Presiden datang ke kongres partai. Lalu tepuk tangan membahana. Kamera menyorot wajah-wajah berbinar penuh harap. Wartawan mencatat dengan setia, para elit partai tersenyum sumringah. Dan seperti sebuah sandiwara yang naskahnya sudah dikarang lama, sang presiden pun tampil, duduk anggun, lalu berdiri penuh wibawa: memuji. Mendukung. Mengucap kata-kata manis yang membuat kader merasa seperti kekasih yang baru saja dilamar.
Tapi, jangan senang dulu.
Inilah republik, bung, bukan panggung drama romantika. Di negeri ini, kata manis bisa dipinjam, dijual, disewakan. Diucapkan dengan lidah yang sama yang esoknya akan menggigit. Hari ini dipuji, besok dijegal. Hari ini didukung, nanti dijatuhkan.
Memang, kedatangan seorang presiden ke kongres partai bukan peristiwa kecil. Ia punya makna simbolik. Layaknya seorang ayah yang datang ke acara anaknya. Tapi ini bukan keluarga. Ini politik. Di politik, tidak ada anak kandung. Yang ada cuma anak angkat yang bisa dibuang kapan saja, tergantung situasi dan elektabilitas.
Jangan senang dulu.
Saat presiden duduk di podium dan menyebut partai sebagai “bagian penting dalam pembangunan bangsa”, kita tahu kalimat itu bukan semata kalimat. Ia adalah gula-gula. Karena sang presiden, siapa pun dia, sedang bermain di atas papan catur. Di satu sisi dia ingin terlihat adil, di sisi lain dia sedang menghitung langkah.
Jangan heran kalau nanti, ketika pemilu sudah dekat, partai yang tadi dipeluk hangat akan ditinggalkan. Bahkan bisa jadi, dilawan habis-habisan. Presiden yang semula datang membawa pujian, bisa berubah menjadi lawan politik yang siap mengunci arah.
Inilah fenomena kita: kemunafikan dijadikan kelaziman.
Orang tersenyum bukan karena tulus, tapi karena sedang menyusun siasat. Orang berangkulan bukan karena cinta, tapi karena sedang menyimpan pisau di balik punggung. Politik kita, sayangnya, adalah panggung sandiwara yang penontonnya pun ikut tertipu karena sudah terbiasa ditipu.
Tentu tidak semua demikian. Tapi dalam sejarah republik ini, dari rezim ke rezim, dari zaman ke zaman, pola ini terus hidup. Berubah wajah tapi tetap sama isi. Kawan dan lawan hanya dibedakan oleh waktu, bukan prinsip. Hari ini satu meja, besok satu liang.
Maka jangan senang dulu.
Kalau presiden datang, lalu memuji, lalu menyebut partai sebagai mitra strategis, anggap saja itu sambutan basa-basi. Kalau ia menyebut partai sebagai “pilar demokrasi”, anggap saja itu selingan normatif. Yang sejati akan teruji nanti: saat pencalonan, saat perebutan kekuasaan, saat intrik dimulai.
Dan di sanalah, isi perut yang sesungguhnya akan terlihat.
Presiden bukan malaikat. Partai bukan pengikut nabi. Keduanya punya kepentingan, punya strategi, dan tak jarang, saling menjegal di tikungan. Di negeri ini, bukan hanya rakyat yang perlu hati-hati, tapi juga politisi. Karena yang hari ini tertawa bersama, belum tentu tidak sedang menyusun makar.
Jadi, wahai para kader yang bersorak gembira menyambut kehadiran orang nomor satu, ingatlah satu hal:
Jangan senang dulu.
























