Jakarta – Fusilatnews – Kampanye boykot terhadap berbagai macam produk Industri yang berafiliasi dengan Israel membawah berkah tersendiri bagi berbagai macam produk Industri lokal.
Karena dengan adanya Kampanye boykot tersebut para konsumen baik muslim maupun non muslim yang bersimpati terhadap warga Palestina di Gaza banyak yang beralih dengan berbagai macam produk hasil Industri lokal yang takpunya hubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan Israel
- Pusat Riset Agama dan Kepercayaan pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRAK BRIN) dan Indonesia Halal Watch (IHW) mengungkap hasil riset nasional bertema Fatwa Boikot MUI dan Dampaknya terhadap Pertumbuhan Industri Nasional memperlihatkan masyarakat Indonesia mulai memilih produk lokal dan menghindari produk terafiliasi Israel
Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) menilai efek gerakan boikot produk yang terafiliasi Israel akan bersifat permanen. Meski demikian, gerakan boikot akan menumbuhkan industri lokal.
Bagi YKMI hal-hal demikian sudah kita prediksi jauh-jauh hari, sejak kampanye boikot didilakukan lebih keras, kita sudah prediksi bahwa boikot ini akan kemudian berdampak pada tumbuhnya industri lokal atau beralihnya atau bergesernya pola konsumsi masyarakat (ke produk lokal),” kata Juru Bicara dan Aktivis YKMI, Megel Jekson, Kamis (22/5/2025).
Megel mengungkapkan, sebelumnya YKMI dikritik karena menyebut gerakan boikot produk terafiliasi Israel akan menumbuhkan industri lokal. Pihak yang mengkritik mengatakan bahwa gerakan boikot malah akan menimbulkan PHK.
Ia menegaskan, sekarang yang disaksikan dan dirasakan, efek boikot membawa berkah bagi industri lokal. Sebab jelas dan pasti, konsumen Muslim yang taat terhadap Fatwa MUI yang menyerukan boikot produk terafiliasi Israel.
“Konsumen Muslim juga tahu poroduk A, produk B, produk C yang terafiliasi Israel, mereka (konsumen Muslim) dengan sadar beralih ke produk yang tidak terafiliasi Israel, dan saya lihat ini (gerakan boikot) bukan lagi sementara tapi ini betul-betul bisa jadi sesuatu yang permanen,” ujar Megel.
YKMI juga melihat sekarang seperti ada perlawanan, misalnya McD dan Starbucks memasang logo halal di depan tokonya. Nampaknya mereka mulai terdesak oleh gerakan boikot produk yang terafiliasi Israel. Sehingga mereka ingin meraih simpati dengan memasang logo halal.
Megel melihat gerakan boikot produk terafiliasi Israel bersifat permanen, khususnya terhadap produk kopi dan makanan cepat saji. Tapi untuk produk seperti diaper, susu bayi, sabun dari Unilever misalnya, belum ada produk lokal untuk jadi alternatif konsumen. Jadi, konsumen belum sepenuhnya pindah ke produk lokal.
“Sekarang yang perlu dilakukan pemerintah itu menumbuhkan atau mendukung industri-industri lokal,” ujar dia.
Aktivis Peduli Palestina dan YKMI Ahmad Himawan mengatakan, pemerintah perlu mendukung UMKM lokal agar bisa bersaing dengan produk global yang terafiliasi Israel.
“Jadi produk lokal sebagai alternatif itu memang harus disiapkan dan didukung pemerintah agar bisa punya daya saing tidak hanya di tingkat nasional tapi juga global,” ujar Ahmad.
Sebelumnya, IHW bersama PRAK BRIN meluncurkan hasil riset nasional bertema ‘Fatwa Boikot MUI dan Dampaknya terhadap Pertumbuhan Industri Nasional’ di Gedung Widya Graha BRIN, Selasa (20/5/2025).
Founder IHW, Ikhsan Abdullah mengatakan, riset tersebut mengkaji dampak Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 83 Tahun 2023 mengenai dukungan terhadap Palestina dan seruan boikot terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel.
“Hasil riset kami menunjukkan Fatwa MUI tidak hanya berdampak moral dan keagamaan, tetapi juga menciptakan perubahan struktural dalam perilaku konsumsi masyarakat Indonesia yang kini lebih berpihak kepada produk nasional,” kata Ikhsan saat peluncuran hasil riset di Gedung Widya Graha BRIN, Selasa (20/5/2025).
Hasil riset IHW dan BRIN mengungkapkan dari total 975 responden di 13 wilayah kabupaten/ kota, sebanyak 93,4 persen mendukung Fatwa MUI. Sebanyak 92,5 persen masyarakat kini lebih selektif dalam memilih produk, hanya membeli produk dengan label nasional.
Pergeseran konsumsi masyarakat terjadi secara signifikan pada sektor makanan cepat saji (sebanyak 77,6 persen), minuman (75,2 persen), dan air mineral (78,2 persen).
Ikhsan menerangkan, masyarakat juga mulai menghindari merek-merek global yang dianggap terafiliasi dengan Israel. “Sebaliknya masyarakat mulai beralih ke produk lokal, seperti Kopi Kapal Api, Le Minerale, D’Besto, Wardah hingga So Klin,” ujar dia.
Peneliti dari BRIN menyebutkan gerakan boikot ini memberikan ruang tumbuh yang luas bagi UMKM dan industri lokal. Fatwa MUI menjadi momentum penguatan ekonomi nasional berbasis etika konsumsi.
BRIN menilai produk nasional kini lebih dilirik karena dinilai berkualitas dan lebih menjamin kemandirian ekonomi. Indofood, Mayora, Wings, dan produsen lokal lainnya mengalami lonjakan permintaan


























