada siapa pun tidak boleh ada politikan blok yang keras, begitu loh,” kata Sugeng kepada wartawan.
Hasto juga pernah menegaskan bahwa PDIP enggan berkoalisi dengan partai yang suka impor.
“Kalau terhadap partai yang sukanya impor, ini nggak cocok buat PDIP. Kita lebih cenderung bekerja sama dengan partai yang memiliki kesamaan ideologi dan platform serta agenda bagi masa depan tersebut,” kata Hasto di Sekolah Partai PDIP, Jumat, ( 3/2).
Menanggapi pertanyaan Hasto, Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya mengatakan sifat gotong royong terhadap sesama partai politik mestinya dilestarikan, alih-alih dimatikan dengan narasi-narasi yang arogan dan bernuansa permusuhan.
“Katanya kita gotong royong, terus menebar narasi permusuhan. Siapa yang menggigit cabai siapa yang kepedesan? Nanti jangan-jangan nggak ada orang yang mau berkawan sama dia. Nggak boleh kita hidupnya arogan kalau gotong royong,” kata Willy, Jumat, 3/2 Februari 2023.
Willy menegaskan bahwa hidup tidak boleh arogan. “Kalau kita stick dengan gotong royong, kurang dan lebih itu kita bersama-sama. Gitu dong, baru Soekarnois. Kalau engga ya gimana? Kita permusuhan terus,” balas Willy.
























