Pernyataan Presiden Jokowi, saat berada di Pulau Rinca, NTT, dengan gamblang mengatakan, atas kasus yang sedang viral saat ini, Brigadir J; “ Usut tuntas, Buka apa adanya dan Jangan ditutup-tutupi”, katanya. Ini adalah dukungan penuh kepada pihak Kepolisian RI, yang sedang melakukan proses penegakan hukum, untuk menemukan pelakunya dan menustaskan perkara hukumnya.
Secara kasap mata, kasus ini jelas. Terang benderang. Ada korbannya, yg bisa bisa bicara sendiri. Autopsi adalah suara korban yang sesungguhnya. Ada yang di tokohkan selaku pelakunya (Baradha E). Ada cukup banyak barang bukti; senjata, TKP, peluru, decoder cctv, ada saksi-saksi Ferdy Sambo dan istrinya. Tapi mengapa kasus ini, sepertinya belum beranjak kelangkah konkrit? Secara cepat, melakukan penyidikan kepada, yg secara resmi diumumkan sebagai pelaku penembakan oleh Polisi?
Mari kita telanjangi, aurat-aurat kasus tersebut, sebenarnya ada apa gerangan yang sedang terjadi ? Menarik kita perhatikan dan simak, bagaimana para akhli dan pengamat, mengurai kasus ini.
Ibu Rohani, adalah tante Joshua. Beliau menyampaikan pada acara ILC sbb : menemukan ada luka-luka dimata sebelah kanan, sayatan dibawah mata. Dihidung pun ditemuman luka-luka. Telah dijahit. Pada bibir bagian bawah, ada luka. Bagian Dada sebelah kanan terdapat lubang luka tembakan.
Ditambahkan banyak luka-luka bagian tubuh. Disamping dada sebelah kanan, juga ada dekat punggung, bagian leher dan ditangan kiri. Jari kelingking da jarin manis ditemui patah. Kakinya ada luka sayatan. Leher ada luka jaitan. Tulang dadanya miring. Tubuhnya banyak bagian yang lebam membiru.
Awalnya tdk dibolehkan membuka peti jenasah, karena katanya sudah di autopsi. Tapi kemudian kami berusaha membuka dan melihatnya, karena ingin menambahkan formalin. Kami melihat ini kejadian itu, dikesankan sebagai korban baku tembak, tapi banyak luka-luka. Bawah muka kanan ada luka mendalam, juga di hidung, dari temuan-temuan itu, mulai mencurigai. Ini bukan sekedar korban mati ditembak. Kaki sebelah kanan bengkok, tidak bisa diluruskan. Tulang Jari-narinya teputus. Tinggal terbungkus kulit.
Kompolnas, Albertus Wahyurudhanto; Dikatakan bahwa kasus Brigadir J ini sebagai “Pertaruhan Institusi Polri”, jangan sampai perisitiwa ini, merugikan institusi kepolisian RI, ujarnya. Jawablah peradilan publik, dengan data. Posisi Kompolnas, sesuai dengan arahan Makopolhukam, kumpulkan data, analisis secara rasional.
Susno Duaji mantan Kabareskrim Polri: Kasus ini tidk perlu gonjang ganjing. Kasus ini very-very simple,katanya. Seandainya tkp bukan dirumah jenderal, bukan melibatkan ajudan jenderal, bukan pelakuknya baradha E, maka ini kasus yang mudah. Yg sulit itu seperti menemukan jenasah hanyut disungai, dll;
Kasus Brigadir J, TKP jelas, Yg meninggal jelas lukanya, lengkap dengan barang bukti dan jelas, siapa yang dilecehkannya jelas, saksi-saksi jelas, jenderal, istri jenderal, senjata-senjata jelas. Itu semua hrs disita; senjata yang digunakan, surat-surat senjata, pakaian-pakaian korban juga harus disita, dll termasuk semua HP, harus disita. Kerjasama dg provider supaya bisa diketahui semua pemilik HP posisi dimana, bisa terjawab. Decoder bisa mengetahi sebelum, saat dan setelah perisitiwa. Soal penembakan, ada pertanyaan. Peluru dan senjata bisa bicara. Kewenangan menggunakan senjata. TKP penting sekali dalam penelitian. Polisi sudah pada pinter. Jenasah melalui autopsi bisa bicara sendiri. Forensik kita hebat diakui dunia, jangan dipertaruhkan itu. Membuka jenasah utukautopsi cukup ijin dari penyidik.
Johnson Panjaitan lawyer Keluarga: Tragedi tembak menambak. Masalah yg serious. Soal senjata sesuatu yg sangat serious. Tidak setuju dengan Kompolnas, yang bersikap dengan acuannya Jenderal-jenderal di Kepolsian. Mengapa kejadiannya simpang siur. Sudah 13 hari masih kontroversi?. Ada pencurian, peretasan HP, belum kami laporkan. Baru atas dugaan Pembunuhan Berencana, dilaporkan pada tgl 18 Juli 22,sbg kasus pembunuhan berencana. Ada persoalan yang mengguncang. Kasus ini akan berujung di Pengadilan.
Keterangan Kapolres, mempunayi dokumen autopsi sementara. Disanggah oleh Pak Susno Duaji, masa ada otopsi sementara?. Siapa dokter yg menangani?
Untuk apa para lawyer turun? Bila kasus ini berjalan bener dan normal. Mari kita mecoba agar kasus ini supaya bener ditangani. Tapi kasusnya sudah berhari-hari. Bagaimana ketidak beneran ini justru diumumkan oleh polisi. Ketidak benaran ini, ditimpakan kepada orang-orang kecil! Sa,pai Hp pun diretas.
Presiden dan Polri hebat, bila kasus ini ditunaskans ecara bener. Pencopotan para pejabat POLRI terkait adalah indikasi ada yang tadak bener.
Dokumen yg diajukan POLRI, mayat ditemukan pukul 17.00, menurut Polri. Tapi fakta lain, diketahui komunkasi terakhir melalui HP antara keluarga dan korban pukul 10.56 (Magelang ~ Jakarta ). Jam berapa ditembak? 7~8 Jam itu perjalan dari Magelang ke jkarta. Lalu TKP dimana?
Kita harus dorong kasus ini, sampai tuntas. Semua sudah direspon, tapi persoalannya melambat. Mengundang instutsi lain, supaya lebih kredibel. Minta autopsi ulang, sudah diijinkan. Dan kini Keluarga menjaga kuburan korban, khawatir jangan sampai mayatnya ada yang ngambil. Jangan menyalahkan rakyat.
Polisi harus dievaluasi? Bener nggak polisi sdh hebat. Ini soal moral/kejujuran. Kemendesakan.
Trymedia panjaitan-DPR RI:
Tentara, polisi tembak-tembakan itu biasa. Kok Karo Penmas, Brigjen Ramadhan sumir sekali. Saat Konpres Tidak memperlihatkan barang bukti, senjata, peluru, olah TKP, sampai hari senin tdk ada barang-barang tersebut. Hal yang sama diulang lagi oleh Kapolres Jaksel, sama saja. Barang bukti tidak di close up. Something wrong. Ada apa? Lalu dimintakan untuk membentuk 1. Tim independen. Minta komnas HAM masuk. 2. Non jobkan (sambo dll). 3 Berkas di Tarik. Jangan menjadi kasus dipolres Jaksel. Tarik pusat.
Apresiasi Kapolri mau mendengar aspirasi masyarakat. Kapolri : Issuenya jadi liar, krena dr dalam sendiri yg membuat liar. Semua berbagai kejanggalan-kejanggalan harus dijawab polri.





















