• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Surat Terbuka untuk Bambang: Menepuk Air di Dulang! 

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
July 16, 2025
in Feature, Pojok KSP, Politik
0
MKD Nyatakan Bamsoet Langgar Etik, Bamsoet Menyatakan  MKD Tak Berhak Adili Pimpinan MPR
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Peribahasa ini tampaknya paling tepat menggambarkan sikap Bambang Soesatyo—anggota DPR RI yang juga pernah menjabat sebagai Ketua DPR RI ke-20 dan kini Ketua MPR RI ke-15. Dalam opininya di rubrik Kolom detik.com berjudul “Amandemen Kelima UUD NRI 1945 untuk Optimalisasi Praktik Ketatanegaraan” yang tayang Selasa (15/7/2025) pukul 07:59 WIB, Bamsoet—sapaan akrabnya yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Partai Golkar—mengusulkan amandemen kelima UUD 1945, setelah sebelumnya dilakukan empat kali amandemen antara tahun 2000 hingga 2002.

Yang menarik, Bamsoet mengklaim bahwa usulannya tidak lahir dari ruang hampa, melainkan didorong oleh kenyataan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mewarisi berbagai persoalan serius: maraknya korupsi, terpecahnya masyarakat, kegaduhan politik tanpa akhir, serta melemahnya ketahanan ekonomi nasional.
Ia menyebut kerusakan itu sebagai akibat dari buruknya tata kelola kekuasaan, hukum, dan etika publik yang selama ini diselimuti masalah struktural. Secara implisit, Bamsoet menuding pemerintahan sebelumnya—yakni Presiden ke-7 RI, Joko Widodo—telah meninggalkan warisan yang buruk.

Namun di sinilah peribahasa tadi menjadi relevan: menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Bukankah Partai Golkar berada dalam lingkar kekuasaan selama dua periode pemerintahan Jokowi (2014–2019 dan 2019–2024)? Artinya, Golkar ikut bertanggung jawab atas kerusakan dan kemunduran yang kini dikeluhkan Bamsoet sendiri. Apalagi, Bamsoet bukan hanya bagian dari pemerintahan saat itu, tetapi juga menduduki posisi strategis sebagai Ketua DPR dan kemudian Ketua MPR—dua lembaga yang seharusnya bisa memainkan peran pengawasan dan penyeimbang kekuasaan.

Pertanyaannya, mengapa kini Bamsoet justru seolah ingin lepas tangan, bahkan mencuci tangan, dari semua kerusakan yang terjadi di era Jokowi?

Bamsoet juga menyoroti dominasi oligarki dalam pemerintahan. Menurutnya, oligarki tidak pernah memikirkan rakyat karena hanya mengejar keuntungan untuk kelompoknya sendiri. Ia menilai, kooptasi oleh oligarki telah melemahkan sistem check and balances hingga nyaris tak berfungsi. Akuntabilitas etis di kalangan pejabat publik, katanya, mendekati titik nol, sehingga tak heran jika korupsi merajalela dan nilainya mencapai triliunan rupiah.

Namun, pertanyaan kritis kembali muncul: bukankah Partai Golkar juga merupakan bagian dari oligarki itu sendiri? Jika oligarki dianggap sebagai sumber kehancuran sistem politik, mengapa Golkar tetap bertahan dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus bersama tujuh partai lainnya—minus PDI Perjuangan? Mengapa Golkar tidak mengambil sikap sebagai oposisi atau penyeimbang?

Dan jika korupsi yang ia soroti begitu marak, bukankah beberapa pelakunya berasal dari partainya sendiri? Cukup menyebut dua nama besar: mantan Ketua DPR RI Setya Novanto dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar. Lagi-lagi, Bamsoet menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Dalam tulisannya, Bamsoet juga mengkritik penegakan hukum yang tebang pilih, hingga adanya dugaan rekayasa kasus pidana, dan menyayangkan independensi aparat hukum yang kian pudar.
Namun, bukankah penunjukan dan pengawasan terhadap para aparat hukum seperti Kapolri, Hakim Agung, Hakim MK, pimpinan KPK, hingga Komisioner KY dilakukan oleh DPR RI—tempat Bamsoet menjadi anggotanya bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Komisi III yang membidangi hukum dan aparat penegak hukum? Jaksa Agung pun merupakan mitra kerja Komisi III. Sekali lagi, kritik itu kembali memantul ke dirinya sendiri.

Jika perjalanan reformasi sarat masalah sebagaimana yang diurai Bamsoet, pertanyaannya: mengapa solusinya harus amandemen UUD 1945? Bukankah amandemen bisa melebar ke berbagai arah yang tak terkontrol—bahkan bisa membuka kotak Pandora seperti usulan kembali ke UUD 1945 asli? Yang lebih penting dari amandemen justru siapa yang menjalankan konstitusi, bukan isi konstitusinya semata. Semangat dan integritas para penyelenggara negara jauh lebih menentukan daripada sekadar perubahan teks konstitusi.

Sebagus apa pun pasal-pasal dalam UUD, jika para pelaksana negaranya korup, tak berintegritas, dan tunduk pada kepentingan oligarki, maka negara tetap akan berjalan pincang. Konstitusi memang bukan kitab suci yang tak boleh diubah, tapi terlalu sering mengamandemennya justru menandakan bangsa ini tak punya visi jangka panjang.

Bamsoet dalam opininya menyatakan setuju dengan gagasan Prof. Jimly Asshiddiqie bahwa presiden tetap dipilih langsung oleh rakyat, sementara wakil presiden diajukan presiden terpilih untuk disetujui MPR. Bamsoet menilai ini akan mencegah jebakan koalisi transaksional.
Namun, tafsir berbeda bisa muncul: justru dengan model seperti itu, politik transaksional bisa semakin subur karena penentuan wakil presiden akan jadi arena tawar-menawar politik di MPR.

Pada akhirnya, usulan Bamsoet soal amandemen patut dianggap sebagai retorika kosong—omon-omon belaka. Ia tidak memulai dari dirinya sendiri dan partainya. Soal dominasi oligarki, misalnya, mengapa Golkar tidak lebih dulu keluar dari KIM Plus dan mengambil sikap sebagai oposisi di parlemen?

Orang Jawa bilang, jarkoni—bisa berujar, tapi tak bisa nglakoni. Nah, itulah Bamsoet.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bulog: Dari Gudang Negara ke Alat Kedaulatan Pangan

Next Post

19% Vs 0%: Prabowo Merasa Menang Lawan Trump

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Feature

DEMOKRASI: SUDAH, TAPI BELUM

July 23, 2026
Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN
Feature

Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

July 23, 2026
Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029
Feature

Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

July 22, 2026
Next Post
TRUMPISME, PRABOWOISME DAN GERHANA GLOBALISME

19% Vs 0%: Prabowo Merasa Menang Lawan Trump

Harga Beras Global Mencapai Level Tertinggi Dalam 15 tahun setelah India Membatasi: FAO

Produksi Beras Meningkat, tapi Petani Tercekik: Di Balik Euforia Swasembada Pangan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

DEMOKRASI: SUDAH, TAPI BELUM

July 23, 2026
Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

July 23, 2026
SETARA Institute Desak Perlindungan Konstitusional bagi Jemaat Ahmadiyah

Militerisasi Pengawasan Pajak Dinilai Inkonstitusional, Setara Institute: Negara Tak Boleh Menakut-nakuti Wajib Pajak

July 22, 2026
Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

Jokowi – PSI Ingin Menjadi 3 Besar Pada Pemilu 2029

July 22, 2026
Prabowo Resmi Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Siap Percepat Program Makan Bergizi Gratis

Prabowo Resmi Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Siap Percepat Program Makan Bergizi Gratis

July 22, 2026
Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

Teka-teki Mundurnya Nanik S Deyang

July 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

DEMOKRASI: SUDAH, TAPI BELUM

July 23, 2026
Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

Ketut Sumedana, Kuda Troya Kejagung di BGN

July 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...