• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

“Nonaktifkan” Bukan “Recall”: Menunggu Konsistensi Partai dalam Menindak Kader

fusilat by fusilat
August 31, 2025
in Feature, Politik
0
25 Daftar Usulan Capres DPW Nasdem Pilpres 2024, Siapa Voting Tertinggi?
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Keputusan Partai NasDem menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari keanggotaan Fraksi DPR RI per 1 September 2025 memunculkan pertanyaan hukum dan politik yang menarik. Sebab, dalam terminologi kelembagaan, “menonaktifkan” bukanlah istilah baku dalam mekanisme pergantian antarwaktu (PAW) atau recalling anggota dewan.

Perbedaan Hukum: Nonaktifkan vs Recall

Secara hukum, recall atau PAW adalah proses resmi partai politik untuk menarik kadernya dari parlemen. Mekanisme ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3), di mana partai memiliki kewenangan penuh untuk mengusulkan penggantian anggota DPR kepada Presiden melalui pimpinan DPR. Dengan kata lain, recall mengakhiri status hukum anggota sebagai wakil rakyat.

Sementara istilah “nonaktifkan” sejatinya tidak dikenal dalam UU MD3. Ia lebih merupakan istilah politik internal partai, semacam “pencopotan jabatan fraksi” atau “pembekuan fungsi representasi”. Artinya, Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach secara hukum masih berstatus anggota DPR RI, tetapi kehilangan legitimasi politik di bawah bendera fraksi NasDem. Posisi mereka di alat kelengkapan dewan atau ruang politik NasDem bisa dibekukan, tetapi kursi parlemen tetap sah menjadi milik mereka hingga ada proses recall.

Di sinilah terjadi semacam ambiguitas politik. NasDem ingin menunjukkan ketegasan kepada publik dengan “menghukum” kadernya, tetapi memilih jalur nonaktif yang lebih ringan daripada recall.

Konsistensi yang Dipertanyakan: Bagaimana dengan Eko Patrio dan Uya Kuya?

Keputusan ini juga membuka ruang pertanyaan lebih luas: apakah perlakuan serupa akan diterapkan pada kader-kader lain yang juga menimbulkan kontroversi publik? Misalnya, Eko Patrio (PAN) dan Uya Kuya (PAN) yang beberapa waktu terakhir kerap menuai sorotan atas pernyataan maupun sikap politik mereka.

Jika tolok ukur yang dipakai adalah “menyinggung dan mencederai perasaan rakyat”, maka publik berhak bertanya: mengapa hanya Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach yang mendapat sanksi sekeras itu? Apakah standar partai hanya berlaku selektif sesuai kebutuhan politik, ataukah akan menjadi kebijakan menyeluruh untuk menertibkan semua kader?

Dalam politik, konsistensi adalah modal penting menjaga kepercayaan publik. Ketika partai berani menghukum kadernya, maka konsekuensinya adalah publik akan menuntut perlakuan yang sama terhadap kader lain—baik di internal partai maupun di partai lain—yang melakukan pelanggaran serupa.

Ambivalensi Politik Partai

Kasus ini sekaligus menyingkap wajah ganda partai politik di Indonesia. Di satu sisi, partai ingin menunjukkan diri sebagai institusi yang mendengar aspirasi rakyat dengan menindak kader yang dianggap “melukai hati publik”. Namun di sisi lain, partai juga tidak ingin kehilangan kursi strategis di DPR. Maka muncullah jalan tengah: nonaktifkan.

Tapi jalan tengah ini rawan menjadi bumerang. Sebab publik akan menilai, apakah ini benar-benar langkah moral untuk menjaga marwah politik, atau hanya strategi sementara guna meredam kegaduhan, tanpa konsekuensi hukum yang nyata?

Penutup: Menunggu Ketegasan atau Simbol Politik?

Dalam sistem demokrasi presidensial, partai politik memiliki fungsi vital sebagai penjaga etika dan aspirasi rakyat. Namun, bila hukuman hanya berhenti pada istilah “nonaktifkan” tanpa berlanjut ke recall, maka yang terjadi hanyalah simbolisme politik belaka.

Kini, bola ada di tangan partai-partai, termasuk NasDem dan PAN. Publik menunggu apakah langkah terhadap Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach akan diikuti tindakan serupa kepada kader lain yang juga kontroversial, seperti Eko Patrio dan Uya Kuya. Jika tidak, maka keputusan ini akan terbaca sebagai seleksi politik yang pragmatis, bukan komitmen moral yang konsisten.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

NasDem Nonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Fraksi DPR, Pengamat: Keputusan Berisiko Guncang Internal

Next Post

Antara Tegas dan Pura-Pura Tegas: NasDem dalam Jerat Bahasa Politik

fusilat

fusilat

Related Posts

KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT
Feature

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026
Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK
Feature

Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

April 21, 2026
Feature

Pilihan yang Bukan Pilihan

April 21, 2026
Next Post
SYL Jadi Tersangka Saat Berada di Luar Negeri, Surya Paloh Merasa Miris

Antara Tegas dan Pura-Pura Tegas: NasDem dalam Jerat Bahasa Politik

Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Hendardi: Fadli Zon Jangan Cari Sensasi

Jangan Sampai Darurat Sipil, Darurat Militer Terjadi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Harga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Berikut Daftar Lengkapnya

DPR Ingatkan Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi, Kelompok Rentan Terancam Terjepit

April 21, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026
Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

April 21, 2026

Pilihan yang Bukan Pilihan

April 21, 2026

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 20, 2026
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Harga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Berikut Daftar Lengkapnya

DPR Ingatkan Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi, Kelompok Rentan Terancam Terjepit

April 21, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...