*Jakarta, Fusilatnews* — Pemerintah Indonesia berencana mempercepat capaian Energi Baru Terbarukan (EBT) pada tahun 2060 dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berdaya 250 Megawatt (MW) pada tahun 2032. Rencana ini telah dimasukkan dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Kebijakan Energi Nasional (KEN).
Pengembangan energi nuklir sebagai sumber kelistrikan utama kini tengah menjadi prioritas pemerintah. Menurut Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Djoko Siswanto, nuklir dinilai sebagai alternatif yang paling mungkin untuk menggantikan batu bara dalam jangka panjang, sementara potensi EBT lainnya diperkirakan akan mencapai batas maksimalnya pada tahun 2040.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa nuklir dikategorikan sebagai salah satu jenis Energi Baru, bersama dengan amonia (NH3) dan hidrogen (H2). Energi terbarukan lainnya, seperti energi surya dan angin, tetap menjadi bagian dari kategori energi terbarukan.
Untuk mewujudkan rencana ini, pemerintah akan membentuk Nuclear Program Implementation Organization (NEPIO), yang merupakan organisasi non-biding dengan Presiden sebagai ketua, dan ketua harian dari kementerian terkait. NEPIO bertugas mengawasi implementasi energi nuklir di Indonesia, termasuk perencanaan pembangunan PLTN.
Eniya juga menekankan bahwa pembangunan PLTN ini tidak hanya sekadar mengatasi tantangan teknis, tetapi juga melibatkan pembahasan mengenai regulasi hukum yang relevan. Meskipun suatu negara tidak diwajibkan memiliki NEPIO untuk membangun PLTN, Indonesia merasa perlu mendirikannya dengan melibatkan Presiden sebagai langkah strategis untuk memastikan keselarasan program dengan target nasional.
“Pembangkit listrik tenaga nuklir ini diharapkan bisa mulai beroperasi pada tahun 2032, jadi masih ada sembilan tahun ke depan,” ujar Eniya.
Pembangunan PLTN ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, di mana kapasitas terpasang dari pembangkit listrik EBT diharapkan mencapai 378,5 gigawatt (GW), dengan sebagian besar kapasitas berasal dari tenaga surya.























