Fusilatnews – Ketika Prabowo Subianto menyatakan bahwa demonstrasi besar pada 25–28 Agustus lalu dipengaruhi oleh kekuatan asing, pernyataan itu tak bisa dibaca sekadar sebagai reaksi spontan. Ia adalah seorang mantan perwira Kopassus yang terbiasa dengan doktrin psychological warfare, sehingga setiap ucapannya seringkali punya muatan strategis.
1. Membangun Narasi Ancaman Eksternal
Dalam dunia politik, menyebut adanya “pengaruh asing” adalah strategi klasik untuk:
- Mengalihkan sorotan dari substansi tuntutan massa kepada isu kedaulatan.
- Menyatukan emosi nasionalisme publik, karena rakyat cenderung resisten terhadap campur tangan pihak luar.
- Mendeligitimasi gerakan protes, seolah demonstrasi bukanlah murni aspirasi rakyat, melainkan hasil rekayasa pihak ketiga.
Dengan demikian, publik diarahkan untuk lebih curiga kepada siapa yang “membiayai” atau “mendesain” protes, daripada memperhatikan alasan orang turun ke jalan.
2. Pengalaman Militer dan Logika Intelijen
Prabowo paham betul bahwa setiap gerakan massa berpotensi memiliki aktor-aktor non-formal. Namun, dalam tradisi intelijen dan operasi militer, seringkali ancaman “asing” dijadikan justifikasi untuk memperketat kontrol. Bagi seorang mantan komandan, framing ini efektif untuk memperkuat legitimasi pemerintah dalam menghadapi gejolak.
3. Permainan Opini Publik
Pernyataan tentang “pengaruh asing” bisa dibaca sebagai alat framing. Di satu sisi, ia mengesankan bahwa pemerintah waspada terhadap kedaulatan nasional. Di sisi lain, itu menekan ruang gerak oposisi sipil dengan stempel “antek asing”. Dalam konteks psychological warfare, ini adalah bentuk fear appeal: membuat publik waspada, bahkan takut, terhadap infiltrasi luar, sehingga solidaritas terhadap demonstrasi melemah.
4. Kontradiksi yang Terlihat
Namun, di balik strategi ini ada kontradiksi. Menyebut ada “pengaruh asing” tanpa bukti konkret justru bisa menimbulkan pertanyaan:
- Apakah pemerintah sedang defensif menghadapi legitimasi rakyat?
- Apakah tudingan ini bagian dari upaya mendistraksi isu substansial yang diangkat dalam demonstrasi?
- Jika benar ada campur tangan asing, mengapa pemerintah tidak transparan menunjukkan fakta?
Kontradiksi inilah yang memperlihatkan bahwa retorika semacam ini lebih berfungsi untuk perang opini ketimbang sebagai laporan intelijen murni.
5. Kesimpulan
Dengan segala latar belakangnya, Prabowo tahu betul nilai strategis dari tudingan “pengaruh asing.” Ia sedang memainkan kartu klasik dalam psychological warfare politik: menggeser fokus publik, memecah solidaritas demonstran, dan membangun citra pemerintah sebagai benteng pertahanan bangsa. Namun, justru karena efek psikologis inilah, publik perlu lebih kritis: apakah ini sekadar narasi pengalihan, atau benar-benar ada bukti nyata tentang intervensi asing?


























