• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Cara Prabowo Menjatuhkan Grace Natalie: Aib di Tengah Panggung Politik

Ali Syarief by Ali Syarief
July 21, 2025
in Aya Aya Wae, Feature, Tokoh/Figur
0
Cara Prabowo Menjatuhkan Grace Natalie: Aib di Tengah Panggung Politik
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam sebuah pembukaan pidato politik yang ditunggu-tunggu, Presiden sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menyampaikan kalimat yang di permukaan tampak ringan, penuh canda, namun sesungguhnya adalah tamparan keras dan terencana. Di hadapan peserta kongres partai, para petinggi politik, dan jutaan rakyat yang menonton lewat siaran televisi, Prabowo mengungkit peristiwa yang mungkin ingin dilupakan oleh Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie. “Ingat nggak dulu telponan?” katanya sambil tertawa. Tapi tawa itu membawa beban politik yang berat: aib.

Kalimat itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah senjata. Prabowo sedang memainkan satu jurus klasik dalam politik: membuka aib lawan di ruang publik untuk melemahkan kredibilitasnya, bahkan dari dalam barisan sendiri. Dengan menyebut bahwa Grace Natalie dulu “hampir masuk Gerindra”, Prabowo sedang memosisikan Grace sebagai seorang politisi yang pernah ragu, pernah hampir berpaling, dan—dalam bahasa politik—pernah ingin “mengkhianati” partainya sendiri.

Dalam dunia politik, keinginan pindah partai bukan perkara sepele. Partai bukan sekadar organisasi, tapi wadah ideologi, solidaritas, dan identitas. Ketika seseorang berpikir untuk berpindah, apalagi dari satu kutub ke kutub yang lain, maka sesungguhnya ia sedang mempertaruhkan loyalitas dan kepercayaan publik. Di mata kader dan simpatisan PSI, ungkapan Prabowo itu bisa ditafsirkan sebagai bentuk ketidaksetiaan Grace. Bukankah ia sekarang adalah simbol utama PSI? Bayangkan bila simbol itu ternyata pernah hampir menjadi bagian dari “musuh”.

Dalam politik Indonesia yang semakin pragmatis, perpindahan partai bukan hal asing. Namun yang membedakan adalah narasi. Siapa yang pertama membongkar, siapa yang mengendalikan cerita, dan siapa yang menjadi korban. Dalam hal ini, Prabowo tampaknya paham betul panggung mana yang paling strategis untuk memukul. Bukan di ruang sidang, bukan lewat media, tapi langsung dalam forum akbar partai—tempat di mana ia adalah tuan rumah, dan Grace adalah tamu yang tak bisa berkutik.

Pernyataan itu menjatuhkan Grace bukan hanya di hadapan lawan politik, tetapi juga di hadapan koalisi sendiri. PSI yang selama ini berupaya menampilkan diri sebagai partai muda, bersih, dan konsisten, kini harus berhadapan dengan narasi bahwa salah satu tokoh utamanya pernah hampir “berlabuh” ke partai lain. Bagi Prabowo, ini adalah cara halus tapi mematikan untuk menegaskan dominasi: bahwa dalam dunia politik, bahkan sekutu pun bisa ditampar, jika dirasa mulai membahayakan atau mencoba terlalu dekat dengan cahaya.

Lalu, apa motif Prabowo? Bisa jadi ini adalah sinyal bahwa PSI terlalu ingin mencuri panggung, atau bahwa Grace terlalu sering tampil seolah membawa moral tinggi dalam koalisi yang sedang dibentuk. Atau barangkali Prabowo hanya ingin mengingatkan bahwa di dunia politik, semua orang punya masa lalu, dan masa lalu itu bisa menjadi senjata kapan saja.

Prabowo telah menunjukkan satu hal: kekuasaan bukan hanya soal jabatan, tapi juga tentang siapa yang mengendalikan narasi. Dan dalam narasi itu, menjatuhkan lawan tak harus lewat konfrontasi keras, cukup dengan mengungkit satu momen pribadi di tengah keramaian. Maka, panggung politik bukan hanya soal siapa yang bicara lebih lantang, tapi siapa yang bicara dengan lebih strategis. Dan kali ini, Prabowo-lah yang menang.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jangan Senang Dulu – Itu Gula-Gula Prabowo

Next Post

PSI Award: Prabowo Layak Menyandang Gelar “Tokoh dengan Kebohongan Terbanyak” – Dari “Pembohong” Menjadi Panglima

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Feature

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Next Post
PSI Award: Prabowo Layak Menyandang Gelar “Tokoh dengan Kebohongan Terbanyak” – Dari “Pembohong” Menjadi Panglima

PSI Award: Prabowo Layak Menyandang Gelar “Tokoh dengan Kebohongan Terbanyak” - Dari “Pembohong” Menjadi Panglima

GP Ansor Bereaksi Terkait Rencana PKB Mendisiplinkan Yaqut

Gus Yaqut, Bersiaplah!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

by Karyudi Sutajah Putra
April 22, 2026
0

Jakarta - Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda,...

Read more
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

April 21, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...