Kampus bukan barak. Tapi belakangan ini, ruang-ruang diskusi mahasiswa mulai terasa seperti pos pengamatan militer. Tak ada teriakan komando, tak ada laras panjang, hanya senyum ramah, jabat tangan, dan… unggahan Instagram yang mencurigakan.
Rabu, 16 April 2025, Universitas Indonesia—yang selama ini menjadi simbol nalar kritis dan kebebasan akademik—kedatangan tamu tak biasa. Komandan Kodim 0508/Depok, Kolonel Infanteri Imam Widhiarto, bersama seorang Babinsa, melenggang ke Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa UI), bertepatan dengan digelarnya Konsolidasi Nasional Mahasiswa. Kata mereka, datang atas undangan sahabat.
Di tangan warga sipil, momen itu diabadikan lewat lensa. Foto yang diunggah akun @pantauaparat menampilkan Dandim bersalaman dengan mahasiswa, dengan latar mobil dinas militer yang terparkir manis di area kampus. Narasi pun meluncur: intimidasi, pelanggaran kebebasan akademik, militerisme gaya baru.
TNI tak tinggal diam. Kepala Pusat Penerangan TNI, Brigadir Jenderal Kristomei Sianturi, buru-buru menepis tudingan. “Itu framing. Lihat fotonya, mereka senyum-senyum. Intimidasinya di mana?” ujar Kristomei kepada Kompas.com. Bahkan, ia menyebut narasi itu sebagai upaya untuk merongrong pemerintah dengan cara memojokkan TNI dan mahasiswa sekaligus.
Logika semacam ini memang khas militer: saat senjata tidak berbunyi, maka tak ada pelanggaran. Padahal, perang gaya baru tak lagi membutuhkan ledakan. Cukup satu kedipan mata di tengah konsolidasi mahasiswa, dan satu unggahan viral, lalu sisanya akan bekerja dengan sendirinya. Psychological warfare bukan teori kosong: ia hidup, bekerja senyap, dan sering kali justru menggunakan pendekatan non-konfrontatif. Lebih berbahaya dari nuklir, karena bisa melumpuhkan lawan tanpa peperangan.
Kasus UI bukan yang pertama. Sebelumnya, ada nota kesepahaman antara Universitas Udayana dan TNI. Ada juga cerita tentang aparat mendatangi diskusi mahasiswa di UIN Walisongo, Semarang. Semua diberi bingkai kerja sama, silaturahmi, dan penjajakan minat perwira karier.
Bahwa TNI sedang memperluas jangkauan, itu tak bisa disangkal. Tapi ketika jangkauan itu merambah kampus—ruang yang mestinya steril dari kekuasaan—maka ada pertanyaan mendasar: apa motif di balik sapaan hangat tersebut?
Pihak BEM UI belum memberikan keterangan resmi. Tetapi narasi resmi TNI yang bersikeras bahwa tak ada intimidasi, justru makin membuka ruang tafsir publik. Apalagi bila dibarengi pernyataan bahwa ada pihak-pihak yang ingin merongrong pemerintah. Retorika macam itu terlalu mirip masa lalu yang pernah kita sepakati untuk kita tinggalkan.
Pemerintah boleh menyangkal, TNI boleh menepis. Tapi mahasiswa dan publik berhak curiga. Sebab demokrasi sehat justru tumbuh dari kecurigaan wajar terhadap kekuasaan—termasuk ketika kekuasaan itu datang menyamar sebagai sahabat, dengan senyum dan salam.
Jika benar tak ada agenda tersembunyi, maka TNI mestinya tak keberatan untuk menjaga jarak dengan ruang-ruang dialektika mahasiswa. Karena ketika tentara mulai akrab dengan kampus, sejarah mengingatkan kita bahwa bahaya tak selalu datang dalam bentuk senjata.
Kadang, ia datang dalam bentuk jabat tangan.






















