Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Bila Badak punya Cula, maka Gajah punya Gading. Fungsinya sama: alat menyerang lawan!
Bedanya, Cula tak retak, sedangkan Gading semuanya retak, sehingga ada peribahasa “Tak ada gading yang tak retak”.
Namun, peribahasa itu kini sepertinya perlu diubah sebagian menjadi “Tak ada gajah yang tak retak”. Tidak hanya gadingnya yang retak, tapi juga tubuh Gajah itu sendiri yang retak. Betapa tidak?
Lihat saja Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang sedang dilanda keretakan. Partai politik retak itu sudah biasa. Tapi bagi PSI, parpol berlambang Gajah, retak itu tak biasa. Sebab, baru saja ketua umumnya, Kaesang Pangarep memproklamasikan untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang Gajah, metafora PSI menang di Jateng pada Pemilu 2029 mendatang.
Selama ini Jateng dikenal sebagai kandang Banteng, karena sejak Pemilu 1999 hingga kini PDI Perjuangan yang berlambang kepala Banteng selalu menang di provinsi yang diapit Jawa Timur dan Jawa Barat ini.
Dikutip dari sebuah media, viral video di media sosial yang memperlihatkan kader PSI menyatakan mosi tidak percaya kepada Sekretaris DPD PSI Kota Semarang, Jateng, Melly Pangestu, yang mengatasnamakan loyalis PSI Jateng terpasang di depan hotel saat serah terima jabatan (sertijab) pengurus baru.
Namun, di tengah berlangsungnya agenda tersebut, suasana yang semula berjalan kondusif mendadak berubah ricuh. Sejumlah pengurus, kader, dan simpatisan dari beberapa DPC di Kota Semarang terlibat aksi saling bentak. Bahkan mereka diduga sempat saling lempar kursi yang berada di dalam aula hotel.
Ketua DPD PSI Kota Semarang Bangkit Mahanantiyo mengaku kericuhan itu sebagai dinamika pendewasaan politik di tubuh PSI.
Ironis, memang. Sebab baru saja Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menyatakan hendak menjadikan Jateng sebagai kandang Gajah. Ternyata Gajah itu kini mulai retak.
Ini sekaligus tamparan bagi Kaesang, anak bungsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang over confidence atau terlalu percaya diri. Mungkin karena ia merasa bisa “menjual” nama bapaknya. Padahal tak semudah itu. Mengapa?
Pertama, karena Jokowi sudah tidak berkuasa lagi. Pengaruh politiknya pun langsung menurun.
Kedua, karena Jateng sejak awal Reformasi hingga kini merupakan kandang Banteng. PDIP punya massa tradisional dan fanatik di Jateng. Apalagi di Solo, tempat kediaman Jokowi. Tak mudah menaklukkan Banteng dalam waktu yang relatif singkat. Apalagi Gajah dalam kondisi retak.
Alhasil, Gajah masih perlu banyak berjuang untuk mengalahkan Banteng, PDI Perjuangan, di Jawa Tengah. Itulah!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)



















