Fusilatnews – Suasana Istana Negara pada peringatan HUT Kemerdekaan ke-80 hari ini terasa berbeda. Bukan hanya karena upacara berlangsung dengan penuh khidmat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, melainkan juga karena ada wajah-wajah lama yang kembali hadir, serta beberapa yang justru menghilang. Di tengah bendera merah putih yang berkibar dan lantunan lagu kebangsaan yang menggema, sejarah seakan menemukan panggungnya sendiri—duduk di kursinya masing-masing.
Sorotan utama jatuh pada Megawati Soekarnoputri. Setelah sekian lama jarang terlihat di Istana, akhirnya putri proklamator itu kembali hadir. Yang menarik, ia tidak duduk di barisan mantan presiden, melainkan bersama kakak dan adiknya—anak-anak Bung Karno lainnya. Barisan itu seperti menegaskan satu hal: bahwa simbol Soekarnoisme tetap hadir dalam denyut upacara kenegaraan, bukan hanya melalui politik, tetapi juga melalui darah daging sang proklamator.
Di sisi lain, Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono tampak duduk bersebelahan di kursi yang diperuntukkan bagi mantan presiden. Pemandangan ini menyimpan lapisan simbolik tersendiri. Jokowi, yang baru saja mengakhiri kekuasaan sepuluh tahun penuh kontroversi dan nepotisme, kini resmi menyandang status “mantan”—meski bayang-bayang politiknya masih terasa melalui anak dan kerabatnya yang menempati panggung kekuasaan. Sementara SBY tampak lebih tenang, seolah benar-benar sudah menutup buku politiknya, hadir sekadar sebagai bagian dari etalase kenegaraan.
Namun, dari semua kehadiran itu, ada satu kekosongan yang begitu mencolok: keluarga Cendana tidak terlihat. Nama besar Soeharto, yang pernah mencengkeram republik selama lebih dari tiga dekade, kini absen dari panggung utama negara. Tidak ada Tutut, tidak ada Tommy, tidak ada Bambang, tidak ada kerabat yang duduk sebagai representasi warisan Cendana. Kursi itu kosong—dan justru dari kekosongan itulah publik membaca pesan politik yang lebih tajam daripada kehadiran siapa pun.
Ketidakhadiran Cendana bisa dibaca sebagai tanda perubahan zaman. Dulu, keluarga ini adalah simbol dominasi; istana adalah rumah kedua mereka, bahkan pusat kekuasaan yang tidak pernah lepas dari genggaman. Kini, sejarah seperti menggeser mereka keluar dari ruang utama republik, menyisakan nama yang hanya dibisikkan dalam kontroversi dan nostalgia.
Perbedaan nasib antara keluarga Bung Karno dan keluarga Soeharto di momen ini terasa jelas. Yang satu kembali hadir sebagai legitimasi simbolik sejarah bangsa, yang lain seakan dihapus dari panggung resmi. Publik tentu bisa menafsirkan ini dengan beragam sudut pandang. Apakah ini upaya negara untuk merawat ingatan kolektif yang lebih dekat pada proklamasi? Atau sekadar permainan simbol politik, di mana narasi sejarah ditata ulang sesuai kebutuhan kekuasaan hari ini?
Istana Negara hari ini bukan sekadar tempat upacara, melainkan panggung simbol. Kursi-kursi yang ditempati maupun yang kosong berbicara tanpa kata. Megawati duduk dengan keluarganya sebagai penanda keberlanjutan Bung Karno. Jokowi dan SBY duduk dalam protokol mantan presiden, menandai rotasi kepemimpinan yang tak lagi punya daya selain dalam kenangan. Dan keluarga Cendana—tidak hadir, tidak terlihat, mungkin sengaja dihapuskan dari panggung—menjadi simbol betapa sejarah bisa begitu cepat menggeser tokoh dan dinasti yang dulu seakan tak tergoyahkan.
Di hari kemerdekaan ini, bangsa tidak hanya merayakan usia. Ia juga sedang berkaca pada dirinya sendiri: siapa yang dipilih untuk diingat, siapa yang dipersilakan duduk, dan siapa yang akhirnya harus menerima kenyataan bahwa sejarah telah menutup kursi untuk mereka.


























