FusilatNews- Hasil tes laboratorium suspek cacar monyet Jawa Tengah sudah keluar. Kementerian Kesehatan menyatakan pasien tersebut negatif cacar monyet atau monkeypox. Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril mengungkapkan saat ini pasien masih menjalani perawatan isolasi di salah satu rumah sakit di Jawa Tengah. Pasien tersebut diketahui merupakan seorang laki-laki berusia 55 tahun dan bukan Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN).
“Seorang laki-laki, 55 tahun, bukan PPLN, suspek monkeypox dan saat ini dirawat isolasi di RS Swasta di Jateng,” kata Syahril. Kemenkes dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah ke depannya akan melakukan pemeriksaan laboratorium dan PCR untuk memastikan apakah pasien tersebut terinfeksi cacar monyet atau virus lain.
Apa Itu Penyakit Cacar Monyet?
Seperti dilansir detik.com Dikutip dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), cacar monyet adalah penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus cacar monyet adalah bagian dari keluarga virus yang sama dengan virus variola, virus yang menyebabkan cacar.
Gejala cacar monyet mirip dengan gejala cacar biasa namun lebih ringan, jarang ditemukan kasus cacar monyet yang berakibat fatal. Selain itu, penyakit ini tidak berhubungan dengan cacar air.
Gejala dan Masa Inkubasi Cacar Monyet
Dalam keterangan tertulis dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang diterima detikcom beberapa waktu lalu, disebutkan periode inkubasi cacar monyet berlangsung selama 5 sampai 21 hari dengan rerata 6 sampai 16 hari.
Setelah melewati fase inkubasi, pasien akan mengalami gejala klinis berupa:
Demam tinggi
Nyeri kepala hebat
Limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening)
Nyeri punggung
Nyeri otot
Rasa lemah yang prominen
Dalam 1-3 hari setelah demam muncul, pasien akan mengalami bercak-bercak pada kulit. Gejala ini akan muncul dari wajah dan menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti tangan dan telapak kaki. Seiring berjalan waktu, bercak tersebut nantinya bakal berubah menjadi lesi kulit makulopapular, vesikel, dan pustule, yang dalam 10 hari akan berubah menjadi koreng.
Cara Penularan Cacar Monyet
dr Adityo Susilo, SpPD, KPTI, FINASIM dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) sekaligus pengurus pusat PETRI (Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi Indonesia), menjelaskan sejumlah cara penularan virus cacar monyet pada manusia. Menurutnya, virus cacar monyet menular melalui:
Kontak manusia dengan darah
Cairan tubuh
Lesi pada mukosa
Kulit hewan yang terinfeksi
Ibu ke janin melalui plasenta
“Adapun penularan antar manusia, diduga dapat terjadi sebagai akibat dari kontak erat dengan pasien yang terinfeksi secara langsung (direct close contact) melalui paparan terhadap sekresi saluran napas yang terinfeksi, kontak dengan lesi kulit pasien secara langsung, maupun berkontak dengan objek yang telah tercemar oleh cairan tubuh pasien,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (27/7)
“Selain itu, transmisi secara vertikal dari ibu ke janin melalui plasenta (infeksi Cacar Monyet kongenital) juga dimungkinkan,” sambung dr Adityo.
Asal-usul Cacar Monyet
Penyakit cacar monyet awalnya ditemukan pada tahun 1958 saat dua wabah penyakit, seperti cacar terjadi di koloni monyet yang dipelihara untuk penelitian. Meskipun dinamai “cacar monyet”, sumber penyakit ini masih tidak diketahui. Namun, hewan pengerat Afrika dan primata non-manusia (seperti monyet) kemungkinan menyimpan virus dan menginfeksi manusia.
Kasus cacar monyet pertama pada manusia tercatat pada tahun 1970. Sebelum wabah tahun 2022, cacar monyet telah dilaporkan pada orang-orang di beberapa negara Afrika tengah dan barat. Hampir semua kasus cacar monyet pada orang di luar Afrika terkait dengan pelaku perjalanan ke negara-negara yang mengalami wabah tersebut atau melalui hewan impor.























