Fusilatnews – Di jalanan Jakarta hingga ke pelosok kota lain, Agustus 2025 tak hanya berisi gema peringatan kemerdekaan, tetapi juga jeritan dan darah rakyat. Aksi demonstrasi 25–28 Agustus yang semula dimaksudkan sebagai saluran aspirasi, berubah menjadi ladang kekerasan yang menorehkan luka panjang dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Komnas HAM mencatat 951 orang ditangkap aparat hanya dalam kurun tiga hari. Angka itu bukan sekadar statistik—ia adalah wajah para mahasiswa, buruh, ojol, hingga warga biasa yang mendadak direnggut kebebasannya. Aparat yang seharusnya menjaga hak konstitusional rakyat justru tampil sebagai bayangan kekuasaan yang menakutkan.
Lebih memilukan lagi, sedikitnya sepuluh orang meregang nyawa. Di Yogyakarta, Solo, Makassar, Semarang, Manokwari, hingga Jakarta, nama-nama mereka terhapus dari daftar hidup akibat kekerasan yang semestinya tak pernah terjadi. Salah satu yang paling menyayat hati: Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, tewas setelah dihantam kendaraan taktis Brimob. Tragedi yang mencerminkan betapa nyawa rakyat bisa diabaikan dalam hitungan detik.
Angka yang Membuka Luka
| Tanggal | Jumlah Penangkapan | Korban Jiwa* | Catatan Tambahan |
|---|---|---|---|
| 25 Agustus 2025 | 351 orang | – | Aksi besar di Jakarta dan kota besar lainnya, puluhan luka-luka |
| 28 Agustus 2025 | 600 orang | ≥10 orang | Termasuk tewasnya Affan Kurniawan, dugaan penggunaan kendaraan taktis dan gas air mata kadaluwarsa |
| Total | 951 orang | ≥10 orang | 28 aduan diterima Komnas HAM, sebagian besar terkait penangkapan sewenang-wenang |
*Data korban jiwa masih terus diverifikasi Komnas HAM, tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Makassar, Semarang, dan Manokwari.
Komnas HAM menegaskan bahwa telah terjadi dugaan penggunaan kekuatan berlebihan, pelanggaran HAM serius, dan penangkapan sewenang-wenang. Posko pengaduan pun dibuka, menerima 28 laporan resmi dari korban dan keluarga yang kehilangan arah mencari keadilan.
Sementara itu, Komnas Perempuan mengangkat suara lantang. Mereka mengecam pemukulan, pengeroyokan, hingga penggunaan gas air mata yang diduga sudah kadaluarsa. Kekerasan tak hanya menghantam peserta aksi, tetapi juga menyapu perempuan, anak, dan warga sekitar yang tak tahu-menahu soal politik jalanan.
Demokrasi yang Tercekik
Apakah demokrasi masih hidup ketika rakyat dibungkam dengan borgol dan gas air mata? Apakah negara ini masih punya ruang bagi perbedaan ketika setiap kritik dibalas dengan represi? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, menunggu jawaban jujur dari rezim yang sedang berkuasa.
Sejarah akan mencatat: pada 25–28 Agustus 2025, demokrasi Indonesia dipertontonkan di hadapan rakyat dan dunia, bukan dalam bentuk kebebasan, tetapi dalam rupa ketakutan dan darah.
Jika pemerintah terus membiarkan aparat berdiri di atas hukum, maka tragedi ini bukan yang terakhir. Ia hanya akan menjadi prolog dari babak baru pembungkaman yang lebih gelap.
























