Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Dengan cerdik, Dewan Pakar Iran, yang beranggotakan 88 orang, menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan ayahandanya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur sebagai martir dalam serangan gabungan tentara Amerika Serikat dan Israel, Sabtu (28/2/2026).
Cerdik? Penunjukan Mojtaba tidak memancing resistensi internal Iran. Lihat saja. Garda Revolusi Iran langsung menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin baru mereka.
Itu pertama. Kedua, penunjukan Mojtaba membuktikan Iran tak tunduk kepada tekanan Amerika dan Israel. Presiden AS Donald Trump sudah wanti-wanti agar Iran tidak memilih anak Ali Khanenei itu sebagai Ayatollah baru. Pun Israel. Maka begitu Iran memutuskan Mojtaba sebagai pemimpin baru, negeri Zionis itu langsung bersumpah untuk membunuh Mojtaba.
Bunuh Trump dan Netanyahu
Pertanyaannya, sebenarnya Mojtaba ataukah justru sebaliknya, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang harus dibunuh?
Ali Khamenei dan juga penggantinya, Mojtaba melawan Amerika dan Israel demi mempertahankan kedaulatan negerinya sebagai negara merdeka. Pemimpin yang sedang melindungi negara dan rakyatnya kok dibunuh? Aneh bin ajaib!
Iran punya senjata nuklir? Kalau Amerika dan Israel punya senjata nuklir, mengapa Iran dilarang? Iran adalah negara merdeka yang berdaulat penuh.
Atau jangan-jangan senjata nuklir Iran itu cuma halusinasi Trump dan Netanyahu saja untuk legitimasi politik Amerika dan Israel menyerang Iran?
Hal itu pernah dilakukan Amerika saat menumbangkan Presiden Irak Saddam Hussein. Dengan dalih Irak punya senjata pemusnah massal maka Amerika menyerang Irak dan menghukum mati Saddam Hussein di tiang gantungan puluhan tahun lalu. Ternyata Irak tak punya senjata pemusnah massal seperti yang dituduhkan itu.
Justru yang sekarang mestinya dibunuh atau dihukum mati adalah Trump dan Netanyahu. Merekalah biang kerok dari kekacauan dunia saat ini.
Kalau dua orang tua itu sudah dibunuh, niscaya dunia akan damai kembali. Benarkah?
Belum tentu juga. Sebab rakyat Amerika dan Israel memang gemar perang. Buktinya, mereka tidak memprotes langkah pemimpin masing-masing saat menyerang Iran dan membunuh Khamenei.
Dengan semboyan American First, Trump dan rakyatnya ingin Amerika menjadi negara nomor satu di dunia. Melampaui Rusia musuh bebuyutannya, dan juga China musuh barunya.
Padahal langkah Amerika dan Israel menyerang Iran itu melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hukum internasional dan norma kemanusiaan yang berlaku secara universal.
Akan tetapi rakyat Amerika dan Israel tak peduli. Mereka maunya Iran dilenyapkan dari muka bumi supaya mereka tak lagi terancam. Padahal, langkah Iran melawan Amerika dan Israel adalah demi mempertahankan diri.
Kini, barangkali Iran atau negara mana pun perlu bersayembara: siapa yang berhasil memenggal kepala Trump dan Netanyahu akan dapat hadiah jutaan dolar.
Di sisi lain, Iran pun terus melakukan perlawanan supaya bisa mengalahkan Amerika dan Israel. Siapa pun yang berakal sehat, pasti membela Iran.
Lagi pula aneh kalau hari gini masih ada yang percaya dengan Trump dan Netanyahu soal perdamaian Timur Tengah, terutama Palestina. Amerika dan Israel tak akan pernah membiarkan Palestina merdeka. Maka langkah Presiden RI Prabowo Subianto membawa Indonesia masuk Board of Peace yang diinisiasi Trump adalah sebuah kekonyolan belaka. Blunder. Hasilnya akan sia-sia.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)






















