Fusilatnews – Prabowo Subianto akhirnya naik takhta. Didapuk oleh suara rakyat—begitulah narasinya. Kemenangan disebut meyakinkan, mutlak, luar biasa, bahkan katanya lebih wangi daripada minyak kayu putih buatan Cilacap. Tapi alih-alih berterima kasih kepada rakyat—pemilik sah kedaulatan negeri—Prabowo justru lebih dulu menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi.
Lho?
Rakyat melongo. Seperti menonton pertunjukan lenong yang naskahnya tiba-tiba berubah di tengah jalan. Si tokoh utama yang seharusnya menang karena kerja keras sendiri, justru mencium tangan tokoh lain yang semula di seberang pagar politik. Aneh tapi nyata, nyata tapi janggal. Seperti gado-gado tanpa bumbu kacang—ada, tapi tidak cocok di lidah demokrasi.
Pertanyaannya: kenapa Prabowo berterima kasih kepada Jokowi?
Apakah ini sekadar sopan santun politik? Atau justru pengakuan tersirat bahwa kemenangan yang diraihnya tak murni berasal dari suara rakyat, tapi ada andil besar sang presiden petahana—entah lewat endorsement, entah lewat bansos bergentayangan, atau entah lewat mesin kekuasaan yang bekerja seperti jin dalam lampu Aladdin?
Mari kita jujur. Bansos yang tumpah ruah jelang pemilu kemarin bukan mitos. Seperti hujan bulan Desember, datangnya deras, tak peduli siapa yang bawa payung dan siapa yang tidak. Rakyat yang lapar tentu akan menerima, tanpa bertanya apakah itu cinta atau jebakan. Tapi elite politik, tentu tahu beda antara cinta dan transaksional.
Ucapan terima kasih Prabowo kepada Jokowi tak ubahnya sandi politik. Dalam dunia perpolitikan yang wajahnya bisa lebih elastis dari topeng karnaval, ucapan seperti itu bisa jadi bentuk pengakuan halus—bahwa kemenangan bukan hanya hasil kerja politik, tapi juga hasil dari proses-proses yang tak seluruhnya bisa dijelaskan oleh formulir C1 dan rekapitulasi KPU.
Boleh saja ada yang membela: “Itu bukti rekonsiliasi nasional!” Tapi mari jangan bodohi rakyat. Demokrasi bukan soal berdamai dengan elite. Demokrasi adalah soal keberpihakan kepada rakyat. Jika rakyat memilih karena percaya pada Prabowo sebagai tokoh perubahan, maka berterima kasih kepada Jokowi justru mengingkari semangat perubahan itu sendiri.
Seorang pemimpin harus tahu ke mana harus mengarahkan rasa terima kasihnya. Kalau dipilih oleh rakyat banyak, ya kepada rakyatlah terima kasih pertama harus disampaikan. Bukan kepada seorang presiden yang secara terang-terangan memaksakan anaknya ikut kontestasi, atau menggunakan instrumen negara untuk memenangkan poros tertentu.
Kita tentu tak menuduh. Kita hanya mencurigai. Dan dalam politik, mencurigai adalah hak asasi rakyat. Apalagi jika aroma kecurangan masih tercium samar seperti bau durian di kamar ber-AC. Ingatan publik belum kabur soal Mahkamah Konstitusi yang dicurangi, soal bansos yang membanjiri, soal netralitas aparat yang tinggal cerita masa lalu.
Jadi, pertanyaannya bukan hanya “mengapa Prabowo menang?” Tapi juga “mengapa ia berterima kasih kepada Jokowi?”
Apakah itu pengakuan akan adanya hutang moral?
Apakah itu bentuk kompromi agar kursi empuk kekuasaan tak terguncang?
Ataukah itu kode keras bahwa Jokowi memang aktor utama di balik kemenangan ini?
Rakyat berhak tahu. Rakyat yang konon memilih, rakyat juga yang harus mendapat penjelasan.
Karena kalau tidak, demokrasi ini tinggal pentas boneka—di mana yang tampak di layar bukanlah yang memegang kendali, dan rakyat cuma jadi penonton yang dibayar dengan sembako dan janji.
























