• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

SI Merah: Ketika Islam, Nasionalisme, dan Komunisme Pernah Berbagi Rahim Sejarah

Ali Syarief by Ali Syarief
January 28, 2026
in Feature, Sejarah
0
SI Merah: Ketika Islam, Nasionalisme, dan Komunisme Pernah Berbagi Rahim Sejarah
Share on FacebookShare on Twitter

Sejarah pergerakan Indonesia tidak lahir dari garis lurus. Ia tumbuh dari persilangan ide, pertarungan gagasan, dan pencarian bentuk keadilan. Salah satu episode paling menentukan adalah kemunculan SI Merah — faksi komunis dalam tubuh Syarikat Islam. Fenomena ini bukan sekadar penyimpangan ideologis, melainkan cermin dari kegelisahan zaman, kelenturan organisasi, dan dahaga rakyat terhadap keadilan sosial. Dari rahim yang sama, lahir tiga arus besar: Islam politik, nasionalisme, dan komunisme.


1. Syarikat Islam: Gerakan Islam-Dagang yang Menjadi Organisasi Massa

Syarikat Islam bermula bukan sebagai partai politik, melainkan asosiasi pedagang Muslim. Didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 1911, organisasi ini bertujuan melindungi pedagang pribumi dari dominasi jaringan dagang perantara Tionghoa yang kala itu dekat dengan struktur kolonial.

Ketika kepemimpinan beralih ke H.O.S. Tjokroaminoto, SI menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar:
bukan sekadar koperasi dagang, melainkan gerakan rakyat berbasis Islam.
Untuk pertama kalinya, rakyat pribumi mengenal organisasi modern dengan disiplin, kongres, keanggotaan, dan struktur nasional.

SI pun meledak. Dalam beberapa tahun, anggotanya mencapai ratusan ribu. Ia menjadi organisasi massa pertama dalam sejarah Indonesia modern. Islam memberi daya ikat moral, sementara penderitaan kolonial memberi bahan bakar emosi kolektif.


2. Masuknya Angin Sosialisme dari Eropa

Pada saat yang sama, arus lain memasuki Hindia Belanda: sosialisme revolusioner.
Tokohnya adalah Henk Sneevliet, seorang aktivis kiri Belanda yang mendirikan ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) pada 1914.

Sneevliet memahami satu hal penting:
revolusi tidak mungkin lahir tanpa basis massa pribumi.

Dan di Hindia Belanda, tak ada wadah massa yang lebih besar dari SI. Maka dimulailah strategi yang halus: mendidik kader muda SI dengan literatur sosialisme, kelas-kelas diskusi, dan propaganda buruh.

Beberapa kader muda SI yang cerdas dan radikal tertarik:

  • Semaun
  • Darsono
  • Alimin
  • Musso

Mereka tetap mengaku Muslim, tetap aktif di SI, tetapi mulai menafsirkan Islam sebagai agama perjuangan kaum tertindas. Dari sinilah benih SI Merah mulai tumbuh.


3. Islam sebagai Moral, Sosialisme sebagai Metode

Menariknya, SI Merah tidak serta-merta menolak Islam.
Mereka justru memadukan dua narasi:

  • Islam → memberi legitimasi moral: keadilan, persaudaraan, pembelaan kaum lemah
  • Sosialisme → memberi analisis struktur: penindasan kelas, eksploitasi kolonial

Bagi kaum muda SI, komunisme tampak sebagai alat perjuangan yang lebih ilmiah, sementara Islam menjadi roh pembakar semangat.

Perpaduan ini menjadikan SI Merah sangat efektif menarik:

  • Buruh perkebunan
  • Pekerja pelabuhan
  • Petani miskin

Kota Semarang menjadi basis utamanya. Di sana, SI Merah tampil lebih militan, lebih terorganisir, dan lebih berani menantang kolonial.


4. Lahirnya Dua Wajah SI: Putih dan Merah

Perbedaan orientasi ini akhirnya melahirkan istilah populer:

  • SI Putih → dipimpin Tjokroaminoto, berhaluan Islam-nasionalis
  • SI Merah → dipimpin Semaun cs, berhaluan sosialis-komunis

Pertentangan bukan hanya soal ideologi, tetapi juga soal arah perjuangan:

  • SI Putih menempuh jalur gradual, etis, dan diplomasi politik
  • SI Merah mendorong aksi massa, mogok buruh, bahkan revolusi

Kolonial Belanda mengamati dengan cemas. SI Merah dianggap lebih berbahaya karena menyasar basis produksi ekonomi kolonial.


5. Pecahnya SI dan Kelahiran PKI

Ketegangan internal memuncak pada Kongres SI 1921–1923.
Tjokroaminoto mengeluarkan keputusan tegas:

Anggota SI dilarang merangkap keanggotaan dalam organisasi komunis.

Ini ultimatum politik.
SI Merah menolak.
Mereka memilih keluar.

Tahun 1920–1924, SI Merah bertransformasi penuh menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sejak itu, SI melanjutkan jalan sebagai Partai Sarekat Islam, sedangkan SI Merah menjelma menjadi kekuatan kiri paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Perpecahan ini mengakhiri satu fase, tetapi melahirkan babak baru perjuangan ideologis bangsa.


6. Rumah Tjokroaminoto: Rahim Tiga Ideologi

Ada satu ironi sejarah yang selalu dikutip:
di rumah kos Tjokroaminoto di Surabaya, pernah tinggal tiga murid dengan jalan berbeda:

  • Soekarno → nasionalisme
  • Kartosoewiryo → Islam negara
  • Semaun → komunisme

Tiga jalan besar politik Indonesia lahir dari satu atap yang sama.
Ini menunjukkan bahwa SI bukan sekadar organisasi, tetapi laboratorium ideologi bangsa.


7. Makna Sejarah SI Merah

Fenomena SI Merah mengajarkan satu pelajaran penting:
Ketika rakyat tertindas mencari keadilan, mereka akan merangkul ide apa pun yang menawarkan harapan.

Islam memberi identitas, komunisme memberi struktur perlawanan.
Penyatuan keduanya mungkin hanya sesaat, tetapi dampaknya membentuk sejarah panjang Indonesia: dari pemberontakan buruh, pergerakan kiri, hingga tragedi politik 1965.

SI Merah bukan anomali.
Ia adalah gejala zaman — lahir dari kolonialisme, kemiskinan, dan pencarian bentuk perjuangan yang paling efektif.


Penutup

Syarikat Islam pernah menjadi rahim tempat berbagai ide besar tumbuh.
Nasionalisme, Islam politik, dan komunisme — tiga arus yang kelak saling bertarung — pernah duduk semeja, belajar dalam satu rumah, dan berjuang dalam satu organisasi.

Sejarah SI Merah mengingatkan kita bahwa ideologi tidak lahir di ruang steril.
Ia tumbuh di ladang penderitaan rakyat.
Dan selama keadilan sosial masih menjadi janji yang tertunda, sejarah semacam itu akan selalu mungkin terulang — dengan nama dan baju yang berbeda.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo : Pemimpin Oratoris – Stage Leader

Next Post

RUU Propaganda Asing: Dari Mana Prabowo Meminjam Ketakutan, Siapa yang Sebenarnya Ia Bidik, dan Mengapa Tempo Dituding Antek

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau
Bencana

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan
Feature

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Next Post
Agama, Politik, dan Jalan Damai: Belajar dari Seruan Prabowo di PBB

RUU Propaganda Asing: Dari Mana Prabowo Meminjam Ketakutan, Siapa yang Sebenarnya Ia Bidik, dan Mengapa Tempo Dituding Antek

Indonesia membuat kemajuan menuju nol deforestasi kelapa sawit – tetapi keuntungan dalam perlindungan hutan masih rapuh

Stop Sawit: Saat Indonesia Menentukan Nasib Oksigen Dunia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026
Komposisi Pansel KPK Didominasi unsur Pemerintah, Menarik Perhatian Jaksa Agung

KOSMAK Desak Prabowo Copot Jaksa Agung

July 15, 2026
“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

“Lā Qaḍā’a wa Lā Qadara”: Ketika Teologi Menjadi Bahasa Perlawanan terhadap Kekuasaan

July 15, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Yang Terusir dan Mengusir

July 14, 2026
Negara yang Kehilangan Kompas

Negara yang Kehilangan Kompas

July 14, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

LDC Desak Menteri Komdigi Susun Kode Etik Advokasi Digital, Ableism Dinilai Kian Masif

July 15, 2026
DPR Kritik  Menteri KP Terkait  Ijin Ekspor Pasir Laut Dengan Sedot Pulau

Ketika DPR Ogah Gali Lubang Kuburnya Sendiri

July 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...