• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Dedi, Jokowi, dan Tipikal Pemimpin yang Harus Dihindari

Ali Syarief by Ali Syarief
July 11, 2025
in Aya Aya Wae, Health, Tokoh/Figur
0
Dedi, Jokowi, dan Tipikal Pemimpin yang Harus Dihindari
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam riuh rendah bangsa yang selalu punya stok “pemimpin siap jadi”, tiba-tiba muncul satu nama lagi: Dedi Mulyadi. Seorang mantan bupati yang gaya kampanye dan kesehariannya sangat “ngabumi”, duduk di saung, makan nasi liwet, sesekali bercerita tentang kabuyutan, sambil memunguti sampah di jalanan. Menarik, tentu. Tapi mendadak nama ini digadang-gadang jadi presiden. Lho, kenapa jadi presiden? Karena mirip Jokowi, katanya.

Nah, ini yang perlu kita bedah pelan-pelan, seperti membedah pisang goreng yang kulitnya gosong tapi dalamnya mentah.

Sejak kapan republik ini menjadikan “kemiripan” sebagai syarat menjadi kepala negara? Sejak kapan kesederhanaan yang dimanufaktur jadi bahan bakar untuk naik ke singgasana istana? Jokowi dulu naik karena dianggap “pribumi”, sederhana, tidak neko-neko. Tak seperti elite politik pada umumnya. Lalu apa yang terjadi? Setelah dua periode, ia justru menjadi pabrik elite baru. Membesarkan anak dan menantu, mengawinkan kekuasaan dan kekerabatan, menyulap meritokrasi jadi monarki gaya baru. Maka, kalau hari ini ada Dedi yang katanya “mirip Jokowi”, rakyat patut gelisah.

Dedi dan Jokowi sama-sama suka blusukan. Sama-sama suka bicara soal rakyat kecil. Sama-sama dielu-elukan sebagai “rakyat biasa” yang jadi luar biasa. Tapi jangan lupa: kita butuh pemimpin, bukan influencer.

Mari kita bandingkan. Bung Karno, misalnya. Orator yang menggetarkan jiwa bangsa. Gagasan besarnya tentang marhaenisme masih relevan hingga hari ini. Dia punya konsep. Pak Harto, meski penuh kontroversi, setidaknya membangun fondasi ekonomi. Ada tol, ada swasembada, ada stabilitas (walau dikawal senjata). Habibie? Ah, Profesor satu ini bukan hanya teknokrat, tapi juga negarawan. Dia meletakkan dasar demokrasi pasca-reformasi, dan punya otak brilian yang bisa menjelaskan aerodinamika dan demokrasi dalam satu tarikan napas.

Lalu Jokowi? Dikenang karena membangun jalan tol dan… ya, jalan tol lagi. Dikenang karena memindahkan ibu kota ke hutan dan menjadikan politik sebagai urusan keluarga. Tidak ada pidato monumental. Tidak ada gagasan besar. Yang ada hanyalah narasi sederhana yang memabukkan: kerja, kerja, kerja. Tapi kerja untuk siapa?

Nah, bila kemudian ada Dedi Mulyadi yang dianggap “Jokowi jilid dua”, rakyat harus mawas. Kita sedang tidak kekurangan pemimpin yang bisa senyum sambil makan tahu sumedang. Kita kekurangan pemimpin yang bisa membawa bangsa ini keluar dari jebakan oligarki dan kemiskinan struktural.

Apakah Dedi punya ide besar untuk membenahi pendidikan, membenahi hukum, membenahi moral birokrasi? Atau hanya akan jadi replika Jokowi: ramai di YouTube, sepi di perencanaan?

Bangsa ini terlalu besar untuk diurus oleh presiden yang hanya jadi panutan gaya hidup. Kita butuh pemimpin yang berpikir lima puluh tahun ke depan, bukan sekadar viral di lima menit ke depan.

Maka, jika benar Dedi akan dipasangkan dengan citra Jokowi, sudah saatnya kita ucapkan: cukup. Jangan lagi. Satu Jokowi sudah terlalu banyak. Jangan sampai Indonesia jatuh ke lubang yang sama dua kali — apalagi dengan lubang yang sama persis bentuknya.

Indonesia harus menghindari tipikal presiden seperti Jokowi.

Selesai.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bahaya Publik Jokowi dan Dedi Mulyadi: Gejala ‘The Society of the Spectacle’

Next Post

Matinya Nurani Penguasa

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo
Feature

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026
Kasus Febrie dan Hotman: Integritas Penegakan Hukum, Martabat Wartawan, dan Kualitas Komunikasi Publik
Crime

Polda Metro Mulai Selidiki Laporan PWI terhadap Hotman Paris, Ketua Umum PWI: Ini Soal Martabat Profesi Wartawan

July 21, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok
Komunitas

Febrie Adriansyah Tak Ditahan, IPW Geram

July 21, 2026
Next Post
30 Wamen Rangkap Jabatan: Ketika Kuasa Menggandakan Diri, Bukan Kinerja

Matinya Nurani Penguasa

Bangunan Runtuh Tim IDF di Gaza, Banyak Korban Dilaporkan

Bangunan Runtuh Tim IDF di Gaza, Banyak Korban Dilaporkan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

July 21, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026

Membangun Kembali Kepercayaan Publik (Ketika Strategi Komunikasi Berhadapan dengan Due Process of Law)

July 21, 2026
Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

July 21, 2026
Kasus Febrie dan Hotman: Integritas Penegakan Hukum, Martabat Wartawan, dan Kualitas Komunikasi Publik

Polda Metro Mulai Selidiki Laporan PWI terhadap Hotman Paris, Ketua Umum PWI: Ini Soal Martabat Profesi Wartawan

July 21, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

Febrie Adriansyah Tak Ditahan, IPW Geram

July 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

July 21, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...