Yogyakarta-Fusilatnews — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku mendapatkan teror setelah menyuarakan kasus bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Teror tersebut diterima tak lama setelah ia menyampaikan kritik dan keprihatinan terhadap penanganan kasus tersebut di ruang publik.
Tiyo menyebut teror datang dalam berbagai bentuk, mulai dari pesan bernada intimidatif hingga ancaman yang ditujukan kepadanya secara pribadi. Ia menilai teror itu sebagai upaya pembungkaman terhadap suara kritis mahasiswa yang memperjuangkan keadilan bagi korban.
“Saya hanya menyuarakan kemanusiaan. Ketika ada anak yang meninggal karena sistem yang gagal melindunginya, itu bukan isu lokal, tapi isu nasional,” kata Tiyo dalam keterangannya, Selasa
Menurut Tiyo, sikap negara dan aparat terkait dalam merespons kasus tersebut seharusnya lebih berfokus pada perlindungan anak dan pemulihan keluarga korban, bukan justru menciptakan ketakutan bagi pihak-pihak yang menyuarakan kritik.
BEM UGM, lanjut Tiyo, tidak akan mundur meski ada tekanan dan teror. Ia menegaskan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran dan membela kelompok rentan, termasuk anak-anak.
“Teror ini justru menunjukkan bahwa kritik kami relevan. Jika suara mahasiswa dibungkam, maka yang terancam bukan hanya demokrasi, tapi juga kemanusiaan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui secara pasti pihak yang berada di balik teror tersebut. Tiyo mengaku sedang mempertimbangkan langkah hukum dan telah mendokumentasikan seluruh bentuk intimidasi yang diterimanya.
Kasus bunuh diri anak di NTT sebelumnya menyita perhatian publik setelah diduga berkaitan dengan tekanan sosial dan lemahnya sistem perlindungan anak. Sejumlah kalangan menilai negara masih abai dalam menjamin keselamatan dan kesehatan mental anak-anak di daerah.
























